Credit: thelucidplanet.com

Pelbagai permasalahan sosial yang melanda Indonesia saat ini telah mampu memorak-porandakan jiwa. Sehingga, banyak perilaku menyimpang dari ajaran Islam. Karena itu, sudah semestinya umat Islam kembali kepada ajaran yang berlandaskan Alquran dan hadis Rasulullah SAW.

Umat saat ini membutuhkan penenteram jiwa untuk menghadapi realitas yang ada. Umat Islam membutuhkan siraman rohani di tengah-tengah masyarakat yang galau dengan fenomena sosial yang ada. Buku ini merupakan bunga rampai tulisan Hasan Basri Tanjung yang dimuat di Harian Republika, materi ceramah, dan tulisannya di beberapa buletin. Setelah sukses menelurkan buku pertamanya, Karunia Tak Ternilai, penulis tak perlu menunggu lama lagi kembali membuat karya untuk umat.

Dikemas dengan gaya tulisan yang mudah dipahami, buku Mendaki Jalan Kemuliaan ini menyajikan berbagai kajian pendidikan karakter Islami dan tasawuf sosial dalam menyikapi beragam persoalan dan fenomena yang terjadi di masyarakat. Di bagian awal buku, ia mencoba mengelaborasi peranan keluarga dalam pendidikan anak.

Menurut Hasan Basri, penanaman fondasi akidah, ibadah, dan akhlak harus berawal dari pendidikan keluarga yang didukung oleh lingkungan sosial dan sekolah. Karena itu, realitas umat Islam dewasa ini dan sikap keberagamannya juga tak luput dari perhatiannya.

Hasan Basri menegaskan, menanamkan pohon tauhid harus dimulai sejak kecil sehingga memungkinkan akarnya berkembang baik. Tauhid inilah awal pendidikaan anak yang harus ditanamkan di dalam keluarga oleh guru utamanya, yakni kedua orang tua.

Melalui buku ini, umat Islam juga akan diberikan arahan atau tuntunan untuk merenungi perjalanan kehidupan di dunia yang pasti akan berakhir. Selain itu, dalam menyikapi beragam permasalahan di dunia ini juga selalu dipertegas dengan ajaran Alquran dan hadis.

Buku ini fokus mengkaji persoalan-persoalan yang sering dijumpai di masyarakat. Dengan hadirnya buku ini diharapkan kesulitan dapat mencari jawaban dari persoalan-persoalan kehidupan dengan baik, tanpa melahirkan konflik ataupun kebencian.

Terdapat empat bagian tema yang coba diurai dalam buku ini. Namun, yang paling menarik adalah di bagian kedua yang bertema "Mendaki Jalan Kemuliaan". Dalam bagian ini, dijelaskan perihal realitas umat Islam saat ini. Salah satunya bahwa Indonesia adalah negara terbesar di dunia dengan beragama Islam, namun semakin semu akan nilai-nilai keislaman.

Selain mengungkap realitas tersebut, tidak berhenti di situ, buku ini juga menawarkan sebuah solusi atas permasalahan sosial yang terjadi, khususnya di Indonesia. Bahkan, penulis mencoba mengingatkan kembali kepada umat tentang sejarah keislaman.

Keempat tema dalam buku ini sangat relevan bagi siapa pun yang ingin menenteramkan jiwa dirinya, keluarganya, masyarakat, dan juga bangsanya. Ajaran yang terkandung dalam buku ini sangat layak disebarluaskan sebagai sajian rohani untuk umat.

Di samping itu, isi buku ini juga sangat cocok bagi masyarakat modern yang memang butuh siraman spiritual. Pembaca tidak membutuhkan usaha keras dalam memahami buku ini karena penulis menyajikan sebuah bacaan yang ringan dengan bahasa sederhana, namun penuh makna.

Untaian kata di dalam buku ini dapat menyejukkan hati sekaligus menggugah umat Islam untuk menyikapi hidup dengan optimistis serta mengajak untuk menjadi pribadi yang bersyukur ketika diberi rezeki, sabar, serta tawakal saat mendapat ujian hidup. Karena itulah, buku ini menjadi penenteram bagi umat Islam di masa depan.  

c39 ed: Hafidz Muftisany


Sumber: republika.co.id

Menenteramkan Jiwa yang Haus Spiritual

Credit: thelucidplanet.com

Pelbagai permasalahan sosial yang melanda Indonesia saat ini telah mampu memorak-porandakan jiwa. Sehingga, banyak perilaku menyimpang dari ajaran Islam. Karena itu, sudah semestinya umat Islam kembali kepada ajaran yang berlandaskan Alquran dan hadis Rasulullah SAW.

Umat saat ini membutuhkan penenteram jiwa untuk menghadapi realitas yang ada. Umat Islam membutuhkan siraman rohani di tengah-tengah masyarakat yang galau dengan fenomena sosial yang ada. Buku ini merupakan bunga rampai tulisan Hasan Basri Tanjung yang dimuat di Harian Republika, materi ceramah, dan tulisannya di beberapa buletin. Setelah sukses menelurkan buku pertamanya, Karunia Tak Ternilai, penulis tak perlu menunggu lama lagi kembali membuat karya untuk umat.

Dikemas dengan gaya tulisan yang mudah dipahami, buku Mendaki Jalan Kemuliaan ini menyajikan berbagai kajian pendidikan karakter Islami dan tasawuf sosial dalam menyikapi beragam persoalan dan fenomena yang terjadi di masyarakat. Di bagian awal buku, ia mencoba mengelaborasi peranan keluarga dalam pendidikan anak.

Menurut Hasan Basri, penanaman fondasi akidah, ibadah, dan akhlak harus berawal dari pendidikan keluarga yang didukung oleh lingkungan sosial dan sekolah. Karena itu, realitas umat Islam dewasa ini dan sikap keberagamannya juga tak luput dari perhatiannya.

Hasan Basri menegaskan, menanamkan pohon tauhid harus dimulai sejak kecil sehingga memungkinkan akarnya berkembang baik. Tauhid inilah awal pendidikaan anak yang harus ditanamkan di dalam keluarga oleh guru utamanya, yakni kedua orang tua.

Melalui buku ini, umat Islam juga akan diberikan arahan atau tuntunan untuk merenungi perjalanan kehidupan di dunia yang pasti akan berakhir. Selain itu, dalam menyikapi beragam permasalahan di dunia ini juga selalu dipertegas dengan ajaran Alquran dan hadis.

Buku ini fokus mengkaji persoalan-persoalan yang sering dijumpai di masyarakat. Dengan hadirnya buku ini diharapkan kesulitan dapat mencari jawaban dari persoalan-persoalan kehidupan dengan baik, tanpa melahirkan konflik ataupun kebencian.

Terdapat empat bagian tema yang coba diurai dalam buku ini. Namun, yang paling menarik adalah di bagian kedua yang bertema "Mendaki Jalan Kemuliaan". Dalam bagian ini, dijelaskan perihal realitas umat Islam saat ini. Salah satunya bahwa Indonesia adalah negara terbesar di dunia dengan beragama Islam, namun semakin semu akan nilai-nilai keislaman.

Selain mengungkap realitas tersebut, tidak berhenti di situ, buku ini juga menawarkan sebuah solusi atas permasalahan sosial yang terjadi, khususnya di Indonesia. Bahkan, penulis mencoba mengingatkan kembali kepada umat tentang sejarah keislaman.

Keempat tema dalam buku ini sangat relevan bagi siapa pun yang ingin menenteramkan jiwa dirinya, keluarganya, masyarakat, dan juga bangsanya. Ajaran yang terkandung dalam buku ini sangat layak disebarluaskan sebagai sajian rohani untuk umat.

Di samping itu, isi buku ini juga sangat cocok bagi masyarakat modern yang memang butuh siraman spiritual. Pembaca tidak membutuhkan usaha keras dalam memahami buku ini karena penulis menyajikan sebuah bacaan yang ringan dengan bahasa sederhana, namun penuh makna.

Untaian kata di dalam buku ini dapat menyejukkan hati sekaligus menggugah umat Islam untuk menyikapi hidup dengan optimistis serta mengajak untuk menjadi pribadi yang bersyukur ketika diberi rezeki, sabar, serta tawakal saat mendapat ujian hidup. Karena itulah, buku ini menjadi penenteram bagi umat Islam di masa depan.  

c39 ed: Hafidz Muftisany


Sumber: republika.co.id