Social Items

Ilustrasi: i.kinja-img.com

Sekali saja dulu, setelah kesekali itu jadi kedua kali(ya iya), pernah saya mendengar dari salah satu manusia yang suka dinosaurus bahwa dia ingin memiliki pterodactyl. Tidak apa. Manusia memang banyak inginnya. Namanya juga manusia. Bukan malaikat.
Tetapi ya hanya itu. Keinginan. Apakah dengan menyuarakan pada dunia (saya maksudnya) keinginannya, lantas Ia serta merta dapat mengemban amanat yang akan muncul dari kepemilikan seekor pterodactyl? Ya belum tentu! Susah loh ngurusin dinosaurus.
Pterodactyl itu keren. Jelas. Bayangkan saja, kadal, tapi mirip ayam kurang gizi, dan bisa melayang-layang. Siapa yang tidak pernah membayangkan punya pterodactyl dan saat ngopi pagi dibawakan oleh pterodactyl koran paginya, dan dibawakan langsung dari tempat percetakannya pula. Atau saat sedang mencoba untuk hidup sehat dan memutuskan untuk berjalan saja ke kantor atau ke warung kopi, kedua tempat itu hanya untuk ngopi lagi dan merokok tentunya, dan di tengah jalan merasa bahwa kehidupan ini sejatinya tidak berarti dan mending saya naik pterodactyl, gampang kan, tinggal siul-siul sedikit dan pterodactyl kesayangan awak akan datang dan membawamu ke tujuanmu dalam sekejap atau tigakejap. Sangat amat keren.
Tetapi masalahnya di sini, pterodactyl itu sudah punah. Kuburlah jauh-jauh mimpi awak untuk bisa memelihara bahkan seekorpun. Oke. Memang kalau begitu mimpi yang saya jabarkan tadi jadi percuma dan tidak patut dibahas sama sekali, tetapi mari bayangkan saja kalau ada. Tetap ada masalah, wak!
Banyak sih orang yang pengen P (pterodactyl) yang besar dan kuat dan dapat memuaskan diri sendiri dan orang lain, tetapi berapa ekor manusia sih yang mau memperjuangkan pterodactyl untuk hidup dan berkembang hingga menjadi teman-kendaraan-pajangan yang keren? Bisa dihitung jari.
Saat ini, menurut hemat saya, banyak orang yang bilang ingin ini atau itu, tetapi tidak siap untuk berjuang untuk keinginan itu! Ya tidak berjuang dengan bambu runcing atau bedil juga, maksudku berjuang dalam artian mau memelihara dari kecil, memberi makan setiap hari, melatihnya, memahaminya, memberinya rasa aman, dan menjadikannya seorang binatang kepunyaan warga yang memegang teguh falsafah Pancasila. Coret saja bagian akhir tadi. Berjuang! Berupaya! All out! Pantang menyerah!
Hanya dengan pengabdian penuh dan niat yang luruslah seseorang dapat memiliki pterodactyl yang hebat! Kalau cuma berani beli telurnya dan nanti telur itu dierami sama ayam sayur, pasti itu telur melahirkan seekor pterodactyl yang keayam-ayaman pula! Beda kalau dierami oleh pribadi yang kuat, semangat, sehat, bermartabat, berbakat, dan rajin sholat. Pasti pterodactyl yang lahir adalah calon ulama, bisa pula yang lahir pterodactyl yang tidak ulama sih, ya saya nggak tau, yang jelas bakal ada ikatan bathin antara yang mengerami dan yang dierami.
Intinya sih begini, manusia sudah tidak ingin berjuang dan memiliki hubungan yang lebih dari hubungan ragawi semata. Kita sering ingin enaknya hasil, tanpa melalui gak enaknya proses (jujur saya juga gitu. Tapi sama anjing, bukan ayam kurang gizi tua macam pterodactyl). Kita ingin mainan, bukan teman. Ingin senang saja, tanpa sedih. Maunya terang, nggak mau gelap. Lah memang hidup sehitam-putih itu?

Aku Pengen Punya Pterodactyl

Ilustrasi: i.kinja-img.com

Sekali saja dulu, setelah kesekali itu jadi kedua kali(ya iya), pernah saya mendengar dari salah satu manusia yang suka dinosaurus bahwa dia ingin memiliki pterodactyl. Tidak apa. Manusia memang banyak inginnya. Namanya juga manusia. Bukan malaikat.
Tetapi ya hanya itu. Keinginan. Apakah dengan menyuarakan pada dunia (saya maksudnya) keinginannya, lantas Ia serta merta dapat mengemban amanat yang akan muncul dari kepemilikan seekor pterodactyl? Ya belum tentu! Susah loh ngurusin dinosaurus.
Pterodactyl itu keren. Jelas. Bayangkan saja, kadal, tapi mirip ayam kurang gizi, dan bisa melayang-layang. Siapa yang tidak pernah membayangkan punya pterodactyl dan saat ngopi pagi dibawakan oleh pterodactyl koran paginya, dan dibawakan langsung dari tempat percetakannya pula. Atau saat sedang mencoba untuk hidup sehat dan memutuskan untuk berjalan saja ke kantor atau ke warung kopi, kedua tempat itu hanya untuk ngopi lagi dan merokok tentunya, dan di tengah jalan merasa bahwa kehidupan ini sejatinya tidak berarti dan mending saya naik pterodactyl, gampang kan, tinggal siul-siul sedikit dan pterodactyl kesayangan awak akan datang dan membawamu ke tujuanmu dalam sekejap atau tigakejap. Sangat amat keren.
Tetapi masalahnya di sini, pterodactyl itu sudah punah. Kuburlah jauh-jauh mimpi awak untuk bisa memelihara bahkan seekorpun. Oke. Memang kalau begitu mimpi yang saya jabarkan tadi jadi percuma dan tidak patut dibahas sama sekali, tetapi mari bayangkan saja kalau ada. Tetap ada masalah, wak!
Banyak sih orang yang pengen P (pterodactyl) yang besar dan kuat dan dapat memuaskan diri sendiri dan orang lain, tetapi berapa ekor manusia sih yang mau memperjuangkan pterodactyl untuk hidup dan berkembang hingga menjadi teman-kendaraan-pajangan yang keren? Bisa dihitung jari.
Saat ini, menurut hemat saya, banyak orang yang bilang ingin ini atau itu, tetapi tidak siap untuk berjuang untuk keinginan itu! Ya tidak berjuang dengan bambu runcing atau bedil juga, maksudku berjuang dalam artian mau memelihara dari kecil, memberi makan setiap hari, melatihnya, memahaminya, memberinya rasa aman, dan menjadikannya seorang binatang kepunyaan warga yang memegang teguh falsafah Pancasila. Coret saja bagian akhir tadi. Berjuang! Berupaya! All out! Pantang menyerah!
Hanya dengan pengabdian penuh dan niat yang luruslah seseorang dapat memiliki pterodactyl yang hebat! Kalau cuma berani beli telurnya dan nanti telur itu dierami sama ayam sayur, pasti itu telur melahirkan seekor pterodactyl yang keayam-ayaman pula! Beda kalau dierami oleh pribadi yang kuat, semangat, sehat, bermartabat, berbakat, dan rajin sholat. Pasti pterodactyl yang lahir adalah calon ulama, bisa pula yang lahir pterodactyl yang tidak ulama sih, ya saya nggak tau, yang jelas bakal ada ikatan bathin antara yang mengerami dan yang dierami.
Intinya sih begini, manusia sudah tidak ingin berjuang dan memiliki hubungan yang lebih dari hubungan ragawi semata. Kita sering ingin enaknya hasil, tanpa melalui gak enaknya proses (jujur saya juga gitu. Tapi sama anjing, bukan ayam kurang gizi tua macam pterodactyl). Kita ingin mainan, bukan teman. Ingin senang saja, tanpa sedih. Maunya terang, nggak mau gelap. Lah memang hidup sehitam-putih itu?