Ulasan Guru Cubit Murid
Facebookers, Boby Adika Ruitang
Riau JOS!* - Menanggapi fenomena "Guru Cubit Murid" perlu sedikit sentuhan kecerdasan. Diantaranya, dilakukan dengan membaca sedikit ulasan dari facebookers dengan nama akun Boby Adika Ruitang. Dia membuat ulasan yang memikat hati para Facebookers sehingga, mereka mendapatkan sedikit pencerahan dari catatan facebook yang dibikinnya. Berikut ulasan yang dipublis melalui catatan Adika.

Sekarang Indonesia lagi heboh kasus guru cubit murid dan dilapor ke polisi. Responnya pun macem-macem: banyak yang bikin meme ngatain si murid sebagai "manja", "banci", "lemah", dsb, karena gak kuat menahan cubitan 'saja'; hampir semua media pemberitaannya ngedukung sang guru; banyak pihak bikin slogan seperti 'Kembalikan Martabat Guru!' karena tindakan ini dianggap sebagai pelecehan terhadap profesi guru; dan bahkan Anies Baswedan menyatakan bahwa penempuhan jalur hukum gak tepat, mestinya diselesaikan melalui institusi pendidikan.

Berikut beberapa tanggapan gue terhadap fenomena ini:

1) Bias yang ditunjukkan oleh para pembuat meme merupakan indikator betapa kekerasan sangatlah ditolerir dalam masyarakat kita. Penggunaan kekerasan ini merupakan sinyal tentang betapa masyarakat kita mengagungkan: a) maskulinitas dan agresi, yang merupakan pertanda masih kuatnya pengaruh patriarki ke dalam perilaku masyarakat, dan b) pembangunan karakter yang bersifat militeristik, dimana disiplin dan kepatuhan merupakan kunci utama kepribadian yang baik, yang menjunjung tinggi sistem otoritas komando (chain of command).

Permasalahan dari sistem pendidikan di atas adalah:

i) normalisasi kekerasan sebagai metode pendidikan yang dibenarkan, selama tujuannya "baik". Jadi jangan kaget jika kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seringkali terjadi, atau tiger parenting yang ekstrim sering diterapkan-- attitude masyarakat kita sangatlah permisif terhadap hal ini.

ii) asosiasi kekerasan dengan identitas gender, dimana kalo ada laki-laki yang gak 'kuat' menahan kekerasan, dia otomatis 'banci' dan 'tidak laki'. Ini juga mengakibatkan ketidakmauan untuk menggunakan metode pengajaran/disiplin yang lebih soft atau diplomatis, karena dianggap feminin dan tidak strict-- padahal kesehatan psikis merupakan hal yang penting dalam pembentukan pribadi yang sehat.

iii) habituasi pemetaan dinamika kekuatan hubungan yang vertikal, dimana guru bukanlah sebagai pendamping anak dalam perkembangannya (yang mestinya horizontal), tetapi sebagai atasan yang memonopoli definisi benar dan salah.

2) Pembandingan seperti 'zaman gue dulu gak cemen kayak gini!' yang dilakukan oleh banyak orang menunjukkan fenomena generational superiority, dimana sebuah generasi merasa mereka lebih hebat dibandingkan generasi lainnya, karena mereka punya trait tertentu atau telah melewati sebuah peristiwa luar biasa, yang generasi lain gak alami atau miliki. Permasalahan yang gue lihat dari hal ini adalah pemaksaan standar-- kalo lo mau sukses, lo mesti lewatin apa yang gue lewatin dulu.

Hal ini dismisif terhadap perbedaan konteks dan realita hidup yang dialamin oleh tiap generasi. Mungkin jaman dulu nampar murid oke-oke aja karena definisi moralitas kita waktu itu belum sampai titik dimana hak asasi orang mesti dihargai. Sekarang ketika kita udah maju dan bisa menjadi spesies yang lebih beradab, malah maunya balik ke masa yang barbar. Menurut gue, reaksi orang-orang ini adalah respon yang sifatnya overcompensating-- secara subconscious, banyak yang sebel karena anak-anak jaman sekarang gak perlu dihajar segitunya, dan hal ini dipake untuk mendefinisikan kekuatan generasi mereka.

3) Betapa toxic-nya politik identitas di Indonesia. Apa iya sih martabat guru di-definisikan dari apakah dia bisa memukul anak atau enggak? Atau di-definisikan dari boleh tidaknya guru tersebut diseret ke ranah hukum? Ketika ada guru yang akhirnya dituntut, apakah semua guru/serikat guru punya tanggung jawab moral untuk harus selalu mendukung dia? Walaupun tindakan yang dia lakukan kemungkinan besar bersifat kriminal dan salah? Solidaritas hanya bisa menjadi virtue yang berharga kalau hal yang kita solider-kan itu dapat dibenarkan secara prinsip dan moral. Solidaritas hanya untuk solider saja itu tidaklah mulia, tetapi tak bertanggungjawab. Menuntut imunitas dari hukum bukan sesuatu yang layak diperjuangkan.

Masih inget kasus pemerkosa di Stanford? Si Brock Turner? Yang bikin banyak orang marah karena media dan pengadilan berfokus pada fakta bahwa dia adalah seorang atlet renang dan itu mengalihkan fokus dari fakta bahwa dia memerkosa seorang perempuan yang tidak sadar?

Atau mungkin inget Bill Cosby? Yang memerkosa 20 perempuan lebih selama beberapa dekade terakhir? Dan dibela karena dia dianggap sebagai ikon televisi yang hebat dan para korbannya dicap sebagai orang sirik yang berusaha menodai legacy nya?

Atau mungkin inget skandal Vatikan, dimana Gereja Katolik ketauan menutup-nutupi kasus pencabulan yang dilakukan oleh para pastornya terhadap anak-anak kecil, dan naratif yang dibesar-besarkan adalah mereka ini pastor, pemimpin agama, yang telah membantu orang banyak sehingga layak untuk kita maafkan?

Ini hal yang sama ketika kita berfokus pada fakta bahwa si pencubit adalah seorang guru, yang telah mendidik banyak orang, telah melewati banyak proses sertifikasi, dsb. Menggunakan identitas dia untuk pembelaan merupakan tindakan yang menjijikkan, karena ini adalah usaha untuk mengurangi rasa bersalah dan tanggung jawab yang mestinya ia pikul.

Kalau yang dipersoalkan adalah breach terhadap otoritas guru, mungkin harus diintrospeksi juga tentang sejauh mana guru memiliki jurisdiksi dalam pendidikan anak. Otonomi tubuh anak adalah miliknya sendiri dan harus dihargai. Jika guru bisa dituntut untuk pelecehan seksual atau perbuatan cabul terhadap anak, sekedar mencubit juga adalah basis yang valid untuk penuntutan.

4) Mungkin Pak Anies ada benarnya, bahwa institusi pendidikan mestinya dijadikan solusi pertama. Namun perlu diingat juga bahwa institusi pendidikan ini juga bisa memiliki bias untuk mau melindungi sesama-nya (yakni guru), karena jika guru tersebut dinyatakan salah, hal tersebut mencerminkan kualitas sekolah dan sistem seleksi staf yang diterapkan. Terlebih ketika mentalitas 'kekerasan boleh digunakan' sangat tertanam, ada kemungkinan yang cukup besar malah sang anak yang dipojokkan dan dijadikan kambing hitam, dan tindakan sang guru dibenarkan, karena ini benar-benar situasi guru vs. murid, dimana kredibilitas guru akan jauh lebih dipertimbangkan dibandingkan testimoni seorang anak yang belum akil baliq.

Jadi walau pencarian solusi melalui sekolah mestinya dilakukan terlebih dahulu, bukan berarti penempuhan jalur hukum tidak valid. Masyarakat kita telah dikondisikan sedemikian rupa untuk menjauhi proses hukum sehingga respon masyarakat terhadap kasus ini menjadi sangat heboh, karena tidak terbiasa untuk menggunakan sistem peradilan untuk menyelesaikan sengketa. Budaya 'selesaikan dengan cara kekeluargaan' ini buat gue sangat bermasalah, karena seringkali korban menjadi tidak diuntungkan dan malah disalahkan. Apa gunanya bikin Undang-undang kalau ujung-ujungnya hanya mereka yang kuat yang bisa mem-bully yang lain untuk 'berdamai'?

Ketika JIS diinvestigasi untuk kasus pencabulan, mana itu orang-orang koar-koar "Kembalikan Martabat Guru"? Dimana serikat guru untuk membela mereka? Apa karena kebetulan si Kepala Sekolahnya itu bule makanya dia layak dihukum? Dan untuk kasus terbaru kebetulan gurunya orang pribumi, makanya kita harus solider karena dia pasti gak bersalah? Kenapa gak ada yang meminta pihak JIS untuk "menyelesaikan secara kekeluargaan" dengan korban, seperti kasus terbaru ini?

Kalau alasan anda adalah kasus JIS merupakan pelanggaran hukum-- anda harus introspeksi diri kenapa kekerasan terhadap anak, walau hanya dalam bentuk mencubit, harus diberikan standar yang berbeda.

Gue ngerti ada beberapa yang marah karena si murid merupakan anak polisi/TNI sehingga pemenjaraan sang guru terlihat seperti pemanfaataan kekuasaan-- dan gue pribadi juga gak setuju kalau hal itu memang bener kejadian. Tapi ini bukan berarti semua kasus penuntutan jadi gak valid, karena bukan semua abuse of power. Itu logical fallacy yang mesti dihindari.

Kesimpulan gue ini: fenomena ini lumayan nunjukkin beberapa problem budaya dan sosiologis yang kita punya-- ada baiknya kita coba introspeksi dan berhenti bersikap defensif.

Addendum:

a) “Lo kan bukan guru, mana ngerti lo tentang sulitnya menjadi seorang guru! Pendapat lo gak valid!”

Gue mengajar English Debate di berbagai tempat selama 5 tahun terakhir. Gue pernah mengajar di SMKN 4 Jakarta, SMA Kolese Kanisius, SMA 3 Semarang, UI, Atma Jaya, UPH, STBA Teknokrat Lampung, Unila, Unsoed, dan Brawijaya. Mungkin memang gak sama seperti guru permanen, tetapi gue juga menghadapi anak-anak yang sulit diatur, males, mau seenaknya, dsb. Jadi gue bisa berempati pada guru-guru yang stres dengan pekerjaannya, dan gue tau kondisi di lapangan seperti apa.

Gue juga SD dan SMP di sekolah pinggiran di Tanjung Priok, arguably area paling ghetto di Jakarta. Banyak teman-teman gue berasal dari keluarga ekonomi rendah, broken families, dan kenakalan itu trait yang sangat umum. Tapi yang berhasil membuat anak-anak ini menjadi "tobat" dan berhasil lulus adalah wali kelas gue yang bernama Ibu Beatrix, dimana beliau selalu menggunakan pendekatan interpersonal kepada anak-anak, ngajak ngobrol, bahkan gue sering nemenin beliau untuk dateng kunjungan ke rumah temen-temen sekelas gue yang lagi kena masalah. Wakasek gue waktu itu, yang terkenal suka mukul pake sapu, justru paling gak disukai dan dibenci-- dan anak-anak gak respek kalau dia masuk kelas untuk ngajar.

Jadi mungkin ya, daripada mengkritik gue dengan serangan ad hominem, mungkin coba dikritik ide-ide yang udah gue paparin di atas-- diskusinya jadi bisa lebih konstruktif kalau fokusnya adalah ide dan bukan ke penulisnya.

b) Beberapa mengkritisi bahwa tulisan gue ini hanya menganalisis masalah, tanpa memberikan solusi konkret. Gue akui kritik itu benar, dan gue sudah berusaha mengajukan alternatif yang ada di bagian komen di bawah. Akan gue tulis di bagian ini biar lebih mudah dibaca:

Untuk kenakalan-- ini juga yang harus di-dekonstruksi. Label “anak nakal” itu gampang banget dikasih, tapi gak ada pemahaman yang komprehensif tentang kenapa bisa ada anak nakal. “Nakal” itu bukan fenomena dimana si anak kerasukan iblis dan kalau ditempeleng, iblisnya tiba-tiba keluar-- ini bukan The Conjuring. Pasti ada alasan kenapa anak “nakal”.

Mungkin dia ada masalah di rumah. Mungkin dia ada masalah pribadi. Mungkin dia ada masalah akademik. Mungkin dia ada masalah pertemanan. Mungkin dia suffer dari ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang bikin dia gak bisa diem. Mungkin dia suffer dari mental condition lainnya. Ini makanya BK atau Bimbingan Konseling penting banget untuk dipake di sekolah-sekolah. Dan guru BK pun harus diubah stigmanya, menjadi sosok yang approachable, yang bisa dianggap sebagai teman, yang anak bisa jadikan teman curhat-- bukan seperti stigma yang sekarang, yang kalau dipanggil ke BK langsung diasumsikan dia akan dihukum.

Kalau make pemukulan, ada 2 harm-nya:

i) gak meng-address root cause dari 'kenakalan' dia itu. pemukulan sifatnya cuman untuk shock effect, dan abis itu hilang. ini gak ngubah perilaku dia, dan malah bisa jadi memberikan damage psikis yang lebih parah ke dia.

ii) disincentive untuk eksplor metode-metode pengajaran/disiplin lainnya, karena guru tau dia akan bisa mukul anak ini kalau menurutnya mereka keterlaluan-- dan ini dijadikan default respons guru.

Kalau dia dipukul, memang ada kemungkinan dia jadi takut dan berhenti nakal, gue akui possibility itu ada. Tapi ada juga possibility dimana dia akan act out dan menjadi rebel dan perilakunya semakin destruktif, sebagai bentuk protes dan marah terhadap pemukulan itu, dan itu lebih parah. Karena kita gak tau anak bakal respon gimana, saran gue sih jangan, karena cost psikisnya pasti ada, tetapi benefit dalam perubahan behavior belum tentu ada.

Nah, dibawah ini sumbernya, silahkan ikuti, dan tanyakan pada yang bikin catatan, apabila masih ada kata rumit yang butuh penjelasan sederhana.

Ulasan Agak Lengkap, Fenomena Guru Cubit Murid

Ulasan Guru Cubit Murid
Facebookers, Boby Adika Ruitang
Riau JOS!* - Menanggapi fenomena "Guru Cubit Murid" perlu sedikit sentuhan kecerdasan. Diantaranya, dilakukan dengan membaca sedikit ulasan dari facebookers dengan nama akun Boby Adika Ruitang. Dia membuat ulasan yang memikat hati para Facebookers sehingga, mereka mendapatkan sedikit pencerahan dari catatan facebook yang dibikinnya. Berikut ulasan yang dipublis melalui catatan Adika.

Sekarang Indonesia lagi heboh kasus guru cubit murid dan dilapor ke polisi. Responnya pun macem-macem: banyak yang bikin meme ngatain si murid sebagai "manja", "banci", "lemah", dsb, karena gak kuat menahan cubitan 'saja'; hampir semua media pemberitaannya ngedukung sang guru; banyak pihak bikin slogan seperti 'Kembalikan Martabat Guru!' karena tindakan ini dianggap sebagai pelecehan terhadap profesi guru; dan bahkan Anies Baswedan menyatakan bahwa penempuhan jalur hukum gak tepat, mestinya diselesaikan melalui institusi pendidikan.

Berikut beberapa tanggapan gue terhadap fenomena ini:

1) Bias yang ditunjukkan oleh para pembuat meme merupakan indikator betapa kekerasan sangatlah ditolerir dalam masyarakat kita. Penggunaan kekerasan ini merupakan sinyal tentang betapa masyarakat kita mengagungkan: a) maskulinitas dan agresi, yang merupakan pertanda masih kuatnya pengaruh patriarki ke dalam perilaku masyarakat, dan b) pembangunan karakter yang bersifat militeristik, dimana disiplin dan kepatuhan merupakan kunci utama kepribadian yang baik, yang menjunjung tinggi sistem otoritas komando (chain of command).

Permasalahan dari sistem pendidikan di atas adalah:

i) normalisasi kekerasan sebagai metode pendidikan yang dibenarkan, selama tujuannya "baik". Jadi jangan kaget jika kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seringkali terjadi, atau tiger parenting yang ekstrim sering diterapkan-- attitude masyarakat kita sangatlah permisif terhadap hal ini.

ii) asosiasi kekerasan dengan identitas gender, dimana kalo ada laki-laki yang gak 'kuat' menahan kekerasan, dia otomatis 'banci' dan 'tidak laki'. Ini juga mengakibatkan ketidakmauan untuk menggunakan metode pengajaran/disiplin yang lebih soft atau diplomatis, karena dianggap feminin dan tidak strict-- padahal kesehatan psikis merupakan hal yang penting dalam pembentukan pribadi yang sehat.

iii) habituasi pemetaan dinamika kekuatan hubungan yang vertikal, dimana guru bukanlah sebagai pendamping anak dalam perkembangannya (yang mestinya horizontal), tetapi sebagai atasan yang memonopoli definisi benar dan salah.

2) Pembandingan seperti 'zaman gue dulu gak cemen kayak gini!' yang dilakukan oleh banyak orang menunjukkan fenomena generational superiority, dimana sebuah generasi merasa mereka lebih hebat dibandingkan generasi lainnya, karena mereka punya trait tertentu atau telah melewati sebuah peristiwa luar biasa, yang generasi lain gak alami atau miliki. Permasalahan yang gue lihat dari hal ini adalah pemaksaan standar-- kalo lo mau sukses, lo mesti lewatin apa yang gue lewatin dulu.

Hal ini dismisif terhadap perbedaan konteks dan realita hidup yang dialamin oleh tiap generasi. Mungkin jaman dulu nampar murid oke-oke aja karena definisi moralitas kita waktu itu belum sampai titik dimana hak asasi orang mesti dihargai. Sekarang ketika kita udah maju dan bisa menjadi spesies yang lebih beradab, malah maunya balik ke masa yang barbar. Menurut gue, reaksi orang-orang ini adalah respon yang sifatnya overcompensating-- secara subconscious, banyak yang sebel karena anak-anak jaman sekarang gak perlu dihajar segitunya, dan hal ini dipake untuk mendefinisikan kekuatan generasi mereka.

3) Betapa toxic-nya politik identitas di Indonesia. Apa iya sih martabat guru di-definisikan dari apakah dia bisa memukul anak atau enggak? Atau di-definisikan dari boleh tidaknya guru tersebut diseret ke ranah hukum? Ketika ada guru yang akhirnya dituntut, apakah semua guru/serikat guru punya tanggung jawab moral untuk harus selalu mendukung dia? Walaupun tindakan yang dia lakukan kemungkinan besar bersifat kriminal dan salah? Solidaritas hanya bisa menjadi virtue yang berharga kalau hal yang kita solider-kan itu dapat dibenarkan secara prinsip dan moral. Solidaritas hanya untuk solider saja itu tidaklah mulia, tetapi tak bertanggungjawab. Menuntut imunitas dari hukum bukan sesuatu yang layak diperjuangkan.

Masih inget kasus pemerkosa di Stanford? Si Brock Turner? Yang bikin banyak orang marah karena media dan pengadilan berfokus pada fakta bahwa dia adalah seorang atlet renang dan itu mengalihkan fokus dari fakta bahwa dia memerkosa seorang perempuan yang tidak sadar?

Atau mungkin inget Bill Cosby? Yang memerkosa 20 perempuan lebih selama beberapa dekade terakhir? Dan dibela karena dia dianggap sebagai ikon televisi yang hebat dan para korbannya dicap sebagai orang sirik yang berusaha menodai legacy nya?

Atau mungkin inget skandal Vatikan, dimana Gereja Katolik ketauan menutup-nutupi kasus pencabulan yang dilakukan oleh para pastornya terhadap anak-anak kecil, dan naratif yang dibesar-besarkan adalah mereka ini pastor, pemimpin agama, yang telah membantu orang banyak sehingga layak untuk kita maafkan?

Ini hal yang sama ketika kita berfokus pada fakta bahwa si pencubit adalah seorang guru, yang telah mendidik banyak orang, telah melewati banyak proses sertifikasi, dsb. Menggunakan identitas dia untuk pembelaan merupakan tindakan yang menjijikkan, karena ini adalah usaha untuk mengurangi rasa bersalah dan tanggung jawab yang mestinya ia pikul.

Kalau yang dipersoalkan adalah breach terhadap otoritas guru, mungkin harus diintrospeksi juga tentang sejauh mana guru memiliki jurisdiksi dalam pendidikan anak. Otonomi tubuh anak adalah miliknya sendiri dan harus dihargai. Jika guru bisa dituntut untuk pelecehan seksual atau perbuatan cabul terhadap anak, sekedar mencubit juga adalah basis yang valid untuk penuntutan.

4) Mungkin Pak Anies ada benarnya, bahwa institusi pendidikan mestinya dijadikan solusi pertama. Namun perlu diingat juga bahwa institusi pendidikan ini juga bisa memiliki bias untuk mau melindungi sesama-nya (yakni guru), karena jika guru tersebut dinyatakan salah, hal tersebut mencerminkan kualitas sekolah dan sistem seleksi staf yang diterapkan. Terlebih ketika mentalitas 'kekerasan boleh digunakan' sangat tertanam, ada kemungkinan yang cukup besar malah sang anak yang dipojokkan dan dijadikan kambing hitam, dan tindakan sang guru dibenarkan, karena ini benar-benar situasi guru vs. murid, dimana kredibilitas guru akan jauh lebih dipertimbangkan dibandingkan testimoni seorang anak yang belum akil baliq.

Jadi walau pencarian solusi melalui sekolah mestinya dilakukan terlebih dahulu, bukan berarti penempuhan jalur hukum tidak valid. Masyarakat kita telah dikondisikan sedemikian rupa untuk menjauhi proses hukum sehingga respon masyarakat terhadap kasus ini menjadi sangat heboh, karena tidak terbiasa untuk menggunakan sistem peradilan untuk menyelesaikan sengketa. Budaya 'selesaikan dengan cara kekeluargaan' ini buat gue sangat bermasalah, karena seringkali korban menjadi tidak diuntungkan dan malah disalahkan. Apa gunanya bikin Undang-undang kalau ujung-ujungnya hanya mereka yang kuat yang bisa mem-bully yang lain untuk 'berdamai'?

Ketika JIS diinvestigasi untuk kasus pencabulan, mana itu orang-orang koar-koar "Kembalikan Martabat Guru"? Dimana serikat guru untuk membela mereka? Apa karena kebetulan si Kepala Sekolahnya itu bule makanya dia layak dihukum? Dan untuk kasus terbaru kebetulan gurunya orang pribumi, makanya kita harus solider karena dia pasti gak bersalah? Kenapa gak ada yang meminta pihak JIS untuk "menyelesaikan secara kekeluargaan" dengan korban, seperti kasus terbaru ini?

Kalau alasan anda adalah kasus JIS merupakan pelanggaran hukum-- anda harus introspeksi diri kenapa kekerasan terhadap anak, walau hanya dalam bentuk mencubit, harus diberikan standar yang berbeda.

Gue ngerti ada beberapa yang marah karena si murid merupakan anak polisi/TNI sehingga pemenjaraan sang guru terlihat seperti pemanfaataan kekuasaan-- dan gue pribadi juga gak setuju kalau hal itu memang bener kejadian. Tapi ini bukan berarti semua kasus penuntutan jadi gak valid, karena bukan semua abuse of power. Itu logical fallacy yang mesti dihindari.

Kesimpulan gue ini: fenomena ini lumayan nunjukkin beberapa problem budaya dan sosiologis yang kita punya-- ada baiknya kita coba introspeksi dan berhenti bersikap defensif.

Addendum:

a) “Lo kan bukan guru, mana ngerti lo tentang sulitnya menjadi seorang guru! Pendapat lo gak valid!”

Gue mengajar English Debate di berbagai tempat selama 5 tahun terakhir. Gue pernah mengajar di SMKN 4 Jakarta, SMA Kolese Kanisius, SMA 3 Semarang, UI, Atma Jaya, UPH, STBA Teknokrat Lampung, Unila, Unsoed, dan Brawijaya. Mungkin memang gak sama seperti guru permanen, tetapi gue juga menghadapi anak-anak yang sulit diatur, males, mau seenaknya, dsb. Jadi gue bisa berempati pada guru-guru yang stres dengan pekerjaannya, dan gue tau kondisi di lapangan seperti apa.

Gue juga SD dan SMP di sekolah pinggiran di Tanjung Priok, arguably area paling ghetto di Jakarta. Banyak teman-teman gue berasal dari keluarga ekonomi rendah, broken families, dan kenakalan itu trait yang sangat umum. Tapi yang berhasil membuat anak-anak ini menjadi "tobat" dan berhasil lulus adalah wali kelas gue yang bernama Ibu Beatrix, dimana beliau selalu menggunakan pendekatan interpersonal kepada anak-anak, ngajak ngobrol, bahkan gue sering nemenin beliau untuk dateng kunjungan ke rumah temen-temen sekelas gue yang lagi kena masalah. Wakasek gue waktu itu, yang terkenal suka mukul pake sapu, justru paling gak disukai dan dibenci-- dan anak-anak gak respek kalau dia masuk kelas untuk ngajar.

Jadi mungkin ya, daripada mengkritik gue dengan serangan ad hominem, mungkin coba dikritik ide-ide yang udah gue paparin di atas-- diskusinya jadi bisa lebih konstruktif kalau fokusnya adalah ide dan bukan ke penulisnya.

b) Beberapa mengkritisi bahwa tulisan gue ini hanya menganalisis masalah, tanpa memberikan solusi konkret. Gue akui kritik itu benar, dan gue sudah berusaha mengajukan alternatif yang ada di bagian komen di bawah. Akan gue tulis di bagian ini biar lebih mudah dibaca:

Untuk kenakalan-- ini juga yang harus di-dekonstruksi. Label “anak nakal” itu gampang banget dikasih, tapi gak ada pemahaman yang komprehensif tentang kenapa bisa ada anak nakal. “Nakal” itu bukan fenomena dimana si anak kerasukan iblis dan kalau ditempeleng, iblisnya tiba-tiba keluar-- ini bukan The Conjuring. Pasti ada alasan kenapa anak “nakal”.

Mungkin dia ada masalah di rumah. Mungkin dia ada masalah pribadi. Mungkin dia ada masalah akademik. Mungkin dia ada masalah pertemanan. Mungkin dia suffer dari ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang bikin dia gak bisa diem. Mungkin dia suffer dari mental condition lainnya. Ini makanya BK atau Bimbingan Konseling penting banget untuk dipake di sekolah-sekolah. Dan guru BK pun harus diubah stigmanya, menjadi sosok yang approachable, yang bisa dianggap sebagai teman, yang anak bisa jadikan teman curhat-- bukan seperti stigma yang sekarang, yang kalau dipanggil ke BK langsung diasumsikan dia akan dihukum.

Kalau make pemukulan, ada 2 harm-nya:

i) gak meng-address root cause dari 'kenakalan' dia itu. pemukulan sifatnya cuman untuk shock effect, dan abis itu hilang. ini gak ngubah perilaku dia, dan malah bisa jadi memberikan damage psikis yang lebih parah ke dia.

ii) disincentive untuk eksplor metode-metode pengajaran/disiplin lainnya, karena guru tau dia akan bisa mukul anak ini kalau menurutnya mereka keterlaluan-- dan ini dijadikan default respons guru.

Kalau dia dipukul, memang ada kemungkinan dia jadi takut dan berhenti nakal, gue akui possibility itu ada. Tapi ada juga possibility dimana dia akan act out dan menjadi rebel dan perilakunya semakin destruktif, sebagai bentuk protes dan marah terhadap pemukulan itu, dan itu lebih parah. Karena kita gak tau anak bakal respon gimana, saran gue sih jangan, karena cost psikisnya pasti ada, tetapi benefit dalam perubahan behavior belum tentu ada.

Nah, dibawah ini sumbernya, silahkan ikuti, dan tanyakan pada yang bikin catatan, apabila masih ada kata rumit yang butuh penjelasan sederhana.