Adegan Batman Menikah dengan Ratu Kerajaan
Adegan Batman Menikah dengan Ratu Kerajaan


Pada jaman dahulu seorang pendongeng akan duduk dikeramaian seperti di pasar misalnya, banyak orang menghampiri untuk menyimak cerita para pendongen tersebut, namun cerita dan dongeng tersebut sudah berubah menjadi sebuah media modern seperti TV, video streaming, bahkan bioskop.

Sebuah kisah atau cerita mampu menginspirasi banyak orang dan terbukti efektif. Diluar baik atau buruknya sebuah cerita mampu menggerakkan seseorang untuk mengikuti apa yang dia terima dari sebuah cerita tersebut. Seperti kejadian seorang anak lompat dari gedung gara-gara nonton kartun, bahkan seorang yang terinspirasi dari kisah sukses orang lain.

Namun cerita-cerita yang baikpun belum tentu memberikan dampak yang baik, misal sebuah cerita tentang tokoh yang protagonis dalam sebuah sinetron digambarkan harus menghadapi sorang antagonis yang selalu berkonfrontasi. Hal ini mengajarkan pada kita selalu berprasangka dan ingin berkonfrontasi dengan siapapun yang kita anggap antagonis.

Bagi anda yang cukup kenyang dengan tayangan TVRI pada tahun 90an banyak tayangan yang memiliki nilai-nilai yang baik. Namun kontras sekali dengan tayangan sekarang anak-anak sudah diajarkan tentang konfrontasi.

Yang Jadi Pertanyaan Saya Sekarang 

Kenapa banyak cerita-cerita inspiratif yang sangat diminati masyarakat kenapa tidak digarap?

Dalam sebuah blog yang saya kelola tentang kumpulan kisah, dongeng dan cerita inspiratif sangat banyak pengunjung yang betah membaca tulisan saya, padahal saya seorang pengidap diseleksia tentunya cerita yang saya tulis ulang kadang kurang enak untuk di ikuti, namun ternyata banyak juga pengunjung yang membaca cerita dan dongeng yang saya tulis.

Hal ini tandanya bangsa Indonesia ini haus akan cerita-cerita yang memiliki nilai-nilai kebaikan. Artinya tidak harus dengan tayangan yang tidak mendidik untuk menaikkan rating atau trafik.

Tidak perlu sampai ada adegan Batman Menikah dengan Ratu Kerajaan


Kontributor: Ike Merdekawati

Adegan Batman Menikah dengan Ratu Kerajaan

Adegan Batman Menikah dengan Ratu Kerajaan
Adegan Batman Menikah dengan Ratu Kerajaan


Pada jaman dahulu seorang pendongeng akan duduk dikeramaian seperti di pasar misalnya, banyak orang menghampiri untuk menyimak cerita para pendongen tersebut, namun cerita dan dongeng tersebut sudah berubah menjadi sebuah media modern seperti TV, video streaming, bahkan bioskop.

Sebuah kisah atau cerita mampu menginspirasi banyak orang dan terbukti efektif. Diluar baik atau buruknya sebuah cerita mampu menggerakkan seseorang untuk mengikuti apa yang dia terima dari sebuah cerita tersebut. Seperti kejadian seorang anak lompat dari gedung gara-gara nonton kartun, bahkan seorang yang terinspirasi dari kisah sukses orang lain.

Namun cerita-cerita yang baikpun belum tentu memberikan dampak yang baik, misal sebuah cerita tentang tokoh yang protagonis dalam sebuah sinetron digambarkan harus menghadapi sorang antagonis yang selalu berkonfrontasi. Hal ini mengajarkan pada kita selalu berprasangka dan ingin berkonfrontasi dengan siapapun yang kita anggap antagonis.

Bagi anda yang cukup kenyang dengan tayangan TVRI pada tahun 90an banyak tayangan yang memiliki nilai-nilai yang baik. Namun kontras sekali dengan tayangan sekarang anak-anak sudah diajarkan tentang konfrontasi.

Yang Jadi Pertanyaan Saya Sekarang 

Kenapa banyak cerita-cerita inspiratif yang sangat diminati masyarakat kenapa tidak digarap?

Dalam sebuah blog yang saya kelola tentang kumpulan kisah, dongeng dan cerita inspiratif sangat banyak pengunjung yang betah membaca tulisan saya, padahal saya seorang pengidap diseleksia tentunya cerita yang saya tulis ulang kadang kurang enak untuk di ikuti, namun ternyata banyak juga pengunjung yang membaca cerita dan dongeng yang saya tulis.

Hal ini tandanya bangsa Indonesia ini haus akan cerita-cerita yang memiliki nilai-nilai kebaikan. Artinya tidak harus dengan tayangan yang tidak mendidik untuk menaikkan rating atau trafik.

Tidak perlu sampai ada adegan Batman Menikah dengan Ratu Kerajaan


Kontributor: Ike Merdekawati