Ilustrasi: meluaskan imajinasi dengan membaca sebuah buku [credit: patcasala.blogspot.com]

Hai, pembaca RiauJOS.com, apa kabar?  

Pada kesempatan kali ini, saya hendak membagikan pengalaman belajar menulis cerita, lebih spesifik menjelaskan cara menentukan tema, konflik, dan plot pada sebuah cerita. 

Tema merupakan sebuah unsur terpenting pada sebuah cerita, karena tanpa kejelasan tema, cerita akan susah dipahami pembaca. Nah, bagaimana sih cara menentukan tema, konflik, dan plot yang baik dan tepat? Yuk, simak!

1. Menentukan Tema


Menentukan tema sebuah cerita, langkah pertama dapat dilakukan dengan cara berimajinasi. Ya, tema bisa didapatkan dengan berimajinasi, tetapi berimajinasi bukan hanya melamun, karena berimajinasi bukan seperti menunggu datangnya wahyu dari langit, dan memang tidak semua lamunan dapat membuahkan cerita yang bagus untuk sebuah tema. Jangan menunggu datangnya ide, karena hanya akan membuang-buang waktu saja, tanpa berbuat apa pun. 

Gaya berimajinasi setiap pengarang itu berbeda, dan memang harus berbeda dari gaya berimajinasi orang awam. Orang awam pada umumnya ketika berimajinasi membawa pikiran entah kemana, pergi ke angkasa, memikirkan utang, memikirkan tagihan listrik, akhirnya tidak membuahkan ide, yang ada lama-kelamaan bisa menderita sakit kepala.

Berimajinasi yang baik, dilakukan dengan menjaga kesadaran, dan tetap menggunakan realita sebagai dasarnya, kecuali jika ingin mengarang kisah fantasi diluar nalar. Imajinasi bisa saja datang dan melayang dengan berbagai macam hal, misalnya ketika melihat buku sejarah di rak buku, kemudian menuangkan berbagai macam peristiwa sejarah, diracik dengan kisah-kisah luar biasa, atau ketika mendengar alunan musik band lawas untuk mengingatkan kenangan pada masa muda, bisa juga menulis cerita dengan tema ini.

Anda dapat menuangkan ide sesuai hobi sebagai tema dari tulisan, contohnya anda menyukai musik indie, buatlah sebuah cerita tentang kehidupan para pemusik indie, perjuangan mereka hingga musiknya bisa dikenal dunia. Intinya, tema bisa didapatkan dari berbagai hal, semua tergantung bagaimana menangkap dan memanfaatkan sebuah ide untuk dijadikan sebagai tema pada sebuah cerita.

2. Membangun Konflik


Ketika anda sudah mendapatkan gambaran tentang tema, maka selanjutnya bisa langsung merancang sebuah konflik dalam cerita. Konflik merupakan penjabaran dari ide. Jadi, jika anda berharap karya anda dinikmati dan dinilai bagus oleh pembaca, maka perlu membuat konflik yang kuat dan melibatkan emosi pembaca. 

Menurut para novelis, sebuah cerita tanpa konflik sama saja dengan dialog. Dialog pada sebuah pertemuan, tiada luapan emosi, tiada pula adu pendapat.

Pada beberapa kasus, seperti dialami para novelis atau pun penulis skenario sinetron misalnya, mereka kesulitan mengakhiri ceritanya. Hal ini terjadi karena konflik tidak dibangun dengan kuat ataupun pengarang bercerita terlalu melebar. Kondisi seperti ini membuat pengarang ‘terjebak’ dan kesulitan kembali ke alur utama cerita.

Pengarang diharuskan mengakhiri semua konflik. Jadi, jika anda terlalu banyak menempatkan konflik hampir pada setiap tokoh, maka anda dituntut juga untuk mengakhirinya. Jika konflik-konflik tidak diselesaikan, maka pembaca akan merasa, bahwa cerita hanya membuang-buang waktu, manakala konflik di pemeran tambahannya itu tetap menggantung ketika konflik si tokoh utama sudah selesai.

3. Merancang Plot

Plot merupakan aliran peristiwa di dalam sebuah cerita, terjadi secara berkesinambungan dan saling berhubungan. Contoh sebuah plot dapat dijelaskan pada peristiwa berikut ini.

Cerita diawali dengan kisah seorang pemuda yang bertemu gadis cantik di negara tetangga manakala si pemuda itu sedang melakukan perjalanan bisnis, singkat cerita mereka menjalani hubungan asmara. Namun sebuah peristiwa menjadi hambatan bagi hubungan mereka, yakni si lelaki mengakhiri bisnisnya dan kembali ke negaranya. 
Pemuda itu kemudian mengajak si gadis untuk ikut bersamanya dan segera bertunangan, tetapi sebuah masalah kembali muncul karena orang tua si gadis tidak merestuinya karena ternyata orang tua gadis itu tidak mengizinkannya. Selidik punya selidik ternyata orangtua si gadis menaruh dendam pada negara si lelaki itu karena dahulu negaranya dijajah oleh negara si lelaki. Dendam lama ini membuat si gadis diminta untuk menjauhi pemuda itu. 
Pemuda itu pulang kembali ke negaranya dengan hati kacau, kemudian ketika ia membongkar arsip keluarganya, ia mengetahui jika ternyata kakeknya yang seorang tentara itu pada waktu menjajah negara si gadis dahulu mempunyai istri disana dan ternyata orangtua gadis itu adalah keturunan kakeknya yang menikah dengan orang pribumi waktu itu.

Sebagai seorang pengarang, anda bisa membawa cerita kemana pun, bisa melanjutkan jika si pemuda ini menjadi gila karena peristiwa masa lalu kakeknya itu atau bisa juga menceritakan jika si pemuda ini menculik gadis itu, lalu pergi menikah di sebuah negeri antah berantah. Semua tergantung kepada pengarang, biarkan imajinasi membantu.

Sebagai seorang pengarang, anda bisa mengatur semuanya, layaknya seorang dalang atau bahkan dalam kasarnya berperilaku sebagai "tuhan". Anda bisa membuat tokoh utama mati keracunan, menjadi gila, atau membuat keadaan dunia di dalam cerita  mengalami hujan meteor amat dahsyat.

Sebaiknya, dalam menulis sebuah cerita tetap berpatokan pada logika, karena pembaca akan kesulitan memahami jalan cerita, jika mengarang peristiwa diluar nalar, misalnya seorang manusia bisa memakan matahari. Jikalau pun ada peristiwa dalam cerita diluar nalar, maka anda bisa memberi sedikit penjelasan layaknya film sains fiksi.

Belajar Menulis Cerita: Menentukan Tema, Konflik dan Plot

Ilustrasi: meluaskan imajinasi dengan membaca sebuah buku [credit: patcasala.blogspot.com]

Hai, pembaca RiauJOS.com, apa kabar?  

Pada kesempatan kali ini, saya hendak membagikan pengalaman belajar menulis cerita, lebih spesifik menjelaskan cara menentukan tema, konflik, dan plot pada sebuah cerita. 

Tema merupakan sebuah unsur terpenting pada sebuah cerita, karena tanpa kejelasan tema, cerita akan susah dipahami pembaca. Nah, bagaimana sih cara menentukan tema, konflik, dan plot yang baik dan tepat? Yuk, simak!

1. Menentukan Tema


Menentukan tema sebuah cerita, langkah pertama dapat dilakukan dengan cara berimajinasi. Ya, tema bisa didapatkan dengan berimajinasi, tetapi berimajinasi bukan hanya melamun, karena berimajinasi bukan seperti menunggu datangnya wahyu dari langit, dan memang tidak semua lamunan dapat membuahkan cerita yang bagus untuk sebuah tema. Jangan menunggu datangnya ide, karena hanya akan membuang-buang waktu saja, tanpa berbuat apa pun. 

Gaya berimajinasi setiap pengarang itu berbeda, dan memang harus berbeda dari gaya berimajinasi orang awam. Orang awam pada umumnya ketika berimajinasi membawa pikiran entah kemana, pergi ke angkasa, memikirkan utang, memikirkan tagihan listrik, akhirnya tidak membuahkan ide, yang ada lama-kelamaan bisa menderita sakit kepala.

Berimajinasi yang baik, dilakukan dengan menjaga kesadaran, dan tetap menggunakan realita sebagai dasarnya, kecuali jika ingin mengarang kisah fantasi diluar nalar. Imajinasi bisa saja datang dan melayang dengan berbagai macam hal, misalnya ketika melihat buku sejarah di rak buku, kemudian menuangkan berbagai macam peristiwa sejarah, diracik dengan kisah-kisah luar biasa, atau ketika mendengar alunan musik band lawas untuk mengingatkan kenangan pada masa muda, bisa juga menulis cerita dengan tema ini.

Anda dapat menuangkan ide sesuai hobi sebagai tema dari tulisan, contohnya anda menyukai musik indie, buatlah sebuah cerita tentang kehidupan para pemusik indie, perjuangan mereka hingga musiknya bisa dikenal dunia. Intinya, tema bisa didapatkan dari berbagai hal, semua tergantung bagaimana menangkap dan memanfaatkan sebuah ide untuk dijadikan sebagai tema pada sebuah cerita.

2. Membangun Konflik


Ketika anda sudah mendapatkan gambaran tentang tema, maka selanjutnya bisa langsung merancang sebuah konflik dalam cerita. Konflik merupakan penjabaran dari ide. Jadi, jika anda berharap karya anda dinikmati dan dinilai bagus oleh pembaca, maka perlu membuat konflik yang kuat dan melibatkan emosi pembaca. 

Menurut para novelis, sebuah cerita tanpa konflik sama saja dengan dialog. Dialog pada sebuah pertemuan, tiada luapan emosi, tiada pula adu pendapat.

Pada beberapa kasus, seperti dialami para novelis atau pun penulis skenario sinetron misalnya, mereka kesulitan mengakhiri ceritanya. Hal ini terjadi karena konflik tidak dibangun dengan kuat ataupun pengarang bercerita terlalu melebar. Kondisi seperti ini membuat pengarang ‘terjebak’ dan kesulitan kembali ke alur utama cerita.

Pengarang diharuskan mengakhiri semua konflik. Jadi, jika anda terlalu banyak menempatkan konflik hampir pada setiap tokoh, maka anda dituntut juga untuk mengakhirinya. Jika konflik-konflik tidak diselesaikan, maka pembaca akan merasa, bahwa cerita hanya membuang-buang waktu, manakala konflik di pemeran tambahannya itu tetap menggantung ketika konflik si tokoh utama sudah selesai.

3. Merancang Plot

Plot merupakan aliran peristiwa di dalam sebuah cerita, terjadi secara berkesinambungan dan saling berhubungan. Contoh sebuah plot dapat dijelaskan pada peristiwa berikut ini.

Cerita diawali dengan kisah seorang pemuda yang bertemu gadis cantik di negara tetangga manakala si pemuda itu sedang melakukan perjalanan bisnis, singkat cerita mereka menjalani hubungan asmara. Namun sebuah peristiwa menjadi hambatan bagi hubungan mereka, yakni si lelaki mengakhiri bisnisnya dan kembali ke negaranya. 
Pemuda itu kemudian mengajak si gadis untuk ikut bersamanya dan segera bertunangan, tetapi sebuah masalah kembali muncul karena orang tua si gadis tidak merestuinya karena ternyata orang tua gadis itu tidak mengizinkannya. Selidik punya selidik ternyata orangtua si gadis menaruh dendam pada negara si lelaki itu karena dahulu negaranya dijajah oleh negara si lelaki. Dendam lama ini membuat si gadis diminta untuk menjauhi pemuda itu. 
Pemuda itu pulang kembali ke negaranya dengan hati kacau, kemudian ketika ia membongkar arsip keluarganya, ia mengetahui jika ternyata kakeknya yang seorang tentara itu pada waktu menjajah negara si gadis dahulu mempunyai istri disana dan ternyata orangtua gadis itu adalah keturunan kakeknya yang menikah dengan orang pribumi waktu itu.

Sebagai seorang pengarang, anda bisa membawa cerita kemana pun, bisa melanjutkan jika si pemuda ini menjadi gila karena peristiwa masa lalu kakeknya itu atau bisa juga menceritakan jika si pemuda ini menculik gadis itu, lalu pergi menikah di sebuah negeri antah berantah. Semua tergantung kepada pengarang, biarkan imajinasi membantu.

Sebagai seorang pengarang, anda bisa mengatur semuanya, layaknya seorang dalang atau bahkan dalam kasarnya berperilaku sebagai "tuhan". Anda bisa membuat tokoh utama mati keracunan, menjadi gila, atau membuat keadaan dunia di dalam cerita  mengalami hujan meteor amat dahsyat.

Sebaiknya, dalam menulis sebuah cerita tetap berpatokan pada logika, karena pembaca akan kesulitan memahami jalan cerita, jika mengarang peristiwa diluar nalar, misalnya seorang manusia bisa memakan matahari. Jikalau pun ada peristiwa dalam cerita diluar nalar, maka anda bisa memberi sedikit penjelasan layaknya film sains fiksi.