Penulis dengan karya paling banyak dibaca
George Owell


George Orwell konon adalah salah satu penulis dunia yang paling banyak dibaca karyanya. Ada dua karya George Orwell, yang paling banyak dibaca, Animal Farm dan 1984. Dua karya ini selain sangat popular sebagai karya satire, juga mendapat kecaman dari berbagai pihak. Orwell dinilai menunjukkan wajah yang berbeda dalam karya dan pandangan politik yang kerap ia tegaskan dalam wawancara atau obrolannya. Barangkali itu yang membuatnya jadi penulis yang kontroversial sekaligus banyak dibicarakan.

Selain dua novel itu, sebelumnya Orwell juga pernah menulis sebuah novel semi otobiografi yang tak kalah bagusnya. Down and Out in Paris and London, terbit dalam bahasa Indonesia sebagai Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London.

Selain menulis fiksi, Orwell juga menulis sejumlah esai dan ia terkenal dengan jurnalisme sastrawinya yang aduhai bagus. Selain menjadi novelis yang paling banyak dibaca, beberapa pihak juga menyebutnya sebagai salah satu penulis esai terbaik dalam bahasa Inggris. Salah satu kumpulan esainya yang baru terbit adalah Bagaimana si Miskin Mati.

Bagaiman Orwell menulis? Ia punya beberapa aturan yang ia tuangkan dalam “Politics and the English Language,”. Dalam tulisan ini, George Orwell memberikan enam aturan bagaimana menulis secara efektif:

1. Jangan pernah gunakan metafora, simile, atau ungkapan yang biasa kita lihat pada karya cetak

Untuk menjadi penulis yang baik, salah satu caranya adalah bagaimana memperlihatkan perbedaanmu dengan penulis yang lain. Maksudnya bukan baru atau berbeda secara utuh, sebab memang—sebagaimana adagium yang banyak kita dengarkan—tak ada yang baru di bawah matahari. Berbeda di sini bisa dimaksudkan sebagai ciri khas atau model menulis yang unik.

Jika gaya bahasamu sama, ungkapan yang kamu pakai itu-itu saja, maka kamu hanya akan menjadi seperti penulis kebanyakan. Tidak ada yang spesial dari kalimat-kalimatmu, tidak ada yang membuatmu diingat dan dikenang sebagai seorang penulis yang hebat. Maka untuk itu, jadilah penulis yang berbeda. Jangan memakai kalimat yang biasa kamu baca atau biasa ditemukan di banyak tempat.

Jika kamu menulis dengan pembukaan seperi “Tahukah Anda…”, “ Siapa yang tidak kenal…”, atau “Pada suatu hari…” maka kamu memang bukanlah penulis yang spesial. Kalimat seperti itu sudah terlalu banyak dan sering kita baca. Kalau Orwell masih hidup dan kamu menyodorkan tulisan semacam itu padanya, mungkin ia akan menamparmu, menyuruhmu masuk tong sampah dan memintamu jangan pernah bermimpi lagi menjadi penulis.

Memakai kalimat yang itu-itu saja membuat tulisanmu terasa menjemukan. Pembaca akan kabur dan memilih bacaan lain. Apalagi kalau kamu menulis semembosankan itu dari awal. Nah, sebagai penulis keren, carilah kalimat-kalimat yang unik dan memikat. Menulis adalah salah satu cara mencoba meraih hati, mencoba memikat pembaca untuk melanjutkannya sampai akhir tulisan.

2. Jangan pernah gunakan Kalimat panjang jika bisa menggunakan Kalimat pendek

Otak manusia memiliki kemapuan terbatas dalam mencerna informasi. Untuk itu, sebuah informasi harus dibikin ringkas dan jelas. Jika kalimatmu terlalu panjang, bukan hanya pembacamu yang akan kecapaian membaca, kamu juga akan ngos-ngosan saat menuliskannya.

Menulis tak harus berpanjang kata untuk mengejar kuantitas. Menulis itu bukan masalah panjang pendek, tapi masalah kualitas informasi dan gagasan. Kamu tidak perlu menambahkan kalimat-kalimat aneh hanya untuk memperpanjang cerita atau esaimu, atau untuk mempertebal bukumu. Pembaca butuh sesuatu yang cerdas dan menggugah. Membuat kalimat panjang akan menjadikan tulisanmu bertele tele dan membosankan. Pembaca butuh jeda, istirahat sejenak, menghela napas, baru melanjutkan. Jangan racuni mereka dengan kalimat panjang yang bahkan bisa berujung pada kemunculan ambigu-ambigu yang menggangu.

3. Jika mungkin menghapus sebuah kata, hapuslah

Jangan memakai kata-kata yang tidak bermaksud menjelaskan apa-apa, sekadar pemanis atau sekadar memperpanjang kalimat. Jangan menambahkan kata penjelas untuk sebuah kata yang tak perlu di jelaskan. Hapuslah kata yang membuat kalimat atau bahasamu terkesan aneh.

Misalnya: “Saya hanya ingin duduk sendirian saja.”, kalimat ini kalau tidak diamati dengan baik memang kalimat yang sehat. Padahal ada pemborosan di sana. Kalimat ini bisa kamu persingkat menjadi “Saya hanya ingin duduk sendiri.”, atau “Saya ingin duduk sendiri saja.”. Kata hanya dan saja memiliki arti yang sama. Menggunakanya bersamaan dalam satu kalimat hanya akan membuat kalimatmu cedera dan gigantis.

Buatlah kata-katamu menjadi sesuatu yang mengantar pembacamu menuju gagasan yang ingin kamu sampaikan. Menggunakan kata yang indah-indah dan dramatis boleh saja. Asalkan sesuai dan tidak menjadikanmu penulis yang boros.

4. Jangan pernah gunakan suara pasif ketika kita bisa gunakan bentuk aktif

Kalimat pasif membuat pembaca mencerna dua kali. Gunakan selalu kalimat aktif jika memungkinkan. Kalimat aktif menjadikan suara dalam tulisanmu hidup, kongkrit dan lebih bertenaga.

“Seorang anak memukuli anjing tetangga”, lebih gampang dipahami dibanding “Anjing tetangga dipukuli oleh seorang anak”. Selain perlu tambahan kata oleh dan membuatnya lebih panjang, kalimat pasif menjadikan karakter dalam tulisanmu terkesan lemah. Daripada membiarkan tokohmu terkulai lemah dan bermalasan, kamu bisa memberikan suntikan kalimat aktif untuk membuatnya hidup dan lebih bertenaga.

5. Jangan pernah gunakan frasa bahasa asing, istilah saintifik, atau jargon jika kita bisa menemukan persamaannya dalam bahasa sehari-hari

Jika memungkinkan menggunakan bahasa yang ada dalam bahasa ibumu, pakailah. Jangan memilih bahasa asing, bahasa ilmiah, bahasa latin atau bahasa lain yang membuat kalimatmu menjadi berat dan tak terpahami. Jika pembaca harus bolak balik buka kamus saat membaca tulisanmu, mereka bisa membuangnya segera ke tong sampah untuk berpindah ke tulisan lain yang lebih terang-benderang.

Pakailah kata pembuatan, perakitan, atau perancangan daripada memilih kata produksi. Pakailah kata menuduh, menghakimi daripada kata menjudge.

6. Langgarlah aturan-aturan ini secepatnya daripada menulis sesuatu dengan cara yang barbar

Aturan menulis di atas dibuat untuk memberi rambu dan memudahkanmu. Jika aturan itu membuatmu terbelenggu, membuatmu tidak produktif dan membuatmu kesusahan menulis, langgarlah aturan itu!

Aturan di atas gampang diingat tapi susah dijalankan. Maka tentu saja kamu bisa memakai kalimat pasif jika perlukan, memakai kata ilmiah atau membuat beberapa kalimat dengan anak kalimat jika itu dimaksudkan untuk memperkokoh tulisanmu. Asalkan semuanya pas, tidak berlebihan dan tidak menjadikanmu berboros ria, lakukanlah. Yang penting selalu singkat, padat dan jelas. Anjuran ini mungkin klise, tapi memang begitulah semestinya menulis.

Oh ya, aturan ini tidak akan berlalu jika kamu tidak segera memulai menulis. Orwell memberimu pilihan, selanjutnya kamu yang lebih tahu bagaimana cara menghasilkan tulisan terbaikmu. Selamat mencoba.


Sumber: masih dicari, siapa penulis aslinya?

Pelajaran Menulis dari Orwell, Cocok buat Blogger

Penulis dengan karya paling banyak dibaca
George Owell


George Orwell konon adalah salah satu penulis dunia yang paling banyak dibaca karyanya. Ada dua karya George Orwell, yang paling banyak dibaca, Animal Farm dan 1984. Dua karya ini selain sangat popular sebagai karya satire, juga mendapat kecaman dari berbagai pihak. Orwell dinilai menunjukkan wajah yang berbeda dalam karya dan pandangan politik yang kerap ia tegaskan dalam wawancara atau obrolannya. Barangkali itu yang membuatnya jadi penulis yang kontroversial sekaligus banyak dibicarakan.

Selain dua novel itu, sebelumnya Orwell juga pernah menulis sebuah novel semi otobiografi yang tak kalah bagusnya. Down and Out in Paris and London, terbit dalam bahasa Indonesia sebagai Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London.

Selain menulis fiksi, Orwell juga menulis sejumlah esai dan ia terkenal dengan jurnalisme sastrawinya yang aduhai bagus. Selain menjadi novelis yang paling banyak dibaca, beberapa pihak juga menyebutnya sebagai salah satu penulis esai terbaik dalam bahasa Inggris. Salah satu kumpulan esainya yang baru terbit adalah Bagaimana si Miskin Mati.

Bagaiman Orwell menulis? Ia punya beberapa aturan yang ia tuangkan dalam “Politics and the English Language,”. Dalam tulisan ini, George Orwell memberikan enam aturan bagaimana menulis secara efektif:

1. Jangan pernah gunakan metafora, simile, atau ungkapan yang biasa kita lihat pada karya cetak

Untuk menjadi penulis yang baik, salah satu caranya adalah bagaimana memperlihatkan perbedaanmu dengan penulis yang lain. Maksudnya bukan baru atau berbeda secara utuh, sebab memang—sebagaimana adagium yang banyak kita dengarkan—tak ada yang baru di bawah matahari. Berbeda di sini bisa dimaksudkan sebagai ciri khas atau model menulis yang unik.

Jika gaya bahasamu sama, ungkapan yang kamu pakai itu-itu saja, maka kamu hanya akan menjadi seperti penulis kebanyakan. Tidak ada yang spesial dari kalimat-kalimatmu, tidak ada yang membuatmu diingat dan dikenang sebagai seorang penulis yang hebat. Maka untuk itu, jadilah penulis yang berbeda. Jangan memakai kalimat yang biasa kamu baca atau biasa ditemukan di banyak tempat.

Jika kamu menulis dengan pembukaan seperi “Tahukah Anda…”, “ Siapa yang tidak kenal…”, atau “Pada suatu hari…” maka kamu memang bukanlah penulis yang spesial. Kalimat seperti itu sudah terlalu banyak dan sering kita baca. Kalau Orwell masih hidup dan kamu menyodorkan tulisan semacam itu padanya, mungkin ia akan menamparmu, menyuruhmu masuk tong sampah dan memintamu jangan pernah bermimpi lagi menjadi penulis.

Memakai kalimat yang itu-itu saja membuat tulisanmu terasa menjemukan. Pembaca akan kabur dan memilih bacaan lain. Apalagi kalau kamu menulis semembosankan itu dari awal. Nah, sebagai penulis keren, carilah kalimat-kalimat yang unik dan memikat. Menulis adalah salah satu cara mencoba meraih hati, mencoba memikat pembaca untuk melanjutkannya sampai akhir tulisan.

2. Jangan pernah gunakan Kalimat panjang jika bisa menggunakan Kalimat pendek

Otak manusia memiliki kemapuan terbatas dalam mencerna informasi. Untuk itu, sebuah informasi harus dibikin ringkas dan jelas. Jika kalimatmu terlalu panjang, bukan hanya pembacamu yang akan kecapaian membaca, kamu juga akan ngos-ngosan saat menuliskannya.

Menulis tak harus berpanjang kata untuk mengejar kuantitas. Menulis itu bukan masalah panjang pendek, tapi masalah kualitas informasi dan gagasan. Kamu tidak perlu menambahkan kalimat-kalimat aneh hanya untuk memperpanjang cerita atau esaimu, atau untuk mempertebal bukumu. Pembaca butuh sesuatu yang cerdas dan menggugah. Membuat kalimat panjang akan menjadikan tulisanmu bertele tele dan membosankan. Pembaca butuh jeda, istirahat sejenak, menghela napas, baru melanjutkan. Jangan racuni mereka dengan kalimat panjang yang bahkan bisa berujung pada kemunculan ambigu-ambigu yang menggangu.

3. Jika mungkin menghapus sebuah kata, hapuslah

Jangan memakai kata-kata yang tidak bermaksud menjelaskan apa-apa, sekadar pemanis atau sekadar memperpanjang kalimat. Jangan menambahkan kata penjelas untuk sebuah kata yang tak perlu di jelaskan. Hapuslah kata yang membuat kalimat atau bahasamu terkesan aneh.

Misalnya: “Saya hanya ingin duduk sendirian saja.”, kalimat ini kalau tidak diamati dengan baik memang kalimat yang sehat. Padahal ada pemborosan di sana. Kalimat ini bisa kamu persingkat menjadi “Saya hanya ingin duduk sendiri.”, atau “Saya ingin duduk sendiri saja.”. Kata hanya dan saja memiliki arti yang sama. Menggunakanya bersamaan dalam satu kalimat hanya akan membuat kalimatmu cedera dan gigantis.

Buatlah kata-katamu menjadi sesuatu yang mengantar pembacamu menuju gagasan yang ingin kamu sampaikan. Menggunakan kata yang indah-indah dan dramatis boleh saja. Asalkan sesuai dan tidak menjadikanmu penulis yang boros.

4. Jangan pernah gunakan suara pasif ketika kita bisa gunakan bentuk aktif

Kalimat pasif membuat pembaca mencerna dua kali. Gunakan selalu kalimat aktif jika memungkinkan. Kalimat aktif menjadikan suara dalam tulisanmu hidup, kongkrit dan lebih bertenaga.

“Seorang anak memukuli anjing tetangga”, lebih gampang dipahami dibanding “Anjing tetangga dipukuli oleh seorang anak”. Selain perlu tambahan kata oleh dan membuatnya lebih panjang, kalimat pasif menjadikan karakter dalam tulisanmu terkesan lemah. Daripada membiarkan tokohmu terkulai lemah dan bermalasan, kamu bisa memberikan suntikan kalimat aktif untuk membuatnya hidup dan lebih bertenaga.

5. Jangan pernah gunakan frasa bahasa asing, istilah saintifik, atau jargon jika kita bisa menemukan persamaannya dalam bahasa sehari-hari

Jika memungkinkan menggunakan bahasa yang ada dalam bahasa ibumu, pakailah. Jangan memilih bahasa asing, bahasa ilmiah, bahasa latin atau bahasa lain yang membuat kalimatmu menjadi berat dan tak terpahami. Jika pembaca harus bolak balik buka kamus saat membaca tulisanmu, mereka bisa membuangnya segera ke tong sampah untuk berpindah ke tulisan lain yang lebih terang-benderang.

Pakailah kata pembuatan, perakitan, atau perancangan daripada memilih kata produksi. Pakailah kata menuduh, menghakimi daripada kata menjudge.

6. Langgarlah aturan-aturan ini secepatnya daripada menulis sesuatu dengan cara yang barbar

Aturan menulis di atas dibuat untuk memberi rambu dan memudahkanmu. Jika aturan itu membuatmu terbelenggu, membuatmu tidak produktif dan membuatmu kesusahan menulis, langgarlah aturan itu!

Aturan di atas gampang diingat tapi susah dijalankan. Maka tentu saja kamu bisa memakai kalimat pasif jika perlukan, memakai kata ilmiah atau membuat beberapa kalimat dengan anak kalimat jika itu dimaksudkan untuk memperkokoh tulisanmu. Asalkan semuanya pas, tidak berlebihan dan tidak menjadikanmu berboros ria, lakukanlah. Yang penting selalu singkat, padat dan jelas. Anjuran ini mungkin klise, tapi memang begitulah semestinya menulis.

Oh ya, aturan ini tidak akan berlalu jika kamu tidak segera memulai menulis. Orwell memberimu pilihan, selanjutnya kamu yang lebih tahu bagaimana cara menghasilkan tulisan terbaikmu. Selamat mencoba.


Sumber: masih dicari, siapa penulis aslinya?