Bangkitnya Pelawak Gaya Baru
Ilustrasi: http://g.alibaba.com
               
Mungkin hampir setiap orang yang menduduki posisi yang berpengaruh, baik dalam organisasi massa ataupun alumni barak, saat ini tengah berlomba-lomba memberikan pendapat mereka, yang sering kali gagal terlihat serius dan malah mengundang gelak tawa, tentang isu yang sedang hangat di negeri ini: komunisme. Kadang, jawaban mereka yang serius jauh lebih lucu dari materi lawakan para stand up comedian di negeri kita ini. Mereka adalah pelawak gaya baru negeri ini.
                Untuk negara yang sedang dengan pelan tapi pasti makin larut dalam pencariannya akan siapa yang benar dan siapa yang salah di dalam pergolakan politik masa lalu, tentu banyak sekali pertanyaan yang muncul di benak para pencarinya, tentu banyak pula jawaban lucu dan susah dicerna akal sehat dari orang-orang yang berusaha untuk menguatkan kembali narasi sejarah yang sedang diragukan tersebut. Mulai dari liberalisme itu sama dengan komunisme, materialism-dialektika berasal dari Aristoteles yang tidak percaya Tuhan, hingga komunisme digagas oleh Thomas Darwin yang katanya juga pencetus teori evolusi. Selain segala pembubaran screening film dan pembubaran diskusi yang dinilai sedang menyebarkan paham komunisme, dan bagi saya hal itu tentu salah, pihak-pihak yang anti terhadap pemikiran atas nama nasionalisme-patriotisme-religiusitas tersebut ternyata juga ahli membuat kita tertawa terbahak-bahak.
                Dalam situasi sedemikian lucu, dan juga kacau balau, saya menyadari satu hal: Indonesia tidak akan pernah kehilangan pelawak. Masalah seberat ideologi politik dan kebenaran sejarah semacam pembantaian kader dan simpatisan serta tertuduh komunis, penahanan tanpa proses hukum yang jelas bagi orang-orang terindikasi kiri, dan polemik kebangkitan kembali Partai Komunis Indonesia; semuanya melahirkan pelawak-pelawak anyar yang tidak kalah lucu dengan pelawak yang sudah menggeluti dunia lawak sedari potongan rambut saya masih cepak 1,5 cm.
                Keadaan pelik yang sedang kita alami saat ini di satu sisi memang sangat menyedihkan dan membuat kita berpikir bahwa Indonesia semakin lama semakin mirip kondisi saat rezim orde baru, keadaan yang tragedis, namun saya punya kepercayaan bahwa ini tidak akan berlangsung lama. Karena walaupun diskusi dibubarkan, buku-buku disita, dan hak untuk berpikir sedang lowkey diserang; kita tetap memiliki akal pikiran yang tak akan pernah bisa mereka kekang. Jangan patah semangat dan tetaplah berpikir dan melawan dengan gagasan.
                Karena seperti kata Carol Burnett, bukan Woody Allen, “comedy is tragedy plus time”. Tragedi kemanusiaan ini akan lucu pada waktunya, setakat belum semua orang bisa menertawakan situasi pelik ini, maka dari itu selain tertawa mari kita juga melawan.

Sumber

Bangkitnya Pelawak Gaya Baru

Bangkitnya Pelawak Gaya Baru
Ilustrasi: http://g.alibaba.com
               
Mungkin hampir setiap orang yang menduduki posisi yang berpengaruh, baik dalam organisasi massa ataupun alumni barak, saat ini tengah berlomba-lomba memberikan pendapat mereka, yang sering kali gagal terlihat serius dan malah mengundang gelak tawa, tentang isu yang sedang hangat di negeri ini: komunisme. Kadang, jawaban mereka yang serius jauh lebih lucu dari materi lawakan para stand up comedian di negeri kita ini. Mereka adalah pelawak gaya baru negeri ini.
                Untuk negara yang sedang dengan pelan tapi pasti makin larut dalam pencariannya akan siapa yang benar dan siapa yang salah di dalam pergolakan politik masa lalu, tentu banyak sekali pertanyaan yang muncul di benak para pencarinya, tentu banyak pula jawaban lucu dan susah dicerna akal sehat dari orang-orang yang berusaha untuk menguatkan kembali narasi sejarah yang sedang diragukan tersebut. Mulai dari liberalisme itu sama dengan komunisme, materialism-dialektika berasal dari Aristoteles yang tidak percaya Tuhan, hingga komunisme digagas oleh Thomas Darwin yang katanya juga pencetus teori evolusi. Selain segala pembubaran screening film dan pembubaran diskusi yang dinilai sedang menyebarkan paham komunisme, dan bagi saya hal itu tentu salah, pihak-pihak yang anti terhadap pemikiran atas nama nasionalisme-patriotisme-religiusitas tersebut ternyata juga ahli membuat kita tertawa terbahak-bahak.
                Dalam situasi sedemikian lucu, dan juga kacau balau, saya menyadari satu hal: Indonesia tidak akan pernah kehilangan pelawak. Masalah seberat ideologi politik dan kebenaran sejarah semacam pembantaian kader dan simpatisan serta tertuduh komunis, penahanan tanpa proses hukum yang jelas bagi orang-orang terindikasi kiri, dan polemik kebangkitan kembali Partai Komunis Indonesia; semuanya melahirkan pelawak-pelawak anyar yang tidak kalah lucu dengan pelawak yang sudah menggeluti dunia lawak sedari potongan rambut saya masih cepak 1,5 cm.
                Keadaan pelik yang sedang kita alami saat ini di satu sisi memang sangat menyedihkan dan membuat kita berpikir bahwa Indonesia semakin lama semakin mirip kondisi saat rezim orde baru, keadaan yang tragedis, namun saya punya kepercayaan bahwa ini tidak akan berlangsung lama. Karena walaupun diskusi dibubarkan, buku-buku disita, dan hak untuk berpikir sedang lowkey diserang; kita tetap memiliki akal pikiran yang tak akan pernah bisa mereka kekang. Jangan patah semangat dan tetaplah berpikir dan melawan dengan gagasan.
                Karena seperti kata Carol Burnett, bukan Woody Allen, “comedy is tragedy plus time”. Tragedi kemanusiaan ini akan lucu pada waktunya, setakat belum semua orang bisa menertawakan situasi pelik ini, maka dari itu selain tertawa mari kita juga melawan.

Sumber