Bantu negara dengan berkontribusi nyata bersama RiauJOS.com
Meme ArtWork RiauJOS.com edisi September 2016
RiauJOS.com, Editorial - Meme diatas, ArtWork untuk memberikan ilustrasi nyata, bahwa negara-negara di dunia sudah kepayahan mengelola warganya, karena kecepatan teknologi informasi yang tak terbendung lagi.

Editorial RiauJOS.com, edisi Rabu, 31 Agustus 2016, mencoba membuka data-data litbang RiauJOS.com yang dihimpun mulai tahun 2000, semasa RiauJOS.com belum dilahirkan, dan benih-benihnya pun belum dideteksi dokter peramban website.

Berdasarkan data litbang RiauJOS.com, pengguna dan pecandu teknologi informasi meningkat tajam, persentase melampaui dugaan para ilmuwan sosial. Mereka seolah terperanjah, dugaan sementara yang mereka bayangkan, ternyata menjadi nyata, bahkan lebih-lebih, lebih meningkat, dan semakin tak tergoyahkan peningkatan tajam setajam tanjakan jebol, dengan sudut kemiringan hampir 90 derajat.

Bagaimana bisa berdaya, kecepatan penyebaran informasi sudah melampaui kecepatan pembuat regulasi, kebijakan seolah lewat, karena pecandu informasi terus berbagi informasi dalam hitungan mili detik, dan ini membuat detik.com, menjadi tempat pencarian informasi yang sesuai zaman, haus kecepatan, bernafsu menjadi terdepan, dan sangat pragmatis untuk mengatasi situasi yang memang butuh kecepatan pengambilan keputusan tanpa berpikir panjang.

Walhasil, semua keputusan jadi "awut-awutan" alias banyak perbaikan, dan terus direvisi. Kita semua memahami, jumlah pengelola negara, dalam hal ini disebut pemerintah, sangat terbatas, dibandingkan warga manusia yang sudah terhimpun menjangkau ketrampilan negara-negara mengelola warganya.

Kita orang Indonesia, bisa langsung bertanya dengan orang Amerika, tanpa izin pemerintah. Apapun hal baru di dunia, dapat disebarluaskan dengan segera dengan perangkat murah, ponsel cerdas yang sekarang ini sudah menjadi barang biasa, karena semua orang dengan mudah membelinya, asal punya uang ratusan ribu, sudah bisa mengetahui semua isi dunia dengan cara membuka aplikasi pencarian informasi.

Setiap manusia, menjadi semakin spesifik dengan keahliaannya, dan tidak ada lagi seorang manusia, yang mampu menguasai berbagai bidang ilmu yang perkembangannya tidak bisa di rem, jalan terus sesuai kejiwaan masing-masing individu.

Apa yang bisa dilakukan negara, khususnya pemerintah Indonesia?

Nah, dari pertanyaan diatas, editorial RiauJOS.com mencoba menjawab, dan memberikan solusi imajinatif.

Personel negara, yang jumlahnya terbatas, dapat diatasi dengan merekrut semua warganya, dalam hal ini solusi khusus negara nusantara Indonesia. Setiap warga negara Indonesia (WNI) dijadikan pegawai negeri sipil (PNS), untuk menghindari kecemburuan sosial, PNS dan Non PNS tidak ada lagi, yang ada semuanya PNS, karena semua yang dikerjakan terpaut dengan visi dan misi pemerintah.

Penyebutan PNS dan Non PNS dihapus, hanya ada petugas Indonesia (PI), ide ini didapatkan dari khayalan parpol di Indonesia, yang menyebut salah satu Presiden RI, sebagai petugas partai. Alangkah hebatnya, kalau seluruh warga kita sebut sebagai Petugas Indonesia.

Identitas baru warga Indonesia sebagai PI akan membuat seluruh warga bersemangat untuk memajukan Indonesia, karena semua warga terlahir untuk menjadi PI. Tidak ada lagi mimpi-mimpi jadi PNS untuk merengkuh kesejahteraan. Ini mimpi usang, dan harus segera dimatikan.

Budaya bersantai, punya merk diri PNS, harus segera dihapuskan, karena tidak sesuai dengan tren kehidupan global, yang lebih menyukai kata "passioned" dari pada PNSoned. 

Indonesia negara kesejahteraan, intinya sebelum memberantas koruptor, membereskan peradilan "yang terbeli", dan memajukan pendidikan, langkah pertama yang bisa diambil, negara menjamin kebutuhan primer warganya.

Bicara demokrasi yang maha tinggi, bisa diwujudkan setelah membereskan kebutuhan primer yang dijamin oleh negara.

Sekarang ini, Pemilu di Indonesia sudah kebablasan, maksudnya bicara Pemilu, sudah setinggi langit, ingin memperbaiki sistem ini, sistem itu, pola ini pola itu, untuk demokrasi yang hanya nyata di alam dewa, tidak akan mungkin terealisasi sebelum perut warga yang akan diajak becanda-becanda masalah demokrasi bisa duduk dengan tenang.

Perut melilit tidak bisa diberikan dongeng demokrasi alam dewa, tapi harus segera diberi makan, kemudian diajak ngobrol demokrasi tingkat dewa.

Solusi imajinatif ini, tidak untuk digunakan sekarang. minimal bisa jadi bahan obrolan, dan ditindaklanjuti setelah diresapi dan masuk ke alam bawah sadar menjadi tindakan nyata keseharian.

Kesimpulannya, sebelum digital meraja, dan sekarang ini sudah meraja, buktinya, anak-anak kita sudah tidak bisa dipimpin oleh omongan orangtua, mereka lebih suka dipimpin aplikasi yang diunduh di internet, dan mereka belajar, mendengar dan mengerjakan apa kata aplikasi yang menurut mereka berguna untuk kemajuan dan juga hiburan bagi dirinya.

Bukan hal baru lagi, jika negara harus segera membuat aplikasi yang mampu memimpin warga sesuai kebutuhan asli, dan bukan tipuan pengembang aplikasi yang marak sekarang ini.

(tidak bersambung) silakan berkontribusi di RiauJOS.com untuk kesuksesan kita di level global

Negara Hilang Daya, Digital pun Meraja

Bantu negara dengan berkontribusi nyata bersama RiauJOS.com
Meme ArtWork RiauJOS.com edisi September 2016
RiauJOS.com, Editorial - Meme diatas, ArtWork untuk memberikan ilustrasi nyata, bahwa negara-negara di dunia sudah kepayahan mengelola warganya, karena kecepatan teknologi informasi yang tak terbendung lagi.

Editorial RiauJOS.com, edisi Rabu, 31 Agustus 2016, mencoba membuka data-data litbang RiauJOS.com yang dihimpun mulai tahun 2000, semasa RiauJOS.com belum dilahirkan, dan benih-benihnya pun belum dideteksi dokter peramban website.

Berdasarkan data litbang RiauJOS.com, pengguna dan pecandu teknologi informasi meningkat tajam, persentase melampaui dugaan para ilmuwan sosial. Mereka seolah terperanjah, dugaan sementara yang mereka bayangkan, ternyata menjadi nyata, bahkan lebih-lebih, lebih meningkat, dan semakin tak tergoyahkan peningkatan tajam setajam tanjakan jebol, dengan sudut kemiringan hampir 90 derajat.

Bagaimana bisa berdaya, kecepatan penyebaran informasi sudah melampaui kecepatan pembuat regulasi, kebijakan seolah lewat, karena pecandu informasi terus berbagi informasi dalam hitungan mili detik, dan ini membuat detik.com, menjadi tempat pencarian informasi yang sesuai zaman, haus kecepatan, bernafsu menjadi terdepan, dan sangat pragmatis untuk mengatasi situasi yang memang butuh kecepatan pengambilan keputusan tanpa berpikir panjang.

Walhasil, semua keputusan jadi "awut-awutan" alias banyak perbaikan, dan terus direvisi. Kita semua memahami, jumlah pengelola negara, dalam hal ini disebut pemerintah, sangat terbatas, dibandingkan warga manusia yang sudah terhimpun menjangkau ketrampilan negara-negara mengelola warganya.

Kita orang Indonesia, bisa langsung bertanya dengan orang Amerika, tanpa izin pemerintah. Apapun hal baru di dunia, dapat disebarluaskan dengan segera dengan perangkat murah, ponsel cerdas yang sekarang ini sudah menjadi barang biasa, karena semua orang dengan mudah membelinya, asal punya uang ratusan ribu, sudah bisa mengetahui semua isi dunia dengan cara membuka aplikasi pencarian informasi.

Setiap manusia, menjadi semakin spesifik dengan keahliaannya, dan tidak ada lagi seorang manusia, yang mampu menguasai berbagai bidang ilmu yang perkembangannya tidak bisa di rem, jalan terus sesuai kejiwaan masing-masing individu.

Apa yang bisa dilakukan negara, khususnya pemerintah Indonesia?

Nah, dari pertanyaan diatas, editorial RiauJOS.com mencoba menjawab, dan memberikan solusi imajinatif.

Personel negara, yang jumlahnya terbatas, dapat diatasi dengan merekrut semua warganya, dalam hal ini solusi khusus negara nusantara Indonesia. Setiap warga negara Indonesia (WNI) dijadikan pegawai negeri sipil (PNS), untuk menghindari kecemburuan sosial, PNS dan Non PNS tidak ada lagi, yang ada semuanya PNS, karena semua yang dikerjakan terpaut dengan visi dan misi pemerintah.

Penyebutan PNS dan Non PNS dihapus, hanya ada petugas Indonesia (PI), ide ini didapatkan dari khayalan parpol di Indonesia, yang menyebut salah satu Presiden RI, sebagai petugas partai. Alangkah hebatnya, kalau seluruh warga kita sebut sebagai Petugas Indonesia.

Identitas baru warga Indonesia sebagai PI akan membuat seluruh warga bersemangat untuk memajukan Indonesia, karena semua warga terlahir untuk menjadi PI. Tidak ada lagi mimpi-mimpi jadi PNS untuk merengkuh kesejahteraan. Ini mimpi usang, dan harus segera dimatikan.

Budaya bersantai, punya merk diri PNS, harus segera dihapuskan, karena tidak sesuai dengan tren kehidupan global, yang lebih menyukai kata "passioned" dari pada PNSoned. 

Indonesia negara kesejahteraan, intinya sebelum memberantas koruptor, membereskan peradilan "yang terbeli", dan memajukan pendidikan, langkah pertama yang bisa diambil, negara menjamin kebutuhan primer warganya.

Bicara demokrasi yang maha tinggi, bisa diwujudkan setelah membereskan kebutuhan primer yang dijamin oleh negara.

Sekarang ini, Pemilu di Indonesia sudah kebablasan, maksudnya bicara Pemilu, sudah setinggi langit, ingin memperbaiki sistem ini, sistem itu, pola ini pola itu, untuk demokrasi yang hanya nyata di alam dewa, tidak akan mungkin terealisasi sebelum perut warga yang akan diajak becanda-becanda masalah demokrasi bisa duduk dengan tenang.

Perut melilit tidak bisa diberikan dongeng demokrasi alam dewa, tapi harus segera diberi makan, kemudian diajak ngobrol demokrasi tingkat dewa.

Solusi imajinatif ini, tidak untuk digunakan sekarang. minimal bisa jadi bahan obrolan, dan ditindaklanjuti setelah diresapi dan masuk ke alam bawah sadar menjadi tindakan nyata keseharian.

Kesimpulannya, sebelum digital meraja, dan sekarang ini sudah meraja, buktinya, anak-anak kita sudah tidak bisa dipimpin oleh omongan orangtua, mereka lebih suka dipimpin aplikasi yang diunduh di internet, dan mereka belajar, mendengar dan mengerjakan apa kata aplikasi yang menurut mereka berguna untuk kemajuan dan juga hiburan bagi dirinya.

Bukan hal baru lagi, jika negara harus segera membuat aplikasi yang mampu memimpin warga sesuai kebutuhan asli, dan bukan tipuan pengembang aplikasi yang marak sekarang ini.

(tidak bersambung) silakan berkontribusi di RiauJOS.com untuk kesuksesan kita di level global