Para instruktur seni tari dan musik

Riau JOS, Pekanbaru -  Para instruktur seni tari dan musik yang mengikuti pelatihan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menjajal panggung kampus tersebut, menampilkan karya bernuansa Melayu. dilansir potretnews.com, Sabtu lalu.

Karya yang memadukan antara Riau daratan dan pesisir itu, diharapkan menjadi pijakan dasar bagi para instruktur untuk menciptakan karya masing-masing dikemudian harinya.

"Saat ini kami sedang merampungkan karya baru dari hasil pelatihan selama beberapa hari di ISI Yogya. Para pelatih mendorong kami menciptakan karya, semakin lokal semakin semakin global," kata salah seorang koreografer asal Rokan Hulu (Rohul), Dasrikal melalui sambungan telepon, Sabtu, 21 Mei 2016.

Dikatakan, karya baru yang sedang diproses para koreografer, penari, komposer, dan pemusik tersebut mengambil gagasan dari kekayaan budaya Melayu Riau. Unsur musikal dan gerak Melayu terlihat nyata, namun lebih kepada penghadiran spiritnya. Paling tidak, karya perdana para instruktur se-Riau yang diboyong Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) provinsi Riau ini, diharapkan memberi warna pada perkembangan seni musik dan tari.

Wahida Mulya penari asal Kampar menyebutkan, pelatihan di Yogyakarta cukup positif. Dia merasa beruntung karena terpilih mewakili kabupatennya. Begitu pula Sri Wahyu Ningsih penari asal Rokan Hilir (Rohil). Baginya, pelatihan ini memberikan banyak pengalaman berharga. Tidak saja dari para pakar seni musik dan tari asal kampus ISI Jogyakarta, tapi juga dari instruktur dari kabupaten/kota se-Riau lainnya.

"Ayu juga masih belajar dan saat ini beruntung mendapatkan pengalaman berharga dari para pakar serta kawan-kawan se-Riau. Di sini, Ayu mulai memahami kayanya seni tradisi Melayu itu. Misalnya, zapin yang Ayu tahu selama ini milik Rohil saja. Ternyata, zapin dari Bengkalis, Dumai, Siak, Pelalawan, dan sebagainya cukup beragam. Budaya kita memang kaya dan kita harus bangga menjadi anak Riau," ulas Ayu sapaan akrab Sri Wahyu Ningsih.

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparekraf Riau Tengku Zul Effendi mengatakan, para instruktur yang dibawa ke ISI Jogya memang sudah berpengalaman. Itu juga diakui oleh para pakar yang menjadi pelatih selama di sini. Ia berharap, saat pulang nanti, seluruh instruktur yang berlatih di sini bisa menularkan pengalamannya kepada para penari dan pemusik di daerah masing-masing.

"Kami harapkan akan lahir para komposer, pemusik, koreografer, dan penari handal di kemudian hari. Teruslah berlatih dan berlatih. Teruslah mencipta karya-karya terbaik untuk Riau tercinta," harapnya pada semua instruktur.


Sumber: http://www.potretnews.com

Para Instruktur Seni Tari dan Musik di Riau Ikut Pelatihan di ISI

Para instruktur seni tari dan musik

Riau JOS, Pekanbaru -  Para instruktur seni tari dan musik yang mengikuti pelatihan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menjajal panggung kampus tersebut, menampilkan karya bernuansa Melayu. dilansir potretnews.com, Sabtu lalu.

Karya yang memadukan antara Riau daratan dan pesisir itu, diharapkan menjadi pijakan dasar bagi para instruktur untuk menciptakan karya masing-masing dikemudian harinya.

"Saat ini kami sedang merampungkan karya baru dari hasil pelatihan selama beberapa hari di ISI Yogya. Para pelatih mendorong kami menciptakan karya, semakin lokal semakin semakin global," kata salah seorang koreografer asal Rokan Hulu (Rohul), Dasrikal melalui sambungan telepon, Sabtu, 21 Mei 2016.

Dikatakan, karya baru yang sedang diproses para koreografer, penari, komposer, dan pemusik tersebut mengambil gagasan dari kekayaan budaya Melayu Riau. Unsur musikal dan gerak Melayu terlihat nyata, namun lebih kepada penghadiran spiritnya. Paling tidak, karya perdana para instruktur se-Riau yang diboyong Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) provinsi Riau ini, diharapkan memberi warna pada perkembangan seni musik dan tari.

Wahida Mulya penari asal Kampar menyebutkan, pelatihan di Yogyakarta cukup positif. Dia merasa beruntung karena terpilih mewakili kabupatennya. Begitu pula Sri Wahyu Ningsih penari asal Rokan Hilir (Rohil). Baginya, pelatihan ini memberikan banyak pengalaman berharga. Tidak saja dari para pakar seni musik dan tari asal kampus ISI Jogyakarta, tapi juga dari instruktur dari kabupaten/kota se-Riau lainnya.

"Ayu juga masih belajar dan saat ini beruntung mendapatkan pengalaman berharga dari para pakar serta kawan-kawan se-Riau. Di sini, Ayu mulai memahami kayanya seni tradisi Melayu itu. Misalnya, zapin yang Ayu tahu selama ini milik Rohil saja. Ternyata, zapin dari Bengkalis, Dumai, Siak, Pelalawan, dan sebagainya cukup beragam. Budaya kita memang kaya dan kita harus bangga menjadi anak Riau," ulas Ayu sapaan akrab Sri Wahyu Ningsih.

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparekraf Riau Tengku Zul Effendi mengatakan, para instruktur yang dibawa ke ISI Jogya memang sudah berpengalaman. Itu juga diakui oleh para pakar yang menjadi pelatih selama di sini. Ia berharap, saat pulang nanti, seluruh instruktur yang berlatih di sini bisa menularkan pengalamannya kepada para penari dan pemusik di daerah masing-masing.

"Kami harapkan akan lahir para komposer, pemusik, koreografer, dan penari handal di kemudian hari. Teruslah berlatih dan berlatih. Teruslah mencipta karya-karya terbaik untuk Riau tercinta," harapnya pada semua instruktur.


Sumber: http://www.potretnews.com