Dulu, di era 80-90 an, pernah eksis kegiatan berosialita, lewat saluran satu kawat tembaga. Populer dinamai "Brik-brikan", istilah jadulnya kegiatan bersosilita dizaman dulu "Ngebrik". Pada waktu itu, orang yang hobi ngebrik, dialah yang super gaul, dan super teknologi. Kaum muda berlomba-lomba menyambung kawat tembaga untuk berkomunikasi.

Salah satu tokoh radio amatir, R.M Bachtiar Ngesti Utama mengupload perangkat radio amatir, dia menamai perangkatnya, "Sang Legendaris" seolah menyiratkan, kegiatan bersosialita zaman dulu lebih bermakna dibandingkan dengan beredarnya aplikasi sosial media yang kurang berjiwa.

Perangkat bersosialita di era 80-90 an, koleksi R.M. Bachtiar Ngesti Utama
Benar memang banyak aplikasi sosial media, namun serasa robotik, kurang berjiwa. Berbeda sekali rasanya, di zaman radio amatir masih menggelora, para komunitas radio amatir benar-benar mempunyai jiwa, mereka berbagi ilmu pengetahuan, bertemu, bertatap muka membahas semua kebutuhan radio untuk berkomunikasi di udara. 

Sekarang ini, disaat digital menjadi puja-puji semua orang yang hidup dizaman ini, serasa kering, sibuk dengan gawai, atau istilah kerennya "gadget", namun kering, alias tak berjiwa. Hilang rasa, memang banyak teman secara kuantitas, namun kualitas jelas tidak ada. Pergaulan seolah sekedar pertukaran foto dan komentar, kurang bernilai rasa dibandingkan kegiatan bersosialita zaman interkom maupun radio amatir.


Legenda Radio Amatir ditengah Badai Sosmed


Dulu, di era 80-90 an, pernah eksis kegiatan berosialita, lewat saluran satu kawat tembaga. Populer dinamai "Brik-brikan", istilah jadulnya kegiatan bersosilita dizaman dulu "Ngebrik". Pada waktu itu, orang yang hobi ngebrik, dialah yang super gaul, dan super teknologi. Kaum muda berlomba-lomba menyambung kawat tembaga untuk berkomunikasi.

Salah satu tokoh radio amatir, R.M Bachtiar Ngesti Utama mengupload perangkat radio amatir, dia menamai perangkatnya, "Sang Legendaris" seolah menyiratkan, kegiatan bersosialita zaman dulu lebih bermakna dibandingkan dengan beredarnya aplikasi sosial media yang kurang berjiwa.

Perangkat bersosialita di era 80-90 an, koleksi R.M. Bachtiar Ngesti Utama
Benar memang banyak aplikasi sosial media, namun serasa robotik, kurang berjiwa. Berbeda sekali rasanya, di zaman radio amatir masih menggelora, para komunitas radio amatir benar-benar mempunyai jiwa, mereka berbagi ilmu pengetahuan, bertemu, bertatap muka membahas semua kebutuhan radio untuk berkomunikasi di udara. 

Sekarang ini, disaat digital menjadi puja-puji semua orang yang hidup dizaman ini, serasa kering, sibuk dengan gawai, atau istilah kerennya "gadget", namun kering, alias tak berjiwa. Hilang rasa, memang banyak teman secara kuantitas, namun kualitas jelas tidak ada. Pergaulan seolah sekedar pertukaran foto dan komentar, kurang bernilai rasa dibandingkan kegiatan bersosialita zaman interkom maupun radio amatir.