Ke pengadilan negeri Sidoarjo
Ratusan Guru Demo gelar aksi solidaritas mendukung rekan kerjanya yang dilaporkan mencubit siswanya.
Riau JOS!*, Sidoarjo - Para orang tua, jangan terkecoh atas laporan anak-anak disekolah, di Sidoarjo, Jawa Timur, Ada seorang peserta didik lapor ke Orangtuanya dicubit oleh Gurunya. Kemudian, tanpa "babibu", si Orangtua melaporkan Guru ke Pengadilan. Mungkin karena terlalu cinta kepada anak, sehingga menjadi buta, seolah apa yang dilaporkan anak adalah benar adanya.

Dilansir beritajatim.com, Sebanyak 200 guru PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) menggelar aksi solidaritas dukungan pembebasan terhadap Moh Sambudi (50), seorang guru jalani sidang di Pengadilan Negeri Sidoarjo karena diduga melakukan pencubitan terhadap Syafiraf Sanjani (15), siswanya sendiri di SMP Raden Rahmat Balongbendo.

Dalam aksi menuju kantor PN Sidoarjo, para guru longmach dari alun-alun menuju Pengadilan Negeri Sidoarjo. Berbagai macam poster kecaman terhadap korban pencubitan. Dalam orasinya, ratusan guru ini juga meminta agar Moh Sambudi dibebeaskan dari tuntutan. "Kalau tidak mau dididik, didik sendiri, buat raport sendiri," teriak salah satu peserta demonstran, Selasa, 27 Juni 2017.

Ketua Lembaga Badan Hukum PGRI Sidoarjo, Ghufron mengatakan bahwa rekannya difitnah. Dirinya juga kaget ketika Moh Sambudi dipanggil menjadi tersangka pencubitan tanpa adanya penyidikan.

"Sebenarnya pihak terlapor ini difitnah. Padahal masalahnya hanya menepuk pundak siswa karena enggan melakukan sholat dhuha, tidak di cubit. Padahal peristiwa itu lima hari sebelumnya, kok masih ada bekas cubitan," terang Ghufron.

Moh Sambudi, terdakwa mengatakan bahwa saat itu dirinya melihat kurang lebih 30 anak yang tidak ikut sholat dhuha, sedang berada dipinggiran sungai. Ketika dipanggil, dirinya disuruh berbaris sambil membaca doa serta ditepuk pundaknya oleh guru Matematika ini.

"Saya tidak mencubit siapapun. Waktu itu, ada beberapa siswa main di pinggiran sungai dan tidak ikut sholat dhuha," ujar Moh Sambudi ditirukan Ghufron.

Sementara itu, jalannya sidang tuntutan yang sebelumnya ditunda, kali ini hakim melakukan hal yang sama. Karena, Jaksa Penuntut Umum (JPU) belum siap.


Sumber: beritajatim.com

Guru Tepuk Pundak, Dilaporkan Mencubit

Ke pengadilan negeri Sidoarjo
Ratusan Guru Demo gelar aksi solidaritas mendukung rekan kerjanya yang dilaporkan mencubit siswanya.
Riau JOS!*, Sidoarjo - Para orang tua, jangan terkecoh atas laporan anak-anak disekolah, di Sidoarjo, Jawa Timur, Ada seorang peserta didik lapor ke Orangtuanya dicubit oleh Gurunya. Kemudian, tanpa "babibu", si Orangtua melaporkan Guru ke Pengadilan. Mungkin karena terlalu cinta kepada anak, sehingga menjadi buta, seolah apa yang dilaporkan anak adalah benar adanya.

Dilansir beritajatim.com, Sebanyak 200 guru PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) menggelar aksi solidaritas dukungan pembebasan terhadap Moh Sambudi (50), seorang guru jalani sidang di Pengadilan Negeri Sidoarjo karena diduga melakukan pencubitan terhadap Syafiraf Sanjani (15), siswanya sendiri di SMP Raden Rahmat Balongbendo.

Dalam aksi menuju kantor PN Sidoarjo, para guru longmach dari alun-alun menuju Pengadilan Negeri Sidoarjo. Berbagai macam poster kecaman terhadap korban pencubitan. Dalam orasinya, ratusan guru ini juga meminta agar Moh Sambudi dibebeaskan dari tuntutan. "Kalau tidak mau dididik, didik sendiri, buat raport sendiri," teriak salah satu peserta demonstran, Selasa, 27 Juni 2017.

Ketua Lembaga Badan Hukum PGRI Sidoarjo, Ghufron mengatakan bahwa rekannya difitnah. Dirinya juga kaget ketika Moh Sambudi dipanggil menjadi tersangka pencubitan tanpa adanya penyidikan.

"Sebenarnya pihak terlapor ini difitnah. Padahal masalahnya hanya menepuk pundak siswa karena enggan melakukan sholat dhuha, tidak di cubit. Padahal peristiwa itu lima hari sebelumnya, kok masih ada bekas cubitan," terang Ghufron.

Moh Sambudi, terdakwa mengatakan bahwa saat itu dirinya melihat kurang lebih 30 anak yang tidak ikut sholat dhuha, sedang berada dipinggiran sungai. Ketika dipanggil, dirinya disuruh berbaris sambil membaca doa serta ditepuk pundaknya oleh guru Matematika ini.

"Saya tidak mencubit siapapun. Waktu itu, ada beberapa siswa main di pinggiran sungai dan tidak ikut sholat dhuha," ujar Moh Sambudi ditirukan Ghufron.

Sementara itu, jalannya sidang tuntutan yang sebelumnya ditunda, kali ini hakim melakukan hal yang sama. Karena, Jaksa Penuntut Umum (JPU) belum siap.


Sumber: beritajatim.com