Editorial RiauJOS!*, Sabtu, 28 Mei 2016

Ilustrasi/credit:hello-pet.com 

Menelusuri sejarah Pemilihan Kepala Daerah di Indonesia, banyak menyisakan kenangan yang tak terlupakan, seperti pertikaian antara peserta, tim kampanye, partai politik, bahkan penyelenggara pemilu itu sendiri.

Sampai dengan hari ini, RiauJOS!* masih menunggu kepastian diberlakukannya Undang-Undang Revisi Pilkada, namun lagi-lagi, DPR masih berkutat dengan permasalahan yang tak kunjung sampai pada keputusan.

Beberapa permasalahan pelik yang sedang dibahas, atau mungkin jadi bahan omong-omongan, masih seputar bagaimana mengatasi atau mengatur terjadinya politik uang, kampanye hitam, satu lagi, hal yang lumayan baru, yaitu adanya lembaga peradilan, sampai saat ini masih belum ada titik terang.

Itu tadi, persoalan secara umum yang sampai dengan hari ini, Sabtu, 28 Mei 2016, masih menghantui orang yang punya kepentingan, khusunya penyelenggara Pemilu, Peserta Pemilu, dan siapa saja yang punya mau di Pilkada nanti.

Tugas Berat Panwas

Panwas, sebutan populer untuk Panitia Pengawas, gak pake Lu, seperti disebutkan dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2015 Tentang ...? intinya tentang pilkada yang direvisi berkali-kali, di undangkan, diperbaiki, diundangkan lagi hingga membuat "Tentang" nya saja, orang pusing membaca, apalagi isinya? masih banyak persoalan yang meninabobokan hingga tak bisa diaplikasikan, karena demikian sulitnya untuk memahami, apalagi menggunakannya.

Ini masih seputar regulasi, belum lagi masalah penguatan organisasi, yang namanya Panitia, itu kerjanya setengah hati, karena dilabeli Panitia, yang kelak dibubarkan. Saat ini, Para Pengawas di tingkat Kabupaten/Kota mulai dibikin oleh Bawaslu Provinsi, lagi-lagi persoalan anggaran menghadang, belum lagi menyiapkan kesekretariatan, hingga menyiapkan para Pengawas mulai dari Pengawas Kecamatan, Pengawas Lapangan, dan Pengawas di level TPS.

Menganga, .. Tugas berat Pengawas Pilkada. Untuk itu, dibutuhkan karakter Pengawas yang tidak sibuk melulu duit, dan butuh mental "kaya" sedari sekarang, agar tugas Pengawas Pilkada nantinya, fokus menyelesaikan tugasnya, tidak melulu ada duit terus, baru bekerja. Perlu kreativitas tinggi, dan penglihatan atau visi para Pengawas ini. Agar, bisa melihat nilai tambah hasil pelaksanaan Pilkada yang katanya untuk merengkuh makna "Berkualitas.

Pilkada ini, kalau menurut pemikiran para pemikir, maupun pengamat yang biasa, ataupun pengamat berbayar penuh intrik, dan menimbulkan perang saudara. Sebelum terlambat, ada baiknya, seluruh elemen masyarakat, para pihak terkait, dan generasi muda, bersatu padu, kalau istilah para mahasiswa yang baru-baru belajar baca, dan sedang suka-sukanya pegang buku, itu dinamai "sinergitas", ya kalimat teoritiknya singergitas, kepada siapapun saja hendaknya membuka mata, mencermati, menilai dan memberikan masukan, lebih bagus lagi segera melaporkan kepada Pengawas Pilkada terdekat apabila pada pelaksanaan tahapan Pilkada menemui kecurangan.

Bagus juga, Ide Pimpinan Bawaslu Republik Indonesia, Nasrullah yang berencana untuk memberdayakan YouTube Indonesia turut mengawasi jalannya Pilkada. agar semua orang dapat melihat kenyataan di lapangan, bukan dari hasil rekap disetiap tingkatan, yang selalu saja ditemukan manipulasi data untuk memuaskan nafsu berkuasa.

Demikian, selamat menjalankan Tugas Berat bagi para Pengawas Pilkada, dan Tugas berat ini akan ringan, jika setiap anggota Panwas Pilkada bahu membahu fokus melaksanakan tugas. Dan melihat pekerjaan berat ini sebagai "nikmat" yang tak tertandingi. Kerja "Nikmat" lebih tepat untuk melihat tumpukan pekerjaan yang menganga dan siap "menerkam" kalau tak dilaksanakan.

Terima Kasih, selamat bertugas Bapak/Ibu Pengawas Pikada dimanapun anda berada

Tugas Berat Panwas Pilkada Menganga

Editorial RiauJOS!*, Sabtu, 28 Mei 2016

Ilustrasi/credit:hello-pet.com 

Menelusuri sejarah Pemilihan Kepala Daerah di Indonesia, banyak menyisakan kenangan yang tak terlupakan, seperti pertikaian antara peserta, tim kampanye, partai politik, bahkan penyelenggara pemilu itu sendiri.

Sampai dengan hari ini, RiauJOS!* masih menunggu kepastian diberlakukannya Undang-Undang Revisi Pilkada, namun lagi-lagi, DPR masih berkutat dengan permasalahan yang tak kunjung sampai pada keputusan.

Beberapa permasalahan pelik yang sedang dibahas, atau mungkin jadi bahan omong-omongan, masih seputar bagaimana mengatasi atau mengatur terjadinya politik uang, kampanye hitam, satu lagi, hal yang lumayan baru, yaitu adanya lembaga peradilan, sampai saat ini masih belum ada titik terang.

Itu tadi, persoalan secara umum yang sampai dengan hari ini, Sabtu, 28 Mei 2016, masih menghantui orang yang punya kepentingan, khusunya penyelenggara Pemilu, Peserta Pemilu, dan siapa saja yang punya mau di Pilkada nanti.

Tugas Berat Panwas

Panwas, sebutan populer untuk Panitia Pengawas, gak pake Lu, seperti disebutkan dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2015 Tentang ...? intinya tentang pilkada yang direvisi berkali-kali, di undangkan, diperbaiki, diundangkan lagi hingga membuat "Tentang" nya saja, orang pusing membaca, apalagi isinya? masih banyak persoalan yang meninabobokan hingga tak bisa diaplikasikan, karena demikian sulitnya untuk memahami, apalagi menggunakannya.

Ini masih seputar regulasi, belum lagi masalah penguatan organisasi, yang namanya Panitia, itu kerjanya setengah hati, karena dilabeli Panitia, yang kelak dibubarkan. Saat ini, Para Pengawas di tingkat Kabupaten/Kota mulai dibikin oleh Bawaslu Provinsi, lagi-lagi persoalan anggaran menghadang, belum lagi menyiapkan kesekretariatan, hingga menyiapkan para Pengawas mulai dari Pengawas Kecamatan, Pengawas Lapangan, dan Pengawas di level TPS.

Menganga, .. Tugas berat Pengawas Pilkada. Untuk itu, dibutuhkan karakter Pengawas yang tidak sibuk melulu duit, dan butuh mental "kaya" sedari sekarang, agar tugas Pengawas Pilkada nantinya, fokus menyelesaikan tugasnya, tidak melulu ada duit terus, baru bekerja. Perlu kreativitas tinggi, dan penglihatan atau visi para Pengawas ini. Agar, bisa melihat nilai tambah hasil pelaksanaan Pilkada yang katanya untuk merengkuh makna "Berkualitas.

Pilkada ini, kalau menurut pemikiran para pemikir, maupun pengamat yang biasa, ataupun pengamat berbayar penuh intrik, dan menimbulkan perang saudara. Sebelum terlambat, ada baiknya, seluruh elemen masyarakat, para pihak terkait, dan generasi muda, bersatu padu, kalau istilah para mahasiswa yang baru-baru belajar baca, dan sedang suka-sukanya pegang buku, itu dinamai "sinergitas", ya kalimat teoritiknya singergitas, kepada siapapun saja hendaknya membuka mata, mencermati, menilai dan memberikan masukan, lebih bagus lagi segera melaporkan kepada Pengawas Pilkada terdekat apabila pada pelaksanaan tahapan Pilkada menemui kecurangan.

Bagus juga, Ide Pimpinan Bawaslu Republik Indonesia, Nasrullah yang berencana untuk memberdayakan YouTube Indonesia turut mengawasi jalannya Pilkada. agar semua orang dapat melihat kenyataan di lapangan, bukan dari hasil rekap disetiap tingkatan, yang selalu saja ditemukan manipulasi data untuk memuaskan nafsu berkuasa.

Demikian, selamat menjalankan Tugas Berat bagi para Pengawas Pilkada, dan Tugas berat ini akan ringan, jika setiap anggota Panwas Pilkada bahu membahu fokus melaksanakan tugas. Dan melihat pekerjaan berat ini sebagai "nikmat" yang tak tertandingi. Kerja "Nikmat" lebih tepat untuk melihat tumpukan pekerjaan yang menganga dan siap "menerkam" kalau tak dilaksanakan.

Terima Kasih, selamat bertugas Bapak/Ibu Pengawas Pikada dimanapun anda berada