Untuk Apa Bersekolah, Kalau di Sekolah Tak Belajar
Meme kritis, menanggapi hari pertama masuk sekolah

Editorial Riau JOS!*, Senin, 18 Juli 2016


Membahas tema "Hari Pertama Masuk Sekolah", berita Riau JOS!* dengan Judul "Gerakan Nasional Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah" mendapatkan respon kritis dari Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Riau, Edy Syarifuddin.

Ketua Bawaslu Riau, Edy Syarifuddin mencoba mengkritisi kondisi terakhir bangsa ini, yang sedang heboh dengan sejarah yang dibuat-buat, sehingga membuat kalut anak-anak sekolah dalam mempelajari pelajaran sejarah. Berikut benaman komen status Facebook, Ketua Bawaslu Riau.



"Mungkin ini juga salah satu penyebab, "pemikiran alumni sekolah menjadi beda-beda juga," toh orang gak punya sejarah sekolah bisa ngukir "sejarah", inilah negeri buku sejarah," tulis Ketua Bawaslu Riau, sekitar 24 menit yang lalu, sejak berita ini diterbitkan, Senin dini hari, 18 Juli 2016.

Mengulas, apa yang ditulis Ketua Bawaslu Riau, "Orang Gak Sekolah, Bisa Mengukir Sejarah," dapat dimaksudkan, bahwa kualitas pendidikan di Indonesia, bahkan di dunia masih dalam proses perbaikan, artinya belum pada kata final, "model pendidikan negara mana yang dapat dikatakan maju?" jawabnya, semua model pendidikan adalah eksperimen sampai dengan hari ini, lebih jelasnya lagi, semua model pendidikan masih dalam proses perbaikan.

Benar adanya, jika Ketua Bawaslu Riau, Edy mengkritisi, dalam bahasa lugasnya kira-kira seperti ini, "orang tak sekolah, bisa mengukir sejarah, lantas, banyak orang sekolah, namun sedikit yang mampu menorehkan sejarah".

Kalau merunut sejarah, memang benar, bahwa sejarah banyak diukir oleh orang-orang yang tak bersekolah, bahkan putus sekolah, dan ada juga di usir dari sekolah, seperti kisah penemu bola lampu, Thomas Alfa Edison.

Ada juga, meme yang mengkritisi perjalanan sejarah hari pertama masuk sekolah, seperti yang terlihat pada gambar palinga atas, "Ngapain Sekolah, Kalu Ujung-ujungnya Gak Belajar", ini bukti, kalau masih banyak persoalan yang dihadapi sekolah, banyak para siswa yang datang ke sekolah hanya karena dorongan orangtua untuk meneruskan tradisi klasik dari sejak zaman yunani kuno hingga abad digital ini.

Sangat disayangkan, apabila para pendidik disekolah hanya menanamkan nilai untuk sekedar berangkat sekolah, namun lupa untuk mengingatkan, bahwa belajar di sekolah tujuan intinya adalah belajar, bukan yang lain, bukan main-main, apalagi sekedar untuk mendapatkan jatah uang jajan dari orang tua.

Semoga ini menjadi tahun pertama, bahwa berangkat sekolah, sampai di sekolah langsung belajar, bukan yang lain. Konsep kelas, yang hanya sesempit ruang belajar di sekolah, juga seharusnya di hapus dalam benak para pendidik, jadi para pendidik tidak lagi mendidik pada jam sekolah, namun sepanjang masa, dalam artian, siswa didik dapat belajar pada guru, tidak hanya di sekolah, namun sepanjang usia pendidik, tetap harus menyelami perkembangan kejiwaan anak didiknya sampai kapanpun, dan dinyatakan pensiun mendidik, jika sudah tutup usia.

Demikian, semoga editorial Riau JOS!* membantu perbaikan pendidikan pada hari pertama masuk sekolah.


Hari Pertama Masuk Sekolah: Inilah Negeri Buku Sejarah

Untuk Apa Bersekolah, Kalau di Sekolah Tak Belajar
Meme kritis, menanggapi hari pertama masuk sekolah

Editorial Riau JOS!*, Senin, 18 Juli 2016


Membahas tema "Hari Pertama Masuk Sekolah", berita Riau JOS!* dengan Judul "Gerakan Nasional Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah" mendapatkan respon kritis dari Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Riau, Edy Syarifuddin.

Ketua Bawaslu Riau, Edy Syarifuddin mencoba mengkritisi kondisi terakhir bangsa ini, yang sedang heboh dengan sejarah yang dibuat-buat, sehingga membuat kalut anak-anak sekolah dalam mempelajari pelajaran sejarah. Berikut benaman komen status Facebook, Ketua Bawaslu Riau.



"Mungkin ini juga salah satu penyebab, "pemikiran alumni sekolah menjadi beda-beda juga," toh orang gak punya sejarah sekolah bisa ngukir "sejarah", inilah negeri buku sejarah," tulis Ketua Bawaslu Riau, sekitar 24 menit yang lalu, sejak berita ini diterbitkan, Senin dini hari, 18 Juli 2016.

Mengulas, apa yang ditulis Ketua Bawaslu Riau, "Orang Gak Sekolah, Bisa Mengukir Sejarah," dapat dimaksudkan, bahwa kualitas pendidikan di Indonesia, bahkan di dunia masih dalam proses perbaikan, artinya belum pada kata final, "model pendidikan negara mana yang dapat dikatakan maju?" jawabnya, semua model pendidikan adalah eksperimen sampai dengan hari ini, lebih jelasnya lagi, semua model pendidikan masih dalam proses perbaikan.

Benar adanya, jika Ketua Bawaslu Riau, Edy mengkritisi, dalam bahasa lugasnya kira-kira seperti ini, "orang tak sekolah, bisa mengukir sejarah, lantas, banyak orang sekolah, namun sedikit yang mampu menorehkan sejarah".

Kalau merunut sejarah, memang benar, bahwa sejarah banyak diukir oleh orang-orang yang tak bersekolah, bahkan putus sekolah, dan ada juga di usir dari sekolah, seperti kisah penemu bola lampu, Thomas Alfa Edison.

Ada juga, meme yang mengkritisi perjalanan sejarah hari pertama masuk sekolah, seperti yang terlihat pada gambar palinga atas, "Ngapain Sekolah, Kalu Ujung-ujungnya Gak Belajar", ini bukti, kalau masih banyak persoalan yang dihadapi sekolah, banyak para siswa yang datang ke sekolah hanya karena dorongan orangtua untuk meneruskan tradisi klasik dari sejak zaman yunani kuno hingga abad digital ini.

Sangat disayangkan, apabila para pendidik disekolah hanya menanamkan nilai untuk sekedar berangkat sekolah, namun lupa untuk mengingatkan, bahwa belajar di sekolah tujuan intinya adalah belajar, bukan yang lain, bukan main-main, apalagi sekedar untuk mendapatkan jatah uang jajan dari orang tua.

Semoga ini menjadi tahun pertama, bahwa berangkat sekolah, sampai di sekolah langsung belajar, bukan yang lain. Konsep kelas, yang hanya sesempit ruang belajar di sekolah, juga seharusnya di hapus dalam benak para pendidik, jadi para pendidik tidak lagi mendidik pada jam sekolah, namun sepanjang masa, dalam artian, siswa didik dapat belajar pada guru, tidak hanya di sekolah, namun sepanjang usia pendidik, tetap harus menyelami perkembangan kejiwaan anak didiknya sampai kapanpun, dan dinyatakan pensiun mendidik, jika sudah tutup usia.

Demikian, semoga editorial Riau JOS!* membantu perbaikan pendidikan pada hari pertama masuk sekolah.