Social Items

Gambar di Mesin Pencari Google, dengan kata kunci "gagang pacul"

Editorial Riau JOS!, Senin, 23 Mei 2016

Semua kita, dibuat sesak dada ketika membuka berita mendapatkan fenomena yang menyentak rasa ingin tahu kita. Ada pemerkosa dan membunuh dengan cara memasukan gagang pacul ke dalam kemaluan korban, ada seorang mahasiswa yang pamer payudara hanya untuk mendapatkan uang Rp.100 ribu, ada seorang suporter bola yang merayakan kemenangan dengan bertelanjang ria dijalan raya.

Semua tersentak, para pendidik, tokoh agama, para psikolog, para pakar ilmu sosial dan semua masyarakat dibuat merinding, dan seolah tak kuasa dengan semua yang terjadi ini. Riau JOS, mengulasnya dalam editorial edisi "darurat mental" dan harus segera di kawal dari semua sudut jalan.

Sebenarnya dimana akar persoalan? ini yang seharusnya kita pikirkan dan perlu segera kita aksikan. Apakah kesalahan para orangtua, yang tak sempat mendidik anaknya mulai dari rumah, lalu menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah, dan guru-guru disekolahpun tak sempat sepanjang waktu memperhatikan pertumbuhan akhlak anak didiknya, karena banjir informasi melanda dimana-mana, asal ada pulsa, paket internet dan gadget semua dapat berinternet, dan dapat memuaskan selera sesuai nafsu masing-masing.

Perkembangan teknologi yang semakin digital, dan kelistrikan yang tak bisa ditahan, apalagi dibendung, semua seoalah tak mampu menahan gejolak perkembangan digital. Semua terbuka, seolah "telanjang" membuka semua sampai ke "ketombe" seperti iklan si penyanyi global, AgnezMo, yang katanya, "dizaman digital, tak ada yang bisa ditutup-tutupi," dimanapun kita berada, selalu ada yang menyorot, dan diupload ke media sosial.

Banyak ruang diskusi dalam aplikasi-aplikasi, semua bersembunyi dibalik tangan, menggengam gadget. Diam, tapi riuh dalam pikiran. Suara, menjadi kata disebar kemana-mana, dalam diam, terjadi riuh ramai penuh pemberontakan dalam kejiwaan terdalam manusia.

"Gagang pacul" yang menyusup di kemaluan, seolah ini pertanda tidak ada lagi anak-anak muda yang mampu berpikir panjang, kurang mampu mengambil keputusan, hingga berbuat lebih rendah dari apa yang diperbuat makhluk terendah yang pernah hidup di alam semesta ini.

Apa yang bisa kita perbuat sekarang? Riau JOS menghimpun aneka ragam informasi, dan rata-rata media sekedar memberitakan apa yang ada, belum sampai pada gerakan yang mampu mengarahkan tindakan untuk lebih berhati-hati dalam memperhatikan perkembangan akhlak manusia, terutama akhlak para pemuda, yang kedepan akan memimpin negeri ini.

Revolusi mental yang digaungkan kabinet kerja, masih sekedar sponsor yang terus digembar-gemborkan, masih sekedar simbol-simbol yang diwujudkan dalam berpakaian putih-putih, belum sampai kepada penjiwaan karakter yang bersih, seperti yang sering ditunjukkan oleh para pemimpin spiritual yang telah senyata-nyatanya berhasil memimpin umat manusia kepada Tuhan manusia.

Kita terlalu banyak makan "Tips-Tips", kurang diajarkan bertanya mengapa, semua seolah pragmatis, mengejar sesuatu yang instan, dan dianggap sebagai kebutuhan, kalau tidak dipenuhi, cara bagaimanapun ditempuh. Kalau dalam istilah mantan Ketua KPK, Abraham Samad, hedonisme, pemuja kesenangan. Semua diarahkan untuk memenuhi kesenangan, dan kesenangan itu, tidak diberi kesempatan untuk bertanya mengapa.

Kesimpulan dari uraian diatas, semua kita diharapkan bahu-membahu untuk membenahi cara kita menyikapi perkembangan akhlak anak-anak kita. Wanita sibuk bekerja, perlu dimintakan kembali kepada wakil Presiden Jusuf Kalla, yang dulu pernah mengusulkan agar wanita yang bekerja diluar rumah dikurangi jam kerjanya, maksimal pukul 16:00 WIB sudah sampai dirumah. Dan semua ini, tidak diwacanakan di media, namun sudah dalam bentuk kebijakan, dan dilaksanakan oleh semua kita yang hidup di negara Indonesia tercinta ini.





Gagang Pacul, Pamer Dada sampai Suporter Bola Telanjang di Jalan Raya

Gambar di Mesin Pencari Google, dengan kata kunci "gagang pacul"

Editorial Riau JOS!, Senin, 23 Mei 2016

Semua kita, dibuat sesak dada ketika membuka berita mendapatkan fenomena yang menyentak rasa ingin tahu kita. Ada pemerkosa dan membunuh dengan cara memasukan gagang pacul ke dalam kemaluan korban, ada seorang mahasiswa yang pamer payudara hanya untuk mendapatkan uang Rp.100 ribu, ada seorang suporter bola yang merayakan kemenangan dengan bertelanjang ria dijalan raya.

Semua tersentak, para pendidik, tokoh agama, para psikolog, para pakar ilmu sosial dan semua masyarakat dibuat merinding, dan seolah tak kuasa dengan semua yang terjadi ini. Riau JOS, mengulasnya dalam editorial edisi "darurat mental" dan harus segera di kawal dari semua sudut jalan.

Sebenarnya dimana akar persoalan? ini yang seharusnya kita pikirkan dan perlu segera kita aksikan. Apakah kesalahan para orangtua, yang tak sempat mendidik anaknya mulai dari rumah, lalu menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah, dan guru-guru disekolahpun tak sempat sepanjang waktu memperhatikan pertumbuhan akhlak anak didiknya, karena banjir informasi melanda dimana-mana, asal ada pulsa, paket internet dan gadget semua dapat berinternet, dan dapat memuaskan selera sesuai nafsu masing-masing.

Perkembangan teknologi yang semakin digital, dan kelistrikan yang tak bisa ditahan, apalagi dibendung, semua seoalah tak mampu menahan gejolak perkembangan digital. Semua terbuka, seolah "telanjang" membuka semua sampai ke "ketombe" seperti iklan si penyanyi global, AgnezMo, yang katanya, "dizaman digital, tak ada yang bisa ditutup-tutupi," dimanapun kita berada, selalu ada yang menyorot, dan diupload ke media sosial.

Banyak ruang diskusi dalam aplikasi-aplikasi, semua bersembunyi dibalik tangan, menggengam gadget. Diam, tapi riuh dalam pikiran. Suara, menjadi kata disebar kemana-mana, dalam diam, terjadi riuh ramai penuh pemberontakan dalam kejiwaan terdalam manusia.

"Gagang pacul" yang menyusup di kemaluan, seolah ini pertanda tidak ada lagi anak-anak muda yang mampu berpikir panjang, kurang mampu mengambil keputusan, hingga berbuat lebih rendah dari apa yang diperbuat makhluk terendah yang pernah hidup di alam semesta ini.

Apa yang bisa kita perbuat sekarang? Riau JOS menghimpun aneka ragam informasi, dan rata-rata media sekedar memberitakan apa yang ada, belum sampai pada gerakan yang mampu mengarahkan tindakan untuk lebih berhati-hati dalam memperhatikan perkembangan akhlak manusia, terutama akhlak para pemuda, yang kedepan akan memimpin negeri ini.

Revolusi mental yang digaungkan kabinet kerja, masih sekedar sponsor yang terus digembar-gemborkan, masih sekedar simbol-simbol yang diwujudkan dalam berpakaian putih-putih, belum sampai kepada penjiwaan karakter yang bersih, seperti yang sering ditunjukkan oleh para pemimpin spiritual yang telah senyata-nyatanya berhasil memimpin umat manusia kepada Tuhan manusia.

Kita terlalu banyak makan "Tips-Tips", kurang diajarkan bertanya mengapa, semua seolah pragmatis, mengejar sesuatu yang instan, dan dianggap sebagai kebutuhan, kalau tidak dipenuhi, cara bagaimanapun ditempuh. Kalau dalam istilah mantan Ketua KPK, Abraham Samad, hedonisme, pemuja kesenangan. Semua diarahkan untuk memenuhi kesenangan, dan kesenangan itu, tidak diberi kesempatan untuk bertanya mengapa.

Kesimpulan dari uraian diatas, semua kita diharapkan bahu-membahu untuk membenahi cara kita menyikapi perkembangan akhlak anak-anak kita. Wanita sibuk bekerja, perlu dimintakan kembali kepada wakil Presiden Jusuf Kalla, yang dulu pernah mengusulkan agar wanita yang bekerja diluar rumah dikurangi jam kerjanya, maksimal pukul 16:00 WIB sudah sampai dirumah. Dan semua ini, tidak diwacanakan di media, namun sudah dalam bentuk kebijakan, dan dilaksanakan oleh semua kita yang hidup di negara Indonesia tercinta ini.