Ilustrasi: Kapal Nabi Nuh
Sajak "Nuh" karya Sutardji Calzoum Bachri secara jelas menunjukkan ujian terberat Nuh sebagai Nabi dan Rasul Tuhan, yakni mendapat musibah air bah. Namun setelah melalui ujian terberat dari Tuhan itu, Nuh beserta umatnya yang beriman kembali hidup membumi.

Nuh

di tengah luka paya-paya
lintah hitam makan bulan
taklagi matari
jam mengucurkan
detak nanah
tak ada yang luput
bahkan mimpi tak
tanah tanah tanah
beri aku puncak
untuk mulai lagi berpijak!
1977


Sutardji Calzoum Bachri, 1981, O Amuk Kapak, hlm. 116


Makna Sajak Nuh

Makna kehadiran Nuh secara khusus dalam sajak ini adalah sebagai pembawa harapan, pengantar umat ke jalan yang benar. Dari kegelapan menuju sinar terang.

"Nuh di tengah luka paya-paya" mempresentasikan keberadaan Nuh dan umatnya dalam kesengsaraan dan penderitaan. Arti dari "Luka paya-paya" adalah keadaan dimana kulit menjadi sobek akibat luka benturan benda tajam. Dari sobekan itu keluar darah. Metafora ini sesuai dengan penderitaan Nuh dan umatnya saat terjadi musibah air bah yang penuh derita dan luka. Pelayaran Nuh juga merupakan metafora perjalanan hidup manusia dari pondok dunia menuju akhirat yang penuh rintangan dan derita.

Di tengah penderitaan seperti itu tidak ada satu pun cahaya yang mampu menerangi bumi, baik siang ataupun malam karena "lintah hitam makan bulan/ taklagi matari". Pernyataan ini merepresentasikan keadaan dunia yang gelap gulita karena awan hitam menutupi bulan pada malam hari dan menutupi matahari pada siang harinya. Kegelapan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi secara metaforis bersifat psikis atau kejiwaan. Hati manusia menjadi gelap gulita karena tiada cahaya Illahi menerangi jiwanya, kegelapan ini disebabkan angan dan bertumpuknya berbagai keinginan sehingga menutupi "sinar bulan" yang merupakan metafora dari ajaran Tuhan yang mampu mengangkat manusia dari lembah penderitaan.

Selanjutnya jam sebagai penunjuk atau alat pengukur waktu tidak memungkinkan mampu mengucurkan detak nanah. Kata nanah berarti cairan busuk yang keluar dari luka berwarna putih kehijauan merupakan metafora sesuatu yang busuk, berbau kurang sedap, dan sakit amat dalam. Jadi metafora "jam mengucurkan detak nanah" adalah metafora waktu yang terus mengucurkan kebusukan atau penderitaan yang amat dalam, seperti watak jahat manusia, sehingga mendatangkan azab Tuhan berupa bencana banjir besar. Bencana banjir tersebut membawa luka duka, penderitaan, dan kesedihan yang tiada tara bagi umat manusia yang hidup di dunia, seperti banjir besar pada zaman Nabi Nuh.

Pernyataan itu semakin dipertegas dengan "tak ada yang luput bahkan mimpi tak". Penderitaan atau kesengsaraan itu membuat mimpi(berkhayal, berangan-angan) pun tidak bisa karena terus-menerus menghadapi bencana. Pernyataan ini merupakan representasi penderitaan hidup yang panjang dan melelahkan sehingga tak seorang pun luput dari penderitaan hidup tersebut.

Penderitaan hidup di dunia ini merupakan metafora pelayaran bahtera Nuh mengarungi lautan. Ketika berada di tengah laut, mereka merindukan daratan "tanah, tanah, tanah". Tanah atau daratan yang menonjol di tengah lautan dianggap sebagai puncak. Oleh karena itu, doa mereka pada Tuhan "beri aku puncak untuk mulai lagi berpijak" merupakan metafora, permintaan diberi puncak juga mempresentasikan berlabuhnya pikiran atau angan-angan yang membumi.


Kontributor: Azi Satria

Makna Sajak Nuh

Ilustrasi: Kapal Nabi Nuh
Sajak "Nuh" karya Sutardji Calzoum Bachri secara jelas menunjukkan ujian terberat Nuh sebagai Nabi dan Rasul Tuhan, yakni mendapat musibah air bah. Namun setelah melalui ujian terberat dari Tuhan itu, Nuh beserta umatnya yang beriman kembali hidup membumi.

Nuh

di tengah luka paya-paya
lintah hitam makan bulan
taklagi matari
jam mengucurkan
detak nanah
tak ada yang luput
bahkan mimpi tak
tanah tanah tanah
beri aku puncak
untuk mulai lagi berpijak!
1977


Sutardji Calzoum Bachri, 1981, O Amuk Kapak, hlm. 116


Makna Sajak Nuh

Makna kehadiran Nuh secara khusus dalam sajak ini adalah sebagai pembawa harapan, pengantar umat ke jalan yang benar. Dari kegelapan menuju sinar terang.

"Nuh di tengah luka paya-paya" mempresentasikan keberadaan Nuh dan umatnya dalam kesengsaraan dan penderitaan. Arti dari "Luka paya-paya" adalah keadaan dimana kulit menjadi sobek akibat luka benturan benda tajam. Dari sobekan itu keluar darah. Metafora ini sesuai dengan penderitaan Nuh dan umatnya saat terjadi musibah air bah yang penuh derita dan luka. Pelayaran Nuh juga merupakan metafora perjalanan hidup manusia dari pondok dunia menuju akhirat yang penuh rintangan dan derita.

Di tengah penderitaan seperti itu tidak ada satu pun cahaya yang mampu menerangi bumi, baik siang ataupun malam karena "lintah hitam makan bulan/ taklagi matari". Pernyataan ini merepresentasikan keadaan dunia yang gelap gulita karena awan hitam menutupi bulan pada malam hari dan menutupi matahari pada siang harinya. Kegelapan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi secara metaforis bersifat psikis atau kejiwaan. Hati manusia menjadi gelap gulita karena tiada cahaya Illahi menerangi jiwanya, kegelapan ini disebabkan angan dan bertumpuknya berbagai keinginan sehingga menutupi "sinar bulan" yang merupakan metafora dari ajaran Tuhan yang mampu mengangkat manusia dari lembah penderitaan.

Selanjutnya jam sebagai penunjuk atau alat pengukur waktu tidak memungkinkan mampu mengucurkan detak nanah. Kata nanah berarti cairan busuk yang keluar dari luka berwarna putih kehijauan merupakan metafora sesuatu yang busuk, berbau kurang sedap, dan sakit amat dalam. Jadi metafora "jam mengucurkan detak nanah" adalah metafora waktu yang terus mengucurkan kebusukan atau penderitaan yang amat dalam, seperti watak jahat manusia, sehingga mendatangkan azab Tuhan berupa bencana banjir besar. Bencana banjir tersebut membawa luka duka, penderitaan, dan kesedihan yang tiada tara bagi umat manusia yang hidup di dunia, seperti banjir besar pada zaman Nabi Nuh.

Pernyataan itu semakin dipertegas dengan "tak ada yang luput bahkan mimpi tak". Penderitaan atau kesengsaraan itu membuat mimpi(berkhayal, berangan-angan) pun tidak bisa karena terus-menerus menghadapi bencana. Pernyataan ini merupakan representasi penderitaan hidup yang panjang dan melelahkan sehingga tak seorang pun luput dari penderitaan hidup tersebut.

Penderitaan hidup di dunia ini merupakan metafora pelayaran bahtera Nuh mengarungi lautan. Ketika berada di tengah laut, mereka merindukan daratan "tanah, tanah, tanah". Tanah atau daratan yang menonjol di tengah lautan dianggap sebagai puncak. Oleh karena itu, doa mereka pada Tuhan "beri aku puncak untuk mulai lagi berpijak" merupakan metafora, permintaan diberi puncak juga mempresentasikan berlabuhnya pikiran atau angan-angan yang membumi.


Kontributor: Azi Satria