Social Items

Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti
RiauJOS!*, Depok – Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti mengungkapkan proses penyelidikan dan penyidikan kasus Eno Parihah, seorang karyawati pabrik yang ditemukan tewas di mess di Kosambi, Tangerang, dengan gagang cangkul tertancap di kemaluannya.

Krishna berbagi cerita di hadapan ratusan mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) saat menjadi pembicara.

Menurutnya, pelaku yang diduga membunuh Eno, yakni RA (15), R (20), dan IP (24) bukanlah seorang psikopat. Akan tetapi hal itu bertujuan untuk menghilangkan jejak.

“Seperti kasus mutilasi wanita hamil waktu itu, ataupun kasus Eno, itu bukan psikopat. Itu menghilangkan jejak. Supaya sperma enggak kena dijeblosin pangkalnya,” kata Krishna dalam Seminar tentang Psikopat di Kampus UI Depok, Sabtu (21/5/2016).

Krishna menjelaskan, pelaku mengaku sendiri naksir Eno karena sering melintas hingga diajaknya berkenalan. Eno pun membalas dengan memberikan nomor handphone miliknya.

“Pelaku yang di bawah umur ini bilang sering lihat Eno lewat, sering digodain, lalu didatangi minta nomor HP-nya. Bocah ini juga mengaku dibilang Eno sebagai playboy karena nguber. SMS-an sebulan,” ungkapnya.

Krishna menambahkan, memang sejak awal pelaku terus berupaya merayu Eno. Namun, Eno menolak saat diajak berhubungan seks.

“Katanya korban diajak kawin muda. Namun, korban enggak mau, karena itu ini pelaku beramai-ramai pula karena pada dasarnya kalau sendiri mereka takut. Ini untuk menghilangkan jejak bukan psikopat,” tuturnya. (Ari)


Sumber: http://news.okezone.com

Krishna Murti: Pembunuh Eno Bukan Psikopat. (lalu apa?)

Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti
RiauJOS!*, Depok – Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti mengungkapkan proses penyelidikan dan penyidikan kasus Eno Parihah, seorang karyawati pabrik yang ditemukan tewas di mess di Kosambi, Tangerang, dengan gagang cangkul tertancap di kemaluannya.

Krishna berbagi cerita di hadapan ratusan mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) saat menjadi pembicara.

Menurutnya, pelaku yang diduga membunuh Eno, yakni RA (15), R (20), dan IP (24) bukanlah seorang psikopat. Akan tetapi hal itu bertujuan untuk menghilangkan jejak.

“Seperti kasus mutilasi wanita hamil waktu itu, ataupun kasus Eno, itu bukan psikopat. Itu menghilangkan jejak. Supaya sperma enggak kena dijeblosin pangkalnya,” kata Krishna dalam Seminar tentang Psikopat di Kampus UI Depok, Sabtu (21/5/2016).

Krishna menjelaskan, pelaku mengaku sendiri naksir Eno karena sering melintas hingga diajaknya berkenalan. Eno pun membalas dengan memberikan nomor handphone miliknya.

“Pelaku yang di bawah umur ini bilang sering lihat Eno lewat, sering digodain, lalu didatangi minta nomor HP-nya. Bocah ini juga mengaku dibilang Eno sebagai playboy karena nguber. SMS-an sebulan,” ungkapnya.

Krishna menambahkan, memang sejak awal pelaku terus berupaya merayu Eno. Namun, Eno menolak saat diajak berhubungan seks.

“Katanya korban diajak kawin muda. Namun, korban enggak mau, karena itu ini pelaku beramai-ramai pula karena pada dasarnya kalau sendiri mereka takut. Ini untuk menghilangkan jejak bukan psikopat,” tuturnya. (Ari)


Sumber: http://news.okezone.com