infografis: print.kompas.com


Efisiensi Kerja Makin Didorong

RiauJOS!*, Jakarta — Generasi Y mulai mengubah lanskap korporasi di Indonesia. Kultur korporasi, gaya kepemimpinan, hingga urusan perekrutan dan metode memotivasi karyawan pun berubah, seiring makin besarnya peran generasi yang lahir setelah tahun 1980 ini dalam perusahaan.

Angkatan kerja yang berusia sekitar 30 tahun-kerap disebut generasi Y atau generasi milenial-kini mendorong perubahan besar dalam pengelolaan bisnis. Generasi ini memiliki karakter berbeda dengan pendahulunya. Mereka pun fasih mengadopsi teknologi digital dalam beragam aspek bisnis.

Perubahan lanskap itu terkonfirmasi oleh beberapa kalangan yang ditemuiKompas sepanjang pekan lalu hingga Minggu (13/3), di Jakarta, antara lain Direktur Grup Royal Golden Eagle Anderson Tanoto yang lahir tahun 1989, Direktur Grup Lippo John Riady yang lahir pada 1985, CEO BrideStory.com Kevin Mintaraga yang lahir pada 1985, dan CEO Bahaso.com Tyovan Ari Widagdo yang lahir pada 1990.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, di perusahaan yang sudah mapan, seperti PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT Bank OCBC NISP Tbk, saat ini 70-80 persen dari karyawan yang ada tergolong generasi Y. Sementara di perusahaan-perusahaan rintisan berbasis digital, hampir semua karyawannya adalah generasi Y.

Sebagian generasi Y ini melanjutkan bisnis orangtua mereka dengan pendekatan berbeda dari generasi pendahulunya yang membangun perusahaan. Pendekatan baru ini umumnya mengarah pada upaya mengefisienkan proses kerja dan memberi nilai tambah. Mereka juga lebih tidak nyaman jika dikaitkan dengan nama besar orangtuanya.

Suasana berbeda dapat ditangkap ketika Kompas mengunjungi beberapa perusahaan yang dipimpin generasi Y ini. Mulai dari tampilan kantor yang lebih segar dan dinamis dibandingkan kantor para pendahulunya hingga alur kerja dan aturan yang tak lagi terlalu mengekang.

Aset perusahaan yang semula didominasi aset fisik juga bergeser ke aset sumber daya manusia. Sistem perekrutan karyawan, komunikasi, pemantauan hasil kerja, dan beragam aspek lain diwarnai teknologi digital dan terkoneksi baik.

Kondisi lebih ekstrem tampak pada korporasi yang merupakan usaha rintisan (start up) berbasis digital. Tempat kerja di bidang bisnis ini terkesan bak tempat bermain. Acara seperti makan siang dan nonton film bersama menjadi kebutuhan pokok. Ciri mereka adalah gaya tidak birokratis, kreatif, dan inspiratif. Pola kerja dibangun dengan keterampilan interpersonal yang kuat, antusiasme, dan kemudahan berkolaborasi.

"Teknologi digital diterapkan di perusahaan untuk mendukung proses efisiensi dan pembelajaran. Contoh, di kebun sawit kami, semua mandor sejak awal 2014 dilengkapi sabak elektronik. Semua informasi yang didapat mandor di-input ke dalam tablet langsung dari lapangan. Proses ini jauh lebih cepat ketimbang pencatatan data dilakukan sekembali mandor dari lapangan ke kantor," kata Anderson.

Anderson juga mengatakan, dirinya memakai pesawat nirawak untuk mengawasi dan memeriksa tanaman-tanaman perkebunan perusahaan. Proses ini jauh lebih efisien ketimbang mengamati satu per satu pohon dengan jangkauan pengamatan yang terbatas. Penggunaan teknologi di perusahaan itu tidak mengganti peran manusia, tetapi lebih ditujukan pada peningkatan produksi dan efisiensi.

"Di perusahaan kami bahkan ada ruang pemantau berita tersendiri yang digawangi sejumlah anggota staf untuk memantau apa yang sedang terjadi di luar," katanya. Di ruangan itu, enam layar besar berisikan data dan informasi situs berita dikelola oleh enam karyawan.

Peluang bisnis

Besarnya jumlah generasi Y dan karakter mereka merupakan aset berharga apabila perusahaan mampu mengelolanya. Inovasi dan ide mereka menjadi nilai lebih yang bisa menjadikan korporasi makin berkembang.

Komisaris Matahari Department Store dan Hypermart John Riady (30) menilai, perkembangan dunia digital saat ini merupakan revolusi industri keempat. Pada era ini, teknologi didemokratisasi, dapat diakses semua orang, setidaknya dalam bentuk telepon genggam yang makin canggih. Akses teknologi oleh penduduk Indonesia yang berjumlah besar mendongkrak skala ekonomi Indonesia.

"Dengan teknologi digital, kerja sama lebih mudah dibangun perusahaan atau organisasi. Kalau pada era sebelumnya, bentuk kerja sama lebih top down. Sekarang tidak hanya top down, ide-ide kreatif dari karyawan harus didengar," kata John yang juga menjabat sebagai Direktur Grup Lippo.

Teknologi digital juga membuat perusahaan menjadi transparan dan akuntabel. "Konsumen akan tahu track record perusahaan. Hal itu mendorong perusahaan menjadi bertanggung jawab, tidak sekadar make money," kata John.

Di sisi lain, perusahaan juga lebih mudah mengenal tren pasar atau mengetahui keinginan serta kebutuhan konsumen. Berkait itu, menurut John, perkembangan teknologi digital saat ini sangat berdampak terhadap perusahaan, termasuk Grup Lippo.

Grup Lippo saat ini mengembangkan beragam sektor usaha, antara lain properti, ritel seperti Hypermart dan Matahari, multimedia, rumah sakit, dan usaha jasa finansial.

Revolusi

Guru Besar Manajemen Universitas Indonesia Rhenald Kasali mengatakan, generasi Y mendorong perubahan kultur dan cara kerja korporasi, antara lain karena mereka berpendidikan tinggi. Mereka juga menyadari perkembangan korporasi global seperti Google yang menantang, tetapi berkultur kerja menyenangkan.

Dari situ timbul semacam pemberontakan di kalangan generasi Y. Mereka mendesain kantor berbeda, lebih egaliter, dan terkoneksi dengan pasar global.

"Dulu, hubungan orangtua dengan pejabat bersifat kolusi, kini mereka tidak bersedia lagi berkolusi. Ketika bertemu pejabat, generasi milenial merasa setara dan saling membutuhkan. Mereka benar-benar membongkar kultur usaha orangtuanya," kata Rhenald.

Perkembangan ini perlu dicermati pemerintah dan dunia usaha. Kegiatan generasi milenial yang melahirkan berbagai inovasi akan membongkar, bahkan mengguncang, model-model bisnis lama yang tidak efisien. Hal ini antara lain juga dapat dilihat pada perkembangan bisnis Gojek, Uber, dan lain-lain.


Sumber: print.kompas.com


Generasi Y Mengubah Wajah Korporasi

infografis: print.kompas.com


Efisiensi Kerja Makin Didorong

RiauJOS!*, Jakarta — Generasi Y mulai mengubah lanskap korporasi di Indonesia. Kultur korporasi, gaya kepemimpinan, hingga urusan perekrutan dan metode memotivasi karyawan pun berubah, seiring makin besarnya peran generasi yang lahir setelah tahun 1980 ini dalam perusahaan.

Angkatan kerja yang berusia sekitar 30 tahun-kerap disebut generasi Y atau generasi milenial-kini mendorong perubahan besar dalam pengelolaan bisnis. Generasi ini memiliki karakter berbeda dengan pendahulunya. Mereka pun fasih mengadopsi teknologi digital dalam beragam aspek bisnis.

Perubahan lanskap itu terkonfirmasi oleh beberapa kalangan yang ditemuiKompas sepanjang pekan lalu hingga Minggu (13/3), di Jakarta, antara lain Direktur Grup Royal Golden Eagle Anderson Tanoto yang lahir tahun 1989, Direktur Grup Lippo John Riady yang lahir pada 1985, CEO BrideStory.com Kevin Mintaraga yang lahir pada 1985, dan CEO Bahaso.com Tyovan Ari Widagdo yang lahir pada 1990.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, di perusahaan yang sudah mapan, seperti PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT Bank OCBC NISP Tbk, saat ini 70-80 persen dari karyawan yang ada tergolong generasi Y. Sementara di perusahaan-perusahaan rintisan berbasis digital, hampir semua karyawannya adalah generasi Y.

Sebagian generasi Y ini melanjutkan bisnis orangtua mereka dengan pendekatan berbeda dari generasi pendahulunya yang membangun perusahaan. Pendekatan baru ini umumnya mengarah pada upaya mengefisienkan proses kerja dan memberi nilai tambah. Mereka juga lebih tidak nyaman jika dikaitkan dengan nama besar orangtuanya.

Suasana berbeda dapat ditangkap ketika Kompas mengunjungi beberapa perusahaan yang dipimpin generasi Y ini. Mulai dari tampilan kantor yang lebih segar dan dinamis dibandingkan kantor para pendahulunya hingga alur kerja dan aturan yang tak lagi terlalu mengekang.

Aset perusahaan yang semula didominasi aset fisik juga bergeser ke aset sumber daya manusia. Sistem perekrutan karyawan, komunikasi, pemantauan hasil kerja, dan beragam aspek lain diwarnai teknologi digital dan terkoneksi baik.

Kondisi lebih ekstrem tampak pada korporasi yang merupakan usaha rintisan (start up) berbasis digital. Tempat kerja di bidang bisnis ini terkesan bak tempat bermain. Acara seperti makan siang dan nonton film bersama menjadi kebutuhan pokok. Ciri mereka adalah gaya tidak birokratis, kreatif, dan inspiratif. Pola kerja dibangun dengan keterampilan interpersonal yang kuat, antusiasme, dan kemudahan berkolaborasi.

"Teknologi digital diterapkan di perusahaan untuk mendukung proses efisiensi dan pembelajaran. Contoh, di kebun sawit kami, semua mandor sejak awal 2014 dilengkapi sabak elektronik. Semua informasi yang didapat mandor di-input ke dalam tablet langsung dari lapangan. Proses ini jauh lebih cepat ketimbang pencatatan data dilakukan sekembali mandor dari lapangan ke kantor," kata Anderson.

Anderson juga mengatakan, dirinya memakai pesawat nirawak untuk mengawasi dan memeriksa tanaman-tanaman perkebunan perusahaan. Proses ini jauh lebih efisien ketimbang mengamati satu per satu pohon dengan jangkauan pengamatan yang terbatas. Penggunaan teknologi di perusahaan itu tidak mengganti peran manusia, tetapi lebih ditujukan pada peningkatan produksi dan efisiensi.

"Di perusahaan kami bahkan ada ruang pemantau berita tersendiri yang digawangi sejumlah anggota staf untuk memantau apa yang sedang terjadi di luar," katanya. Di ruangan itu, enam layar besar berisikan data dan informasi situs berita dikelola oleh enam karyawan.

Peluang bisnis

Besarnya jumlah generasi Y dan karakter mereka merupakan aset berharga apabila perusahaan mampu mengelolanya. Inovasi dan ide mereka menjadi nilai lebih yang bisa menjadikan korporasi makin berkembang.

Komisaris Matahari Department Store dan Hypermart John Riady (30) menilai, perkembangan dunia digital saat ini merupakan revolusi industri keempat. Pada era ini, teknologi didemokratisasi, dapat diakses semua orang, setidaknya dalam bentuk telepon genggam yang makin canggih. Akses teknologi oleh penduduk Indonesia yang berjumlah besar mendongkrak skala ekonomi Indonesia.

"Dengan teknologi digital, kerja sama lebih mudah dibangun perusahaan atau organisasi. Kalau pada era sebelumnya, bentuk kerja sama lebih top down. Sekarang tidak hanya top down, ide-ide kreatif dari karyawan harus didengar," kata John yang juga menjabat sebagai Direktur Grup Lippo.

Teknologi digital juga membuat perusahaan menjadi transparan dan akuntabel. "Konsumen akan tahu track record perusahaan. Hal itu mendorong perusahaan menjadi bertanggung jawab, tidak sekadar make money," kata John.

Di sisi lain, perusahaan juga lebih mudah mengenal tren pasar atau mengetahui keinginan serta kebutuhan konsumen. Berkait itu, menurut John, perkembangan teknologi digital saat ini sangat berdampak terhadap perusahaan, termasuk Grup Lippo.

Grup Lippo saat ini mengembangkan beragam sektor usaha, antara lain properti, ritel seperti Hypermart dan Matahari, multimedia, rumah sakit, dan usaha jasa finansial.

Revolusi

Guru Besar Manajemen Universitas Indonesia Rhenald Kasali mengatakan, generasi Y mendorong perubahan kultur dan cara kerja korporasi, antara lain karena mereka berpendidikan tinggi. Mereka juga menyadari perkembangan korporasi global seperti Google yang menantang, tetapi berkultur kerja menyenangkan.

Dari situ timbul semacam pemberontakan di kalangan generasi Y. Mereka mendesain kantor berbeda, lebih egaliter, dan terkoneksi dengan pasar global.

"Dulu, hubungan orangtua dengan pejabat bersifat kolusi, kini mereka tidak bersedia lagi berkolusi. Ketika bertemu pejabat, generasi milenial merasa setara dan saling membutuhkan. Mereka benar-benar membongkar kultur usaha orangtuanya," kata Rhenald.

Perkembangan ini perlu dicermati pemerintah dan dunia usaha. Kegiatan generasi milenial yang melahirkan berbagai inovasi akan membongkar, bahkan mengguncang, model-model bisnis lama yang tidak efisien. Hal ini antara lain juga dapat dilihat pada perkembangan bisnis Gojek, Uber, dan lain-lain.


Sumber: print.kompas.com