Social Items

Lihatlah sekitar, Bakso Bakar sudah Menjalar
Bakso Bakar makanan selera anak-anak kita, sudah mengakar dan merata menyebar

RiauJOS.com, Editorial - Setiap tahun kita merayakan hari raya Idul Adha, ditandai dengan penyembelihan hewan kurban, sapi, kambing, dan domba. Tahun ini perayaan hari raya Idul Adha jatuh pada tanggal 12 September 2016. Umat muslim melaksanakan kegiatan rutih tahunan, menyembelih hewan kurban dan memeratakan daging kepada siapapun orang.

Pernahkan anda memperhatikan fenomena maraknya penjual Bakso Bakar? Dimanapun anda berada, khususnya di kota-kota besar, bahkan di pelosok desa terlihat Bakso Bakar menyuplai kebutuhan daging kepada anak-anak kita di sekolah.

Bakso Bakar dibaderol dengan harga Rp.1000 per tusuk, ada tiga gelinding Bakso dalam satu tusuk. Ini sesuai ukuran kantong anak-anak kita, mereka dengan mudah mendapatkan Bakso Bakar, karena memang harga terjangkau. 

Fenomena ini menunjukan, bahwa kebutuhan akan daging telah dipenuhi oleh penjual Bakso Bakar. Mereka mengemas kebutuhan akan gizi daging kepada anak-anak kita dengan cara sederhana. Menguleni tepung dan diberi aroma daging, hingga Bakso Bakar berasa ada dagingnya, meskipun tidak benar-benar berbahan dasar daging betulan, namun cukup untuk menggembirakan anak-anak kita makan daging dalam satu tusuk Bakso Bakar.

Pada peringatan Idul Adha, daging dimeratakan oleh orang-orang yang punya kekuatan untuk berkurban. Gizi orang-orang yang tak mampu beli daging di hari biasa dipenuhi, semua orang bergembira menyantap daging sesuai selera, ada disate, dibikin bakso, dibikin sup, dibikin apa saja sesuai selera masing-masing.

Bagi warga miskin, menerima daging saja, dan tak punya pilihan lain untuk membuat menu daging sesuai selera. Mereka memasak daging sesuai kondisi terkini dapur, misalnya didapur hanya ada garam, maka dibuatlah menu daging garam. Kalau mampu beli kecap, menu sate kecap bisa dibuat.

Itulah seklumit pemerataan daging di hari raya Idul Adha, bergembira setahun sekali berpesta daging karena kisah nabi Ismail orang miskin jadi bisa makan daging. Banyak hikmah diceritakan menjelang perayaan Idul Adha, kita diingatkan agar selalu taat dan patuh kepada Allah SWT, dan selalu bertawakal dalam menjalani kehidupan ini.

Perhiasan dunia seperti anak dan istri, tak lebih berarti daripada melaksanakan perintah Allah SWT, untuk kemudian mendapatkan kesuksesan akhirat, dan dapat pula kesuksesan dunia. Apabila kita menuruti perintah Allah SWT, akhirat dapat, dunia pun dapat, sebaliknya menuruti hasrat dunia, dunia dapat, akhirat belum tentu.

Sementara, Bakso Bakar kini kian menjalar, disaat kebutuhan akan daging tak lagi menyebar. Apakah hal ini akan terus dibiarkan? disaat anak-anak kita membutuhkan gizi dari daging untuk pertumbuhan masa perkembangan?

Seribu rupiah per tusuk sesuai ukuran kantong anak-anak kita
Satu tusuk Bakso Bakar dibanderol Rp.1000, foto diatas Bukan Bakso Bakar, tapi Tempura goreng, harga Seribu juga

Pada editorial kali ini, RiauJOS.com mengemukakan solusi agar pemerataan daging terus menyebar, tidak hanya sekali setahun di hari raya Idul Adha, namun setiap waktu terus merata. Langkah pertama, bagi siapapun anda, yang merasa berkelebihan dan mampu membeli daging, ratakanlah kebutuhan akan daging dengan cara menghubungi penjual bakso bakar, agar komposisi daging dilebihkan daripada jumlah tepung, sehingga kualitas bakso bakar semakin meningkat.

Langkah kedua, perlu dukungan pemerintah untuk mendata jumlah penjual Bakso Bakar, yang perkembangannya dari hari ke hari semakin bertumbuh, dan menjalar mulai dari kota, hingga ke pelosok desa.

Langkah ketiga, setelah mendapatkan jumlah data penjual Bakso Bakar, pemerintah diharapkan menyalurkan daging kepada penjual Bakso Bakar, dan mewajibkan menambah porsi daging daripada tepung.

Langkah keempat, sudah.. itu dulu, yang penting bergerak untuk memeratakan daging melalui penjual Bakso Bakar.

Bakso Bakar mampu mengalirkan dengan maksimal kebutuhan daging kepada anak-anak kita. Jika kualitas Bakso Bakar sudah bagus, tentu anak-anak kita akan tumbuh sehat dan kuat karena cukup asupan daging yang berkualitas, tidak hanya merasai aroma daging di dalam Bakso Bakar, namun sudah benar-benar terasupi daging melalui konsumis Bakso Bakar asli daging.

Bakso Bakar Solusi Pemerataan Daging

Lihatlah sekitar, Bakso Bakar sudah Menjalar
Bakso Bakar makanan selera anak-anak kita, sudah mengakar dan merata menyebar

RiauJOS.com, Editorial - Setiap tahun kita merayakan hari raya Idul Adha, ditandai dengan penyembelihan hewan kurban, sapi, kambing, dan domba. Tahun ini perayaan hari raya Idul Adha jatuh pada tanggal 12 September 2016. Umat muslim melaksanakan kegiatan rutih tahunan, menyembelih hewan kurban dan memeratakan daging kepada siapapun orang.

Pernahkan anda memperhatikan fenomena maraknya penjual Bakso Bakar? Dimanapun anda berada, khususnya di kota-kota besar, bahkan di pelosok desa terlihat Bakso Bakar menyuplai kebutuhan daging kepada anak-anak kita di sekolah.

Bakso Bakar dibaderol dengan harga Rp.1000 per tusuk, ada tiga gelinding Bakso dalam satu tusuk. Ini sesuai ukuran kantong anak-anak kita, mereka dengan mudah mendapatkan Bakso Bakar, karena memang harga terjangkau. 

Fenomena ini menunjukan, bahwa kebutuhan akan daging telah dipenuhi oleh penjual Bakso Bakar. Mereka mengemas kebutuhan akan gizi daging kepada anak-anak kita dengan cara sederhana. Menguleni tepung dan diberi aroma daging, hingga Bakso Bakar berasa ada dagingnya, meskipun tidak benar-benar berbahan dasar daging betulan, namun cukup untuk menggembirakan anak-anak kita makan daging dalam satu tusuk Bakso Bakar.

Pada peringatan Idul Adha, daging dimeratakan oleh orang-orang yang punya kekuatan untuk berkurban. Gizi orang-orang yang tak mampu beli daging di hari biasa dipenuhi, semua orang bergembira menyantap daging sesuai selera, ada disate, dibikin bakso, dibikin sup, dibikin apa saja sesuai selera masing-masing.

Bagi warga miskin, menerima daging saja, dan tak punya pilihan lain untuk membuat menu daging sesuai selera. Mereka memasak daging sesuai kondisi terkini dapur, misalnya didapur hanya ada garam, maka dibuatlah menu daging garam. Kalau mampu beli kecap, menu sate kecap bisa dibuat.

Itulah seklumit pemerataan daging di hari raya Idul Adha, bergembira setahun sekali berpesta daging karena kisah nabi Ismail orang miskin jadi bisa makan daging. Banyak hikmah diceritakan menjelang perayaan Idul Adha, kita diingatkan agar selalu taat dan patuh kepada Allah SWT, dan selalu bertawakal dalam menjalani kehidupan ini.

Perhiasan dunia seperti anak dan istri, tak lebih berarti daripada melaksanakan perintah Allah SWT, untuk kemudian mendapatkan kesuksesan akhirat, dan dapat pula kesuksesan dunia. Apabila kita menuruti perintah Allah SWT, akhirat dapat, dunia pun dapat, sebaliknya menuruti hasrat dunia, dunia dapat, akhirat belum tentu.

Sementara, Bakso Bakar kini kian menjalar, disaat kebutuhan akan daging tak lagi menyebar. Apakah hal ini akan terus dibiarkan? disaat anak-anak kita membutuhkan gizi dari daging untuk pertumbuhan masa perkembangan?

Seribu rupiah per tusuk sesuai ukuran kantong anak-anak kita
Satu tusuk Bakso Bakar dibanderol Rp.1000, foto diatas Bukan Bakso Bakar, tapi Tempura goreng, harga Seribu juga

Pada editorial kali ini, RiauJOS.com mengemukakan solusi agar pemerataan daging terus menyebar, tidak hanya sekali setahun di hari raya Idul Adha, namun setiap waktu terus merata. Langkah pertama, bagi siapapun anda, yang merasa berkelebihan dan mampu membeli daging, ratakanlah kebutuhan akan daging dengan cara menghubungi penjual bakso bakar, agar komposisi daging dilebihkan daripada jumlah tepung, sehingga kualitas bakso bakar semakin meningkat.

Langkah kedua, perlu dukungan pemerintah untuk mendata jumlah penjual Bakso Bakar, yang perkembangannya dari hari ke hari semakin bertumbuh, dan menjalar mulai dari kota, hingga ke pelosok desa.

Langkah ketiga, setelah mendapatkan jumlah data penjual Bakso Bakar, pemerintah diharapkan menyalurkan daging kepada penjual Bakso Bakar, dan mewajibkan menambah porsi daging daripada tepung.

Langkah keempat, sudah.. itu dulu, yang penting bergerak untuk memeratakan daging melalui penjual Bakso Bakar.

Bakso Bakar mampu mengalirkan dengan maksimal kebutuhan daging kepada anak-anak kita. Jika kualitas Bakso Bakar sudah bagus, tentu anak-anak kita akan tumbuh sehat dan kuat karena cukup asupan daging yang berkualitas, tidak hanya merasai aroma daging di dalam Bakso Bakar, namun sudah benar-benar terasupi daging melalui konsumis Bakso Bakar asli daging.