Prof Dr Nasaruddin Umar
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN)  Syarif Hidayatullah

Rukuk adalah salah satu dari empat inti pelaksanaan shalat di samping berdiri, sujud, dan duduk. Inti pelaksanaan shalat ini sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW, "Saya diperintahkan Jibril untuk membaca Alquran pada waktu berdiri, bertahmid pada waktu rukuk, bertasbih pada waktu sujud, dan berdoa pada waktu duduk." 

Tata cara (kaifiyat) pelaksanaan shalat seperti inilah yang pernah disampaikan Nabi, Shallu kama raitumuni ushalli (shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat). Penjelasan tentang tata cara rukuk sudah banyak dibahas di dalam kitab-kitab fikih. Dasar hukum rukuk juga banyak disebutkan dalam ayat dan hadis antara lain, "Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk." (QS al-Baqarah [2]:43). 

Dalam suatu riwayat Nabi dikatakan, ketika turun akhir surah al-Waqi'ah, Fasabbih bi Ismi Rabbik al-'Adhim (bertasbilah dengan Nama Tuhanmu Yang Mahabesar/QS al-Waqi'ah [56]:96), Nabi memerintahkan untuk membacanya di dalam rukuk. Setelah turun awal surah al-A'la, Sabbih ism Rabbik al-A'la (bertasbihlah dengan Nama Tuhanmu Yang Mahatinggi/QS al-A'la [87]:1), maka Nabi memerintahkan sahabatnya membacanya di dalam sujud.

Hakikat rukuk, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab tasawuf, ialah simbol ketundukan seorang hamba yang rela dengan tulus merukukkan kepala sebagai mahkota paling tinggi manusia kepada Allah 'Azza wa Jalla. Perbuatan rukuk sesungguhnya bukan hanya kepala, melainkan yang lebih penting ialah merukukkan segenap potensi diri, mulai dari kepala sampai kepada seluruh organ spiritual kita, seperti kalbu, jiwa, dan akal pikiran. 

Seseorang tidak akan mencapai hakikat dan tujuan rukuk jika yang rukuk hanya lahiriah tanpa disertai batin atau sebaliknya batin tanpa disertai lahiriah. Hal yang pertama itulah disebut "orang yang dimurkai" (al-magdhub) dan yang kedua disebut "orang yang sesat" (al-dhalin). Lihat kembali artikel terdahulu tentang arti: gair al-magdhub 'alaihim wa la al-dhalin. 

Rukuk juga merupakan wujud tata krama dan keadaban individu (al-adab) dan sujud adalah wujud keakraban (al-qurb). Ini menjadi isyarat bahwa barang siapa yang ingin mendapatkan kedekatan dan keakraban dengan Allah SWT maka terlebih dahulu ia harus melewati fase ketundukan dan keberadaban. 

Jika orang gagal membangun ketundukan, biasanya juga akan gagal meraih kedekatan. Itulah sebabnya rukuk didahulukan baru sujud. Kalangan ulama tasawuf menyebut rukuk adalah kefanaan awal (al-fana' al-awwal) dan sujud adalah kefanaan sempurna (al-fana' al-kamil). Bermacam-macam orang mengapresiasi rukuk. Seorang sufi bernama Rabi' ibn Haitham diceritakan pernah rukuk mulai tengah malam sampai Subuh dalam satu rukuk. Ia sangat menikmati indahnya rukuk.

Sebuah riwayat yang disandarkan kepada peristiwa Mi'raj Nabi Muhammad SAW, ketika sedang rukuk ia menyaksikan makam paling tinggi, yakni 'Arasy yang menakjubkan, lalu di dalam rukuknya ia mengucapkan subhana Rabbiyal 'Adhim wa bihamdih (Mahasuci Tuhan Yang Mahabesar dan segala pujian hanya untuk-Nya). Tentu ucapan ini dipahami betul saat melihat 'Arasy karena di tempat itulah ia menerima perintah shalat. Ketika bangkit dari rukuk melihat cahaya 'Arasy meliputi dirinya dan pada saat itu ia membaca Sami'allahu liman hamida, kemudian ia tersungkur di dalam sujud di hadapan Tuhannya Yang Mahaagung.

Jika rukuk dilakukan dengan benar-benar membersihkan diri dari berbagai sifat egois (ananiyyah) dan ketakjuban diri (inniyyah), kemudian menghilangkan berbagai imajinasi di dalam pikiran dan sepenuhnya kepasrahan diri memuncak kepada Allah SWT, maka keadaan inilah yang mengantarkan diri seseorang merasakan kefanaan jiwa (al-fana' al-nafs). Hidayah dan petunjuk Allah SWT akan menunggu bagi siapa pun yang mencapai puncak kekhusyukan di dalam rukuk. Rukuk seperti inilah yang dijanjikan berbagai keberuntungan dari Allah SWT sebagaimana dalam sabdanya, "Hai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan perbuatlah kebaikan, supaya kamu mendapat kemenangan". (QS al-Hajj [22]:77).

Dalam kitab-kitab lain dijelaskan berdiri dalam shalat adalah simbol makam al-tauhid af'al, rukuk simbol makam al-tauhid al-shifah, sujud simbol makam al-tauhid al-dzati, dan duduk simbol makam al-tauhid al-asma'. Berhubung karena wilayah pembahasan keempat jenis tauhid ini sangat kompleks, maka akan dibahas tersendiri di dalam beberapa artikel mendatang. Keempat jenis tauhid ini juga banyak dibahas oleh para teolog dan ulama kalam. Ketika orang sedang mencapai puncak kedekatan diri di dalam rukuk, maka pada saat itu ia akan melihat hanya satu, Dialah Yang Maha Esa. Ia Esa dalam perbuatan, sifat, nama, dan zat. Ia sudah mampu melihat segala sesuatu yang banyak itu sebagai hanya satu, pancaran dan tajalli-Nya Yang Maha Esa. 

Orang-orang yang berada di dalam makam ketinggian (Qaus al-Su'udi) maka ia sudah menggunakan pandangan holistik (ijmali) sehingga ia menyaksikan hanya Satu (The Oneness/Wahidiyah) atau bahkan Yang Maha Satu (The One and Only/Ahadiyyah). Sebaliknya, orang yang masih berada di makam bawah (al-nuzul) maka ia menggunakan pandangan secara mikro (tafshili) sehingga yang disaksikannya ialah beragam makhluk Tuhan (the manyness/al-katsrah). Tentu kita berharap dan sekaligus kita memohon kepada Allah SWT agar hari demi hari pengalaman rukuk kita semakin membuahkan makna dan hakikat rukuk. 



Menyelami Hakikat Rukuk

Prof Dr Nasaruddin Umar
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN)  Syarif Hidayatullah

Rukuk adalah salah satu dari empat inti pelaksanaan shalat di samping berdiri, sujud, dan duduk. Inti pelaksanaan shalat ini sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW, "Saya diperintahkan Jibril untuk membaca Alquran pada waktu berdiri, bertahmid pada waktu rukuk, bertasbih pada waktu sujud, dan berdoa pada waktu duduk." 

Tata cara (kaifiyat) pelaksanaan shalat seperti inilah yang pernah disampaikan Nabi, Shallu kama raitumuni ushalli (shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat). Penjelasan tentang tata cara rukuk sudah banyak dibahas di dalam kitab-kitab fikih. Dasar hukum rukuk juga banyak disebutkan dalam ayat dan hadis antara lain, "Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk." (QS al-Baqarah [2]:43). 

Dalam suatu riwayat Nabi dikatakan, ketika turun akhir surah al-Waqi'ah, Fasabbih bi Ismi Rabbik al-'Adhim (bertasbilah dengan Nama Tuhanmu Yang Mahabesar/QS al-Waqi'ah [56]:96), Nabi memerintahkan untuk membacanya di dalam rukuk. Setelah turun awal surah al-A'la, Sabbih ism Rabbik al-A'la (bertasbihlah dengan Nama Tuhanmu Yang Mahatinggi/QS al-A'la [87]:1), maka Nabi memerintahkan sahabatnya membacanya di dalam sujud.

Hakikat rukuk, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab tasawuf, ialah simbol ketundukan seorang hamba yang rela dengan tulus merukukkan kepala sebagai mahkota paling tinggi manusia kepada Allah 'Azza wa Jalla. Perbuatan rukuk sesungguhnya bukan hanya kepala, melainkan yang lebih penting ialah merukukkan segenap potensi diri, mulai dari kepala sampai kepada seluruh organ spiritual kita, seperti kalbu, jiwa, dan akal pikiran. 

Seseorang tidak akan mencapai hakikat dan tujuan rukuk jika yang rukuk hanya lahiriah tanpa disertai batin atau sebaliknya batin tanpa disertai lahiriah. Hal yang pertama itulah disebut "orang yang dimurkai" (al-magdhub) dan yang kedua disebut "orang yang sesat" (al-dhalin). Lihat kembali artikel terdahulu tentang arti: gair al-magdhub 'alaihim wa la al-dhalin. 

Rukuk juga merupakan wujud tata krama dan keadaban individu (al-adab) dan sujud adalah wujud keakraban (al-qurb). Ini menjadi isyarat bahwa barang siapa yang ingin mendapatkan kedekatan dan keakraban dengan Allah SWT maka terlebih dahulu ia harus melewati fase ketundukan dan keberadaban. 

Jika orang gagal membangun ketundukan, biasanya juga akan gagal meraih kedekatan. Itulah sebabnya rukuk didahulukan baru sujud. Kalangan ulama tasawuf menyebut rukuk adalah kefanaan awal (al-fana' al-awwal) dan sujud adalah kefanaan sempurna (al-fana' al-kamil). Bermacam-macam orang mengapresiasi rukuk. Seorang sufi bernama Rabi' ibn Haitham diceritakan pernah rukuk mulai tengah malam sampai Subuh dalam satu rukuk. Ia sangat menikmati indahnya rukuk.

Sebuah riwayat yang disandarkan kepada peristiwa Mi'raj Nabi Muhammad SAW, ketika sedang rukuk ia menyaksikan makam paling tinggi, yakni 'Arasy yang menakjubkan, lalu di dalam rukuknya ia mengucapkan subhana Rabbiyal 'Adhim wa bihamdih (Mahasuci Tuhan Yang Mahabesar dan segala pujian hanya untuk-Nya). Tentu ucapan ini dipahami betul saat melihat 'Arasy karena di tempat itulah ia menerima perintah shalat. Ketika bangkit dari rukuk melihat cahaya 'Arasy meliputi dirinya dan pada saat itu ia membaca Sami'allahu liman hamida, kemudian ia tersungkur di dalam sujud di hadapan Tuhannya Yang Mahaagung.

Jika rukuk dilakukan dengan benar-benar membersihkan diri dari berbagai sifat egois (ananiyyah) dan ketakjuban diri (inniyyah), kemudian menghilangkan berbagai imajinasi di dalam pikiran dan sepenuhnya kepasrahan diri memuncak kepada Allah SWT, maka keadaan inilah yang mengantarkan diri seseorang merasakan kefanaan jiwa (al-fana' al-nafs). Hidayah dan petunjuk Allah SWT akan menunggu bagi siapa pun yang mencapai puncak kekhusyukan di dalam rukuk. Rukuk seperti inilah yang dijanjikan berbagai keberuntungan dari Allah SWT sebagaimana dalam sabdanya, "Hai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan perbuatlah kebaikan, supaya kamu mendapat kemenangan". (QS al-Hajj [22]:77).

Dalam kitab-kitab lain dijelaskan berdiri dalam shalat adalah simbol makam al-tauhid af'al, rukuk simbol makam al-tauhid al-shifah, sujud simbol makam al-tauhid al-dzati, dan duduk simbol makam al-tauhid al-asma'. Berhubung karena wilayah pembahasan keempat jenis tauhid ini sangat kompleks, maka akan dibahas tersendiri di dalam beberapa artikel mendatang. Keempat jenis tauhid ini juga banyak dibahas oleh para teolog dan ulama kalam. Ketika orang sedang mencapai puncak kedekatan diri di dalam rukuk, maka pada saat itu ia akan melihat hanya satu, Dialah Yang Maha Esa. Ia Esa dalam perbuatan, sifat, nama, dan zat. Ia sudah mampu melihat segala sesuatu yang banyak itu sebagai hanya satu, pancaran dan tajalli-Nya Yang Maha Esa. 

Orang-orang yang berada di dalam makam ketinggian (Qaus al-Su'udi) maka ia sudah menggunakan pandangan holistik (ijmali) sehingga ia menyaksikan hanya Satu (The Oneness/Wahidiyah) atau bahkan Yang Maha Satu (The One and Only/Ahadiyyah). Sebaliknya, orang yang masih berada di makam bawah (al-nuzul) maka ia menggunakan pandangan secara mikro (tafshili) sehingga yang disaksikannya ialah beragam makhluk Tuhan (the manyness/al-katsrah). Tentu kita berharap dan sekaligus kita memohon kepada Allah SWT agar hari demi hari pengalaman rukuk kita semakin membuahkan makna dan hakikat rukuk.