Social Items

Weblog Andika Priyandana
Perusahaan rintisan bersama Pemerintah Republik Indonesia turut mewujudkan visi menjadikan Indonesia sebagai ‘The Digital Energy of Asia’. Mampukah?

Kemkominfo per Jumat, 17 Juni 2016, mengeluarkan rilis pers yang menyatakan potensi industri digital di Indonesia tidak dapat dipandang remeh. Dalam rilis pers tersebut, disampaikan bahwa kini sudah ada 71 juta pengguna perangkat telepon pintar dan 93,4 juta pengguna internet di Indonesia. Paparan data tersebut mengindikasikan bahwa akses komunikasi perusahaan menuju konsumen semakin dimudahkan.

Tingginya pengguna internet dan pengguna perangkat telepon pintar di Indonesia juga semakin memudahkan para pemilik bisnis dan marketer membuat program-program kampanye yang tersampaikan lebih personal bagi para pelanggan. Pemerintah Indonesia pun mendukung potensi angka yang ada menciptakan peta jalan perdagangan daring dan ekosistem industri digital demi mewujudkan capaian volume bisnis perdagangan daring sebesar USD 130 Miliar pada 2020. Sebuah target yang ambisius.

Target tersebut ambisius karena sebagaimana diketahui bersama para pelaku bisnis dan pemerintah, infrastruktur pendukung ekonomi Indonesia masih banyak masalah, mulai dari makro hingga mikro. Berbicara urusan makro, salah satu masalah yang ada adalah biaya logistik Indonesia diketahui sangat tidak sehat sehingga menjadi hal lumrah mengetahui biaya pengadaan kebutuhan pokok di Papua jauh lebih tinggi daripada di Pulau Jawa.

Saat berbicara urusan mikro, urusannya pun tidak kalah pelik. Pengetahuan dan permodalan adalah dua contoh masalah yang dihadapi perusahaan rintisan, termasuk UMKM dan IKM, yang memiliki banyak turunan. Contoh turunan-turunan tersebut adalah minim pengetahuan pendayagunaan teknologi internet, pengetahuan administrasi bisnis, pengetahuan pemasaran digital, dan sulit akses bantuan finansial.

Tembakkan peluru, baru meriam

Jim Collins dan Morten Hansen dalam buku berjudul ‘Great by Choice’ (2011) memberikan kita sebuah masukan sangat berharga mengenai strategi yang dilakukan perusahaan-perusahaan dengan pencapaian 10x lipat di atas rata-rata. Mereka tidak sekedar kreatif, mereka bersikap kreatif empiris. Dengan kata lain, perusahaan dengan performa luar biasa tidak berinovasi secara buta dan menghabiskan sumber daya secara masif untuk ide baru. Tindakan ini disebut ‘Tembakkan peluru, baru meriam’.

Idenya adalah menembakkan peluru-peluru kecil (tes produk baru, teknologi, layanan, dan/atau proses) sebagai cek realitas. Mana hal yang bekerja dan mana yang tidak. Jika dan hanya jika ide-ide baru sudah dites dan divalidasi, perusahaan baru menembakkan meriam. Peluru tidak dapat menenggelamkan kapal, tidak dapat menghentikan tank, atau menghancurkan pesawat. Tetapi meriam bisa.

Perusahaan-perusahaan sebaiknya menembakkan meriam (meletakkan banyak sumber daya, baik manusia dan permodalan, kepada ide-ide) hanya setelah mereka menembakkan banyak peluru-peluru kecil (mengetes ide-ide baru untuk membuktikan apakah mereka bekerja atau tidak). Collins dan Hansen mendeskripsikan sebuah peluru sebagai, “Sebuah tes empiris yang ditujukan untuk memahami mana yang bekerja dan memenuhi tiga kriteria.”

Sebuah peluru berbiaya rendah (ukuran dan biaya peluru bertambah seiring dengan pertumbuhan perusahaan),
Sebuah peluru berisiko rendah (risiko-risiko yang ditimbulkan memiliki konsekuensi kecil jika keadaan berjalan tidak sesuai harapan),
Sebuah peluru tidak mengganggu fokus (peluru yang ditembakkan perusahaan tidak akan menarik seluruh fokus perusahaan).
Sedangkan sebuah meriam baru pantas ditembakkan jika perusahaan sudah mendapatkan validasi terukur. Jadi ide utama di sini adalah kreativitas yang wajib dimiliki perusahaan-perusahaan, tetapi kreativitas mereka harus divalidasi oleh pengalaman-pengalaman empiris. Inilah hal yang perlu dipahami jika kita ingin turut menjadikan Indonesia sebagai ‘The Digital Energy of Asia’.

Memberdayakan platform marketplace yang sudah eksis

Dari perspektif perusahaan rintisan, UMKM dan IKM, menembakkan peluru kecil untuk mengatasi dua contoh masalah, misalnya biaya pendirian toko fisik dan biaya menjangkau konsumen, dapat diatasi sesimpel memilih platform-platform marketplace yang tersedia di pasar. Ringkasnya, perusahaan membuat akun di platform marketplace yang sudah eksis untuk mendirikan toko daring (online shop).

Membuat akun di platform marketplace untuk mendirikan toko daring dapat memenuhi tiga deskripsi ‘Menembakkan peluru sebelum meriam’.

Sebuah toko daring berbiaya rendah (perusahaan dapat semakin mengembangkan toko daring yang dimiliki setelah omzet dan basis konsumen semakin kuat dengan membuat situs sendiri. Meski demikian , keberadaan toko daring tetap dapat dimiliki dengan diposisikan sebagai perantara),
Sebuah toko daring berisiko rendah (risiko-risiko yang ditimbulkan dengan memiliki toko daring terhitung kecil jika keadaan berjalan tidak sesuai harapan. Maksud risiko kecil adalah kita tidak perlu memusingkan biaya pengembangan situs, biaya server, dsb),
Sebuah toko daring tidak mengganggu fokus (menggunakan toko daring, khususnya di tahap-tahap awal, tidak akan menarik seluruh fokus perusahaan. Ingat bahwa fokus perusahaan yang utama adalah membuat produk yang berorientasi konsumen. Jadi, keberadaan produk melalui toko daring memiliki fungsi sebagai validasi pasar).
Menurut Collins dan Hansen, di balik layar perusahaan-perusahaan yang luar biasa sukses sebenarnya melakukan sangat banyak penembakan peluru-peluru kecil, dan banyak dari peluru-peluru tersebut yang tidak mengenai target sama sekali, bahkan sekedar menyerempet pun tidak. Perusahaan-perusahaan luar biasa tersebut memiliki optimisme tinggi, namun tetap menyadari realitas bahwa mereka tidak benar-benar mengetahui ide yang pasti sukses.

Tetapi saat kumpulan-kumpulan kecil kesuksesan mulai muncul, perusahaan-perusahaan tersebut mulai menembakkan lebih banyak peluru, melakukan validasi kreativitas, dan pada akhirnya menembakkan meriam. Apa yang terlihat sebagai kesuksesan dalam semalam sebenarnya adalah proses empiris dari banyak percobaan, gagal, mencoba lagi, gagal lagi, mencoba lagi, hingga akhirnya sukses.

Jadi, jika ada pertanyaan mengenai kemampuan para pengusaha bersama Pemerintah Republik Indonesia untuk turut mewujudkan visi menjadikan Indonesia sebagai ‘The Digital Energy of Asia’ dan mencapai volume bisnis perdagangan daring sebesar USD 130 Miliar pada 2020, jawabannya ‘mampu’ sepanjang kita memelihara fokus, ulet, dan tekun untuk mencapai tujuan.

Jakarta, 18 Juni 2016

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Koran Kontan, Rabu, 22 Juni 2016

Sumber: gintong.me

Mewujudkan visi menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia, Mampukah?

Weblog Andika Priyandana
Perusahaan rintisan bersama Pemerintah Republik Indonesia turut mewujudkan visi menjadikan Indonesia sebagai ‘The Digital Energy of Asia’. Mampukah?

Kemkominfo per Jumat, 17 Juni 2016, mengeluarkan rilis pers yang menyatakan potensi industri digital di Indonesia tidak dapat dipandang remeh. Dalam rilis pers tersebut, disampaikan bahwa kini sudah ada 71 juta pengguna perangkat telepon pintar dan 93,4 juta pengguna internet di Indonesia. Paparan data tersebut mengindikasikan bahwa akses komunikasi perusahaan menuju konsumen semakin dimudahkan.

Tingginya pengguna internet dan pengguna perangkat telepon pintar di Indonesia juga semakin memudahkan para pemilik bisnis dan marketer membuat program-program kampanye yang tersampaikan lebih personal bagi para pelanggan. Pemerintah Indonesia pun mendukung potensi angka yang ada menciptakan peta jalan perdagangan daring dan ekosistem industri digital demi mewujudkan capaian volume bisnis perdagangan daring sebesar USD 130 Miliar pada 2020. Sebuah target yang ambisius.

Target tersebut ambisius karena sebagaimana diketahui bersama para pelaku bisnis dan pemerintah, infrastruktur pendukung ekonomi Indonesia masih banyak masalah, mulai dari makro hingga mikro. Berbicara urusan makro, salah satu masalah yang ada adalah biaya logistik Indonesia diketahui sangat tidak sehat sehingga menjadi hal lumrah mengetahui biaya pengadaan kebutuhan pokok di Papua jauh lebih tinggi daripada di Pulau Jawa.

Saat berbicara urusan mikro, urusannya pun tidak kalah pelik. Pengetahuan dan permodalan adalah dua contoh masalah yang dihadapi perusahaan rintisan, termasuk UMKM dan IKM, yang memiliki banyak turunan. Contoh turunan-turunan tersebut adalah minim pengetahuan pendayagunaan teknologi internet, pengetahuan administrasi bisnis, pengetahuan pemasaran digital, dan sulit akses bantuan finansial.

Tembakkan peluru, baru meriam

Jim Collins dan Morten Hansen dalam buku berjudul ‘Great by Choice’ (2011) memberikan kita sebuah masukan sangat berharga mengenai strategi yang dilakukan perusahaan-perusahaan dengan pencapaian 10x lipat di atas rata-rata. Mereka tidak sekedar kreatif, mereka bersikap kreatif empiris. Dengan kata lain, perusahaan dengan performa luar biasa tidak berinovasi secara buta dan menghabiskan sumber daya secara masif untuk ide baru. Tindakan ini disebut ‘Tembakkan peluru, baru meriam’.

Idenya adalah menembakkan peluru-peluru kecil (tes produk baru, teknologi, layanan, dan/atau proses) sebagai cek realitas. Mana hal yang bekerja dan mana yang tidak. Jika dan hanya jika ide-ide baru sudah dites dan divalidasi, perusahaan baru menembakkan meriam. Peluru tidak dapat menenggelamkan kapal, tidak dapat menghentikan tank, atau menghancurkan pesawat. Tetapi meriam bisa.

Perusahaan-perusahaan sebaiknya menembakkan meriam (meletakkan banyak sumber daya, baik manusia dan permodalan, kepada ide-ide) hanya setelah mereka menembakkan banyak peluru-peluru kecil (mengetes ide-ide baru untuk membuktikan apakah mereka bekerja atau tidak). Collins dan Hansen mendeskripsikan sebuah peluru sebagai, “Sebuah tes empiris yang ditujukan untuk memahami mana yang bekerja dan memenuhi tiga kriteria.”

Sebuah peluru berbiaya rendah (ukuran dan biaya peluru bertambah seiring dengan pertumbuhan perusahaan),
Sebuah peluru berisiko rendah (risiko-risiko yang ditimbulkan memiliki konsekuensi kecil jika keadaan berjalan tidak sesuai harapan),
Sebuah peluru tidak mengganggu fokus (peluru yang ditembakkan perusahaan tidak akan menarik seluruh fokus perusahaan).
Sedangkan sebuah meriam baru pantas ditembakkan jika perusahaan sudah mendapatkan validasi terukur. Jadi ide utama di sini adalah kreativitas yang wajib dimiliki perusahaan-perusahaan, tetapi kreativitas mereka harus divalidasi oleh pengalaman-pengalaman empiris. Inilah hal yang perlu dipahami jika kita ingin turut menjadikan Indonesia sebagai ‘The Digital Energy of Asia’.

Memberdayakan platform marketplace yang sudah eksis

Dari perspektif perusahaan rintisan, UMKM dan IKM, menembakkan peluru kecil untuk mengatasi dua contoh masalah, misalnya biaya pendirian toko fisik dan biaya menjangkau konsumen, dapat diatasi sesimpel memilih platform-platform marketplace yang tersedia di pasar. Ringkasnya, perusahaan membuat akun di platform marketplace yang sudah eksis untuk mendirikan toko daring (online shop).

Membuat akun di platform marketplace untuk mendirikan toko daring dapat memenuhi tiga deskripsi ‘Menembakkan peluru sebelum meriam’.

Sebuah toko daring berbiaya rendah (perusahaan dapat semakin mengembangkan toko daring yang dimiliki setelah omzet dan basis konsumen semakin kuat dengan membuat situs sendiri. Meski demikian , keberadaan toko daring tetap dapat dimiliki dengan diposisikan sebagai perantara),
Sebuah toko daring berisiko rendah (risiko-risiko yang ditimbulkan dengan memiliki toko daring terhitung kecil jika keadaan berjalan tidak sesuai harapan. Maksud risiko kecil adalah kita tidak perlu memusingkan biaya pengembangan situs, biaya server, dsb),
Sebuah toko daring tidak mengganggu fokus (menggunakan toko daring, khususnya di tahap-tahap awal, tidak akan menarik seluruh fokus perusahaan. Ingat bahwa fokus perusahaan yang utama adalah membuat produk yang berorientasi konsumen. Jadi, keberadaan produk melalui toko daring memiliki fungsi sebagai validasi pasar).
Menurut Collins dan Hansen, di balik layar perusahaan-perusahaan yang luar biasa sukses sebenarnya melakukan sangat banyak penembakan peluru-peluru kecil, dan banyak dari peluru-peluru tersebut yang tidak mengenai target sama sekali, bahkan sekedar menyerempet pun tidak. Perusahaan-perusahaan luar biasa tersebut memiliki optimisme tinggi, namun tetap menyadari realitas bahwa mereka tidak benar-benar mengetahui ide yang pasti sukses.

Tetapi saat kumpulan-kumpulan kecil kesuksesan mulai muncul, perusahaan-perusahaan tersebut mulai menembakkan lebih banyak peluru, melakukan validasi kreativitas, dan pada akhirnya menembakkan meriam. Apa yang terlihat sebagai kesuksesan dalam semalam sebenarnya adalah proses empiris dari banyak percobaan, gagal, mencoba lagi, gagal lagi, mencoba lagi, hingga akhirnya sukses.

Jadi, jika ada pertanyaan mengenai kemampuan para pengusaha bersama Pemerintah Republik Indonesia untuk turut mewujudkan visi menjadikan Indonesia sebagai ‘The Digital Energy of Asia’ dan mencapai volume bisnis perdagangan daring sebesar USD 130 Miliar pada 2020, jawabannya ‘mampu’ sepanjang kita memelihara fokus, ulet, dan tekun untuk mencapai tujuan.

Jakarta, 18 Juni 2016

(Andika Priyandana)

Catatan: Versi tersunting artikel ini telah dimuat di Koran Kontan, Rabu, 22 Juni 2016

Sumber: gintong.me