Social Items

Menunggang Amarah mampu melejitkan siapa saja termasuk Ahok
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok mengenakan pakaian kotak-kotak di bungkus jas merah

RiauJOS.com, Editorial - Editorial RiauJOS.com hari ini, Rabu, 21 September 2016 sebenarnya sudah ditulis kemarin Selasa, dan baru sekarang ini RiauJOS.com dapat bersuara untuk mengomentari dan sedikit memberikan pencerahan kepada segenap pembaca RiauJOS.com.

Berikut editorial RiauJOS.com yang ditulis Selasa kemarin.

Amarah merupakan energi paling kuat yang bisa dilakukan manusia pada saat tidak menyukai akan suatu hal. Kemarahan membuat manusia memusatkan energinya untuk dikeluarkan pada obyek kemarahannya sedangkan obyek kemarahan tidak memerlukan energi untuk menyerap energi kemarahan, jika mampu bersabar dan ikhlas diberi marah.

Gubernur Basuki Tjahaya Purnama atau terkenal dengan sebutan Ahok, seringkali diuntungkan dengan energi kemarahan dari segala penjuru. Ada dari tokoh partai, agama, pemerintahan, dan bahkan rakyat biasa.

Energi kemarahan tidak membuat Ahok jadi melemah, malah sebaliknya semakin terangkat kelangit kekuatan engerginya, karena apa yang dimarahkan menjadi tumpangan Ahok untuk melenggang ke langit diatas energi kemarahan.

Melalui tulisan ini, RiauJOS.com ingin memberikan masukan kepada seluruh elemen yang selalu saja memusatkan energi marah untuk diberikan kepada Ahok.

Bagi yang ingin berlaga di Pilgub DKI dan ingin memenangkan perlombaan, tidak perlu menyediakan waktu untuk berpikir tentang Ahok, apalagi marah atas apa yang dilakukan Ahok, dengan mengomentari apapun yang dilakukan Ahok.

Kalau sudah demikian, energi Ahok akan melemah, karena sudah tidak ada lagi yang marah dengan Ahok. Hasilnya, lihat saja nanti, Ahok tidak akan populer, dan tidak akan berenergi seperti sekarang ini, menunggangi kemarahan untuk melompat lebih tinggi.

RiauJOS.com dalam hal ini bersikap netral, tidak memperturutkan kemarahan kepada Ahok, apalagi heboh memberitakan Ahok, hanya saja fokus pada pemusatan energi untuk memenangkan perlombaan apapun di dunia ini.

Dan berikut, tambahan untuk hari ini.

Tersiar kabar, Ahok benar-benar sudah melenggang dengan hati riang pasca menandatangani kontrak politik dengan PDI Perjuangan, tertuang dalam Dasa Presetya atau Sepuluh Janji Setia, isinya sebagai berikut, mohon dicatat untuk digunakan sebagai bahan evaluasi pada saat memimpin lagi Jakarta kedepan.

1. Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan UUD 1945, serta menjaga kebhinekaan bangsa.

2. Memperkokoh kegotong-royongan rakyat dalam memecahkan masalah bersama.

3. Memperkuat ekonomi rakyat melalui penataan sistem produksi, reforma agraria, pemberian proteksi, perluasan akses pasar, dan permodalan.

4. Menyediakan pangan dan perumahan yang sehat dan layak bagi rakyat.

5. Membebaskan biaya berobat dan biaya pendidikan bagi rakyat.

6. Memberikan pelayanan umum secara pasti, cepat, dan murah.

7. Melestarikan lingkungan hidup dan sumber daya alam, serta menerapkan aturan tata ruang secara konsisten.

8. Mereformasi birokrasi pemerintahan dalam membangun tata pemerintahan yang baik, bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

9. Menegakkan prinsip-prinsip demokrasi partisipatoris dalam proses pengambilan keputusan.

10. Menegakkan hukum dengan menjunjung tinggi asas keadilan dan hak asasi manusia.

8. Mereformasi birokrasi pemerintahan dalam membangun tata pemerintahan yang baik, bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

9. Menegakkan prinsip-prinsip demokrasi partisipatoris dalam proses pengambilan keputusan.

10. Menegakkan hukum dengan menjunjung tinggi asas keadilan dan hak asasi manusia.

Dengan itu semua, menegaskan bahwa empat partai pendukung Ahok dan Djarot, PDI-P, Golkar, Hanura dan NasDem sudah sepakat untuk mengusungnya, dan keempat partai tersebut tentu memahami kekuatan amarah pesaing Ahok, untuk menjadikannya tetap berenergi. Dan kita ikut saja, apa yang akan terjadi, akankah Ahok akan memenangkan perlombaan ini, atau sebaliknya.

Sampai dengan hari ini, para pengamat dan lawan politik sedang bersenda gurau dengan isu-isu yang lebih bermuatan amarah, dan pikiran negatif untuk tidak memilih Ahok, hal itu benar-benar akan membuat Ahok semakin berenergi, bukan sebaliknya. Mari kita buktikan sama-sama.

Ahok Melenggang Diatas Kemarahan Lawan

Menunggang Amarah mampu melejitkan siapa saja termasuk Ahok
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok mengenakan pakaian kotak-kotak di bungkus jas merah

RiauJOS.com, Editorial - Editorial RiauJOS.com hari ini, Rabu, 21 September 2016 sebenarnya sudah ditulis kemarin Selasa, dan baru sekarang ini RiauJOS.com dapat bersuara untuk mengomentari dan sedikit memberikan pencerahan kepada segenap pembaca RiauJOS.com.

Berikut editorial RiauJOS.com yang ditulis Selasa kemarin.

Amarah merupakan energi paling kuat yang bisa dilakukan manusia pada saat tidak menyukai akan suatu hal. Kemarahan membuat manusia memusatkan energinya untuk dikeluarkan pada obyek kemarahannya sedangkan obyek kemarahan tidak memerlukan energi untuk menyerap energi kemarahan, jika mampu bersabar dan ikhlas diberi marah.

Gubernur Basuki Tjahaya Purnama atau terkenal dengan sebutan Ahok, seringkali diuntungkan dengan energi kemarahan dari segala penjuru. Ada dari tokoh partai, agama, pemerintahan, dan bahkan rakyat biasa.

Energi kemarahan tidak membuat Ahok jadi melemah, malah sebaliknya semakin terangkat kelangit kekuatan engerginya, karena apa yang dimarahkan menjadi tumpangan Ahok untuk melenggang ke langit diatas energi kemarahan.

Melalui tulisan ini, RiauJOS.com ingin memberikan masukan kepada seluruh elemen yang selalu saja memusatkan energi marah untuk diberikan kepada Ahok.

Bagi yang ingin berlaga di Pilgub DKI dan ingin memenangkan perlombaan, tidak perlu menyediakan waktu untuk berpikir tentang Ahok, apalagi marah atas apa yang dilakukan Ahok, dengan mengomentari apapun yang dilakukan Ahok.

Kalau sudah demikian, energi Ahok akan melemah, karena sudah tidak ada lagi yang marah dengan Ahok. Hasilnya, lihat saja nanti, Ahok tidak akan populer, dan tidak akan berenergi seperti sekarang ini, menunggangi kemarahan untuk melompat lebih tinggi.

RiauJOS.com dalam hal ini bersikap netral, tidak memperturutkan kemarahan kepada Ahok, apalagi heboh memberitakan Ahok, hanya saja fokus pada pemusatan energi untuk memenangkan perlombaan apapun di dunia ini.

Dan berikut, tambahan untuk hari ini.

Tersiar kabar, Ahok benar-benar sudah melenggang dengan hati riang pasca menandatangani kontrak politik dengan PDI Perjuangan, tertuang dalam Dasa Presetya atau Sepuluh Janji Setia, isinya sebagai berikut, mohon dicatat untuk digunakan sebagai bahan evaluasi pada saat memimpin lagi Jakarta kedepan.

1. Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, dan UUD 1945, serta menjaga kebhinekaan bangsa.

2. Memperkokoh kegotong-royongan rakyat dalam memecahkan masalah bersama.

3. Memperkuat ekonomi rakyat melalui penataan sistem produksi, reforma agraria, pemberian proteksi, perluasan akses pasar, dan permodalan.

4. Menyediakan pangan dan perumahan yang sehat dan layak bagi rakyat.

5. Membebaskan biaya berobat dan biaya pendidikan bagi rakyat.

6. Memberikan pelayanan umum secara pasti, cepat, dan murah.

7. Melestarikan lingkungan hidup dan sumber daya alam, serta menerapkan aturan tata ruang secara konsisten.

8. Mereformasi birokrasi pemerintahan dalam membangun tata pemerintahan yang baik, bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

9. Menegakkan prinsip-prinsip demokrasi partisipatoris dalam proses pengambilan keputusan.

10. Menegakkan hukum dengan menjunjung tinggi asas keadilan dan hak asasi manusia.

8. Mereformasi birokrasi pemerintahan dalam membangun tata pemerintahan yang baik, bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

9. Menegakkan prinsip-prinsip demokrasi partisipatoris dalam proses pengambilan keputusan.

10. Menegakkan hukum dengan menjunjung tinggi asas keadilan dan hak asasi manusia.

Dengan itu semua, menegaskan bahwa empat partai pendukung Ahok dan Djarot, PDI-P, Golkar, Hanura dan NasDem sudah sepakat untuk mengusungnya, dan keempat partai tersebut tentu memahami kekuatan amarah pesaing Ahok, untuk menjadikannya tetap berenergi. Dan kita ikut saja, apa yang akan terjadi, akankah Ahok akan memenangkan perlombaan ini, atau sebaliknya.

Sampai dengan hari ini, para pengamat dan lawan politik sedang bersenda gurau dengan isu-isu yang lebih bermuatan amarah, dan pikiran negatif untuk tidak memilih Ahok, hal itu benar-benar akan membuat Ahok semakin berenergi, bukan sebaliknya. Mari kita buktikan sama-sama.