Ritual Bakar Tongkang, sudah berlangsung sejak 134 tahun silam
Ritual Bakar Tongkang, di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau/capture: katariau.com
RiauJOS.com - Ritual bersejarah "Bakar Tongkang", memang tak bisa dihindari, pasalnya sudah masuk agenda tahunan di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Menurut Pantauan RiauJOS!* di liputan waktu nyata news.google.com, semua media sibuk meliput kegiatan ini. Kabarnya, sudah lama pula Provinsi Riau ingin mengekspos tradisi yang bernilai pariwisata ini, dilabeli dengan tema "Riau Menyapa Dunia".
Dilansir, katariau.com, kemarin Senin, Festival Bakar Tongkang merupakan acara tahunan terbesar di Riau. Festival ini dilakukan oleh masyarakat Tionghoa di Riau untuk memperingati kehadiran masyarakat Tionghoa ke tanah Bagansiapiapi tahun 1820.

Pembakaran tongkang menandakan tekad mereka untuk tidak kembali ke tanah leluhur dan mengembangkan diri di Bagansiapiapi. Ritual ini telah diselenggarakan di Kota Ikan (Bagansiapiapi) sejak tahun 1878, atau sudah berlangsung sejak 134 tahun silam. Pada zaman orde baru sempat dilarang, tetapi kemudian diaktifkan kembali di era kepemimpinan Presiden Abdurahman Wahid, atau biasa disapa Gus Dur.

Warga Pekanbaru terpaksa melakukan ritual "Bakar Sampah"
Warga Pekanbaru, terpaksa melakukan ritual "Bakar Sampah"

Sampah di Pekanbaru

Sorotan media mengarah ke "Bakar Tongkang", sedangkan di Pekanbaru masalah sampah belum diatasi secara tuntas. Dijalan-jalan masih terhampar sampah-sampah berterbaran, yang sudah membusuk dan menggunung. Warga Pekanbaru sudah tak tahan lagi dengan aroma busuk sampah yang terus menumpuk, dan tak bisa dihentikan, volume sampah mulai dari sampah rumah tangga, hingga instansi pemerintah dan swasta terus diproduksi.

Alangkah indahnya, dua konsep bakar-bakar, yaitu bakar tongkang dan bakar sampah dapat digelar serempak untuk memancing minat para wisatawan luar dan lokal, Bakar Sampah di Pekanbaru dan Bakar Tongkang di Rokan Hilir. "Menyapa Dunia dengan Bakar-Bakar", mungkin tema ini cocok untuk menyulut api sebagai simbol amarah, semangat membara untuk memajukan pariwisata di Provinsi Riau ini. Bisa juga diberi nama baru, "Bakar TongPah", alias bakar tongkang plus sampah. Bagaimana, efektif dan menyukseskan semua bukan? Ritual tongkang terlaksana, dan persoalan sampah diminimalisir.

Riau Menyapa Dunia dengan Ritual Bakar TongPah

Ritual Bakar Tongkang, sudah berlangsung sejak 134 tahun silam
Ritual Bakar Tongkang, di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau/capture: katariau.com
RiauJOS.com - Ritual bersejarah "Bakar Tongkang", memang tak bisa dihindari, pasalnya sudah masuk agenda tahunan di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Menurut Pantauan RiauJOS!* di liputan waktu nyata news.google.com, semua media sibuk meliput kegiatan ini. Kabarnya, sudah lama pula Provinsi Riau ingin mengekspos tradisi yang bernilai pariwisata ini, dilabeli dengan tema "Riau Menyapa Dunia".
Dilansir, katariau.com, kemarin Senin, Festival Bakar Tongkang merupakan acara tahunan terbesar di Riau. Festival ini dilakukan oleh masyarakat Tionghoa di Riau untuk memperingati kehadiran masyarakat Tionghoa ke tanah Bagansiapiapi tahun 1820.

Pembakaran tongkang menandakan tekad mereka untuk tidak kembali ke tanah leluhur dan mengembangkan diri di Bagansiapiapi. Ritual ini telah diselenggarakan di Kota Ikan (Bagansiapiapi) sejak tahun 1878, atau sudah berlangsung sejak 134 tahun silam. Pada zaman orde baru sempat dilarang, tetapi kemudian diaktifkan kembali di era kepemimpinan Presiden Abdurahman Wahid, atau biasa disapa Gus Dur.

Warga Pekanbaru terpaksa melakukan ritual "Bakar Sampah"
Warga Pekanbaru, terpaksa melakukan ritual "Bakar Sampah"

Sampah di Pekanbaru

Sorotan media mengarah ke "Bakar Tongkang", sedangkan di Pekanbaru masalah sampah belum diatasi secara tuntas. Dijalan-jalan masih terhampar sampah-sampah berterbaran, yang sudah membusuk dan menggunung. Warga Pekanbaru sudah tak tahan lagi dengan aroma busuk sampah yang terus menumpuk, dan tak bisa dihentikan, volume sampah mulai dari sampah rumah tangga, hingga instansi pemerintah dan swasta terus diproduksi.

Alangkah indahnya, dua konsep bakar-bakar, yaitu bakar tongkang dan bakar sampah dapat digelar serempak untuk memancing minat para wisatawan luar dan lokal, Bakar Sampah di Pekanbaru dan Bakar Tongkang di Rokan Hilir. "Menyapa Dunia dengan Bakar-Bakar", mungkin tema ini cocok untuk menyulut api sebagai simbol amarah, semangat membara untuk memajukan pariwisata di Provinsi Riau ini. Bisa juga diberi nama baru, "Bakar TongPah", alias bakar tongkang plus sampah. Bagaimana, efektif dan menyukseskan semua bukan? Ritual tongkang terlaksana, dan persoalan sampah diminimalisir.