Social Items

UNNES Wisuda Anak Pemulung IPK Cumlaude
Firna Larasati (berkerudung hitam), anak pemulung yang lulus dengan predikat Cumlaude dan akan segera diwisuda Unnes sedang membantu orangtuanya memilah barang-barang bekas, Selasa (26/7). (Dok unnes)
Riau JOS!*, Semarang - Hari ini, Universitas Negeri Semarang (Unnes) mewisuda seorang anak pemulung bernama Firna Larasati dari Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,77 predikat Cumlaude.

Gadis berhijab yang sempat tidak yakin bisa meneruskan ke pendidikan tinggi ini, menyelesaikan studi dalam waktu tiga tahun 10 bulan. Masuk melalui jalur mandiri, pada semester pertama Firna sempat membayar uang kuliah tetapi pada semester kedua mendapatkan beasiswa Bidikmisi.

“Saya memeroleh beasiswa Bidikmisi sehingga tidak perlu membayar uang kuliah sama sekali, bahkan memeroleh uang saku sebesar Rp 600 ribu per bulan,” kata Firna sesuai rilis yang dikirim Humas Unnes, Rabu, 27 Juli 2016.

Mahasiswi yang masuk pada 2012 lalu, pernah menjadi Juara I lomba penulisan tingkat provinsi tentang otonomi daerah. Ia menulis skripsi tentang “Marketing Politik Pasangan Calon Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Hevearita Gunaryanti.”

Ia mengaku kelulusannya membuat sangat bangga sekalikus lega. Namun capaian itu tak membuatnya berpuas diri, setelah diwisuda ia akan segera mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan master.

“Saya ingin kuliah ilmu politik lagi. Kalau tidak ke UGM, saya pengin kuliah ke National University of Singapore,” tambah gadis yang bercita-cita menjadi dosen itu.

Ayah Firna, Misianto, bekerja sebagai pemulung sejak 1993. Setiap hari ia berkeliling dari kampung ke kampung mencari barang rongsokan. Hasilnya ia bawa pulang untuk dipilih oleh istri dan anak-anaknya.

Firna juga tak ragu membantu orang tuanya. Sela-sela waktunya kuliah ia sering keliling membeli buku bekas dan koran bekas dari teman-temannya untuk dijual kembali. Dari hasil gotong royong sekeluarga itu, mereka bisa mendapatkan uang sekitar Rp 50 ribu per hari. Namun jumlah itu pun tak pasti.

Untuk membantu orang tua, Firna bekerja paruh waktu. Saat SMA ia bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko. Ia juga pernah menjadi pelayan di rumah makan.


UNNES Wisuda Anak Pemulung dengan IPK 3,77 (Cumlaude)

UNNES Wisuda Anak Pemulung IPK Cumlaude
Firna Larasati (berkerudung hitam), anak pemulung yang lulus dengan predikat Cumlaude dan akan segera diwisuda Unnes sedang membantu orangtuanya memilah barang-barang bekas, Selasa (26/7). (Dok unnes)
Riau JOS!*, Semarang - Hari ini, Universitas Negeri Semarang (Unnes) mewisuda seorang anak pemulung bernama Firna Larasati dari Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,77 predikat Cumlaude.

Gadis berhijab yang sempat tidak yakin bisa meneruskan ke pendidikan tinggi ini, menyelesaikan studi dalam waktu tiga tahun 10 bulan. Masuk melalui jalur mandiri, pada semester pertama Firna sempat membayar uang kuliah tetapi pada semester kedua mendapatkan beasiswa Bidikmisi.

“Saya memeroleh beasiswa Bidikmisi sehingga tidak perlu membayar uang kuliah sama sekali, bahkan memeroleh uang saku sebesar Rp 600 ribu per bulan,” kata Firna sesuai rilis yang dikirim Humas Unnes, Rabu, 27 Juli 2016.

Mahasiswi yang masuk pada 2012 lalu, pernah menjadi Juara I lomba penulisan tingkat provinsi tentang otonomi daerah. Ia menulis skripsi tentang “Marketing Politik Pasangan Calon Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Hevearita Gunaryanti.”

Ia mengaku kelulusannya membuat sangat bangga sekalikus lega. Namun capaian itu tak membuatnya berpuas diri, setelah diwisuda ia akan segera mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan master.

“Saya ingin kuliah ilmu politik lagi. Kalau tidak ke UGM, saya pengin kuliah ke National University of Singapore,” tambah gadis yang bercita-cita menjadi dosen itu.

Ayah Firna, Misianto, bekerja sebagai pemulung sejak 1993. Setiap hari ia berkeliling dari kampung ke kampung mencari barang rongsokan. Hasilnya ia bawa pulang untuk dipilih oleh istri dan anak-anaknya.

Firna juga tak ragu membantu orang tuanya. Sela-sela waktunya kuliah ia sering keliling membeli buku bekas dan koran bekas dari teman-temannya untuk dijual kembali. Dari hasil gotong royong sekeluarga itu, mereka bisa mendapatkan uang sekitar Rp 50 ribu per hari. Namun jumlah itu pun tak pasti.

Untuk membantu orang tua, Firna bekerja paruh waktu. Saat SMA ia bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko. Ia juga pernah menjadi pelayan di rumah makan.