Saut dan PB HMI
Saut dan PB HMI [mediajakarta.com]

"Mendapatkan reaksi, setelah aksi.."


RiauJOS.com, Editorial - Selasa, 10 Mei 2016. Atas perkataan, berbuah dilaporkan polisi. Ini kata pembuka yang biasa saja, tidak ada prestasi maupun kesuksesan bagi keduannya, baik PB HMI, maupun Saut Situmorang, bahkan untuk negara tidak ada perlunya sama sekali.

Meski dari sudut pandang PB HMI, tetap ingin mempolisikan Saut, ini tidak membawa dampak apa-apa secara langsung bagi kemajuan bangsa. Yang terjadi malah, membikin bingung para pembaca. Ini sebenarnya, siapa yang salah, dan siapa yang benar.

Dikabarkan, dari berbagai macam ragam media, Saut secara terbuka meminta maaf kepada PB HMI, namun sudah ada sekitar 200 an pengurus yang tetap ingin mempolisikan.

Permasalahannya sekarang adalah, membicarakan ini, apalagi membahas pertikaian ini, serasa "kontraproduktif", karena disibukkan dengan barang yang berwujud "perkataan", siapa yang bisa memegang keluarnya kata-kata, kemudian ditangkap, dan dikurung agar kata-kata tak keluar lagi?. Jawabanya, jelas tidak ada. Karena setiap kata yang keluar dari mulut, otomatis terbang dan terbawa oleh angin, jika terdeteksi telinga, dapat terdengar, namun kalau frekuensinya dibawah ataupun diatas kemampuan dengar telinga manusia, pastilah Tuhan YME yang mampu mendengarnya.

Kata hatipun, sampai dengan detik ini tidak ada seorangpun yang mengetahui, kecuali yang punya hati dan Tuhan sang pencipta hati manusia. Itupun bagi manusia yang percaya dan yakin akan keberadaan Tuhan.

Jadi, penyelesaian konflik antara PB HMI dan Saut, cukup di redam saja sampai disini. Maksudnya, sampai di editorial RiauJOS!*, karena kalau diperturutkan, kita sebagai bangsa yang dulunya mulai berkembang, namun lama-kelamaan makin terbelakang akibat gejolak korupsi disegala lini, harus segera memprioritaskan skala persoalan dengan dampak penyelesaian yang menyeluruh. Seperti mewujudkan revolusi mental, yang hingga saat ini masih sebatas berpakaian putih untuk membudayakan bekerja secara bersih dan jujur, belum sampai pada penjiwaan menjadi seorang aparat pemerintah yang seharusnya pelayan publik.

PB HMI dan Saut, keduanya Tak Jelas..

Saut dan PB HMI
Saut dan PB HMI [mediajakarta.com]

"Mendapatkan reaksi, setelah aksi.."


RiauJOS.com, Editorial - Selasa, 10 Mei 2016. Atas perkataan, berbuah dilaporkan polisi. Ini kata pembuka yang biasa saja, tidak ada prestasi maupun kesuksesan bagi keduannya, baik PB HMI, maupun Saut Situmorang, bahkan untuk negara tidak ada perlunya sama sekali.

Meski dari sudut pandang PB HMI, tetap ingin mempolisikan Saut, ini tidak membawa dampak apa-apa secara langsung bagi kemajuan bangsa. Yang terjadi malah, membikin bingung para pembaca. Ini sebenarnya, siapa yang salah, dan siapa yang benar.

Dikabarkan, dari berbagai macam ragam media, Saut secara terbuka meminta maaf kepada PB HMI, namun sudah ada sekitar 200 an pengurus yang tetap ingin mempolisikan.

Permasalahannya sekarang adalah, membicarakan ini, apalagi membahas pertikaian ini, serasa "kontraproduktif", karena disibukkan dengan barang yang berwujud "perkataan", siapa yang bisa memegang keluarnya kata-kata, kemudian ditangkap, dan dikurung agar kata-kata tak keluar lagi?. Jawabanya, jelas tidak ada. Karena setiap kata yang keluar dari mulut, otomatis terbang dan terbawa oleh angin, jika terdeteksi telinga, dapat terdengar, namun kalau frekuensinya dibawah ataupun diatas kemampuan dengar telinga manusia, pastilah Tuhan YME yang mampu mendengarnya.

Kata hatipun, sampai dengan detik ini tidak ada seorangpun yang mengetahui, kecuali yang punya hati dan Tuhan sang pencipta hati manusia. Itupun bagi manusia yang percaya dan yakin akan keberadaan Tuhan.

Jadi, penyelesaian konflik antara PB HMI dan Saut, cukup di redam saja sampai disini. Maksudnya, sampai di editorial RiauJOS!*, karena kalau diperturutkan, kita sebagai bangsa yang dulunya mulai berkembang, namun lama-kelamaan makin terbelakang akibat gejolak korupsi disegala lini, harus segera memprioritaskan skala persoalan dengan dampak penyelesaian yang menyeluruh. Seperti mewujudkan revolusi mental, yang hingga saat ini masih sebatas berpakaian putih untuk membudayakan bekerja secara bersih dan jujur, belum sampai pada penjiwaan menjadi seorang aparat pemerintah yang seharusnya pelayan publik.