Jessica Kumala Wongso
Jessica Kumala Wongso

RiauJOS.com, Jakarta - Saksi ahli psikiatri Natalia Widiasih Raharjanti, mengungkap fakta baru dalam persidangan lanjutan kasus kopi beracun sianida yang menewaskan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada kamis, 18 agustus 2016 lalu.

Hasil pemeriksaan tim psikiatri yang melakukan pemeriksaan kejiwaan terdakwa Jessica pada tanggal 11 sampai 16 Februari 2016 lalu menyimpulkan, tidak ada gangguan jiwa berat pada Jessica. Terang Natalia.

"Pemeriksaan terdiri dari wawancara tim untuk menanyakan apa yang terjadi dengan dirinya, apa yang dirasakannya. Kemudian, kami periksa data-datanya," ujar Natalia, di PN Jakarta Pusat.

Ia menegaskan, tim juga melakukan pemeriksaan psikologis melihat kondisi intelektual Jessica, pola pikirnya, dan lainnya. "Secara kognitif cara berpikir Jessica sangat baik dan tidak ada gangguan mental," katanya.

"Jessica cukup tenang dan memiliki pola pikir yang sangat baik. Namun, ada tergambar yang bersangkutan sangat berhati-hati dan takut". Ulas Natalia.

"Jessica baik-baik saja pada 2008-2009. Bulan-bulan akhir 2015 dia banyak masalah, berdasarkan analisa kami," ungkap Natalia dalam sidang Jessica di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Saat dalam kondisi banyak masalah dan tekanan, Jessica cenderung bersikap agresif secara tiba-tiba baik terhadap diri sendiri atau pun orang lain. Ujar Psikiater dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu menjelaskan.

Selanjutnya, "Data dari kepolisian New South Wales yang kami dapatkan, kalau ada tekanan misalnya putus pacar atau terkait relasi, kecenderungan agresifitas itu muncul," lanjut Natalia.

Menurut Natalia, kondisi Jessica dalam kehidupan sehari-hari seperti di tempat kerja, dapat dikatakan normal jika tidak berada dalam tekanan.

"Dia normal, tetapi dalam situasi tekanan ini bisa muncul kelihatan emosinya bisa bentuknya marah atau menyakiti diri," jelasnya.

Psikiater forensik dr Natalia Widiasih Raharjanti mengatakan terdakwa Jessica Kumala Wongso dalam kasus kematian Wayan Mirna Salihin, memiliki banyak persoalan pada akhir 2015. (Gps)

Psikiater: Jessica Normal, Tapi Emosi Tidak Stabil

Jessica Kumala Wongso
Jessica Kumala Wongso

RiauJOS.com, Jakarta - Saksi ahli psikiatri Natalia Widiasih Raharjanti, mengungkap fakta baru dalam persidangan lanjutan kasus kopi beracun sianida yang menewaskan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada kamis, 18 agustus 2016 lalu.

Hasil pemeriksaan tim psikiatri yang melakukan pemeriksaan kejiwaan terdakwa Jessica pada tanggal 11 sampai 16 Februari 2016 lalu menyimpulkan, tidak ada gangguan jiwa berat pada Jessica. Terang Natalia.

"Pemeriksaan terdiri dari wawancara tim untuk menanyakan apa yang terjadi dengan dirinya, apa yang dirasakannya. Kemudian, kami periksa data-datanya," ujar Natalia, di PN Jakarta Pusat.

Ia menegaskan, tim juga melakukan pemeriksaan psikologis melihat kondisi intelektual Jessica, pola pikirnya, dan lainnya. "Secara kognitif cara berpikir Jessica sangat baik dan tidak ada gangguan mental," katanya.

"Jessica cukup tenang dan memiliki pola pikir yang sangat baik. Namun, ada tergambar yang bersangkutan sangat berhati-hati dan takut". Ulas Natalia.

"Jessica baik-baik saja pada 2008-2009. Bulan-bulan akhir 2015 dia banyak masalah, berdasarkan analisa kami," ungkap Natalia dalam sidang Jessica di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Saat dalam kondisi banyak masalah dan tekanan, Jessica cenderung bersikap agresif secara tiba-tiba baik terhadap diri sendiri atau pun orang lain. Ujar Psikiater dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) itu menjelaskan.

Selanjutnya, "Data dari kepolisian New South Wales yang kami dapatkan, kalau ada tekanan misalnya putus pacar atau terkait relasi, kecenderungan agresifitas itu muncul," lanjut Natalia.

Menurut Natalia, kondisi Jessica dalam kehidupan sehari-hari seperti di tempat kerja, dapat dikatakan normal jika tidak berada dalam tekanan.

"Dia normal, tetapi dalam situasi tekanan ini bisa muncul kelihatan emosinya bisa bentuknya marah atau menyakiti diri," jelasnya.

Psikiater forensik dr Natalia Widiasih Raharjanti mengatakan terdakwa Jessica Kumala Wongso dalam kasus kematian Wayan Mirna Salihin, memiliki banyak persoalan pada akhir 2015. (Gps)