Lawang Sewu
Lawang Sewu. Nama yang cukup mengejutkan bagi kita semua. Dalam bahasa Jawa, artinya "Seribu pintu". Ya, walaupun kenyataan tidak sampai seribu pintunya. Nama Lawang Sewu diibaratkan ada seribu pintu karena memiliki pintu yang cukup banyak. Aku akan bercerita tentang pengalamanku jalan-jalan di Lawang Sewu.

Cuaca siang itu sangatlah panas. Sampai keringat di dahiku bercucuran. Ketika masuk halaman Lawang Sewu, wuish ...! Antrean tiketnya panjang seperti ular yang meliuk-liuk. Beberapa dari pengunjung yang mengantre tiket siang itu ada yang membawa payung saking panasnya. Awalnya, aku tak mau jika harus mengantre tiket. Tapi, kan sudah sampai disini. Jadi, ya sudahlah, aku mengantre saja.

Namun, antrean bak ular yang meliuk-liuk itu hilang dalam waktu 15 menit. Pengunjung sudah mendapatkan tiketnya masing-masing. Nah, sekarang giliran aku yang mengantre. Untuk tiket anak-anak (3-12 thn), harganya Rp5.000. Untuk dewasa, Rp10.000. Setelah dapat tiketnya, kami mencari penyewaan guide (pemandu). Kami dapat satu guide, namanya Pak Ateng.Sambil berkeliling, Pak Ateng menjelaskan ruangan dan lainnya. Di Lawang Sewu, ada gedung; A, B, C, D, dan E. Aku akan jelaskan gedung-gedung di Lawang Sewu ini.

Gedung A dibangun tahun 1904-1907. Dibangun oleh Profesor Jacob F. Klinkhamer dan asistennya. Stasiun pertama kali di Semarang adalah Samarang yang dibangun pada tahun 1867. Stasiun Samarang ini berada di Desa Kemijen. Namun sayangnya, Stasiun Samarang sudah tenggelam dimakan air rob.

Gedung B dibangun tahun 1916-1918. Gedung C dibangunnya sama seperti Gedung A, tahun 1904-1907. Di dalam gedung C, ada pembuat tiket zaman dahulu. Mesinnya dibuat tahun 1840. Mesin tiket ini dipakai sampai akhir tahun 2009.

Oh iya, khusus Gedung A dan Gedung B, ada lorong bawah tanahnya. Namun sayangnya, lorong bawah tanah tidak bisa dikunjungi karena dalam proses perbaikan.

Fungsi lorong gedung A: sebagai resapan air. terdiri atas amparan tanah dan pasir.

Di Gedung A, terdapat 2 menara kembar. Isinya masing-masing menara 1 tabng air. Tingginya kurang lebih 7 meter. Fungsi tabung air itu untuk mencukupi kebutuhan air pada zaman dahulu. Oh iya, di gedung A ada lantai 2 dan 3. Aduh, namun sayang sekali, lantai 2 dan 3 masih dalam renovasi.

Sebelum masuk ke gedung B, Pak Ateng bertanya padaku. "Mbak Kecil, kamu mau tahu, lorong bawah tanah seperti apa?" tanya Pak Ateng. Aku menjawab, "Iya, Pak." Lalu, Pak Ateng berkata, "Coba lihat dari lubang di sana!" Pak Ateng menunjuk sebuah lubang yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Jadi, pas. Aku melongokkan wajahku ke lubang itu. Gelap. Anginnya dari dalam berhembus perlahan. Dinginnya. Setelah mengintip lorong bawah tanah, kami pun mulai mengelilingi gedung B.

Di gedung B, terdapat dua pintu untuk menuju lorong bawah tanah. Sebenarnya, aku sangat penasaran lho, dengan lorong bawah tanahnya. Sayang ya, masih dalam perbaikan. Oh ya, tinggi lorong bawah tanah gedung B ini kurang lebih 2 meter. Fungsinya sebagai resapan air dan pendingin ruangan. Oh ya, kata Pak Ateng juga, jika kita berdiri di lorong bawah tanah gedung A, kita tidak bisa berdiri tegap. Agak membungkuk. Soalnya, lorongnya pendek. 

Kami juga sempat diarahkan untuk berfoto oleh Pak Ateng. Kami beberapa kali difoto-foto oleh Pak Ateng. Background di Lawang Sewu ini banyak yang bagus dan menarik.Oh ya, aku juga masih mempunyai cerita tentang sejarah Lawang Sewu loh. Ayo kita baca ke bawah!

Gedung D dulu dipakai sebagai pendopo, tempat santai dan minum-minum orang Belanda pada zaman dahulu. Gedung E dulu dipakai sebagai tempat para penjaga pada zaman dahulu. Oh iya, di balik gedung B, mengalir sungai yang bernama "Kali Tumpeng".

Belanda meninggalkan Lawang Sewu ketika Jepang menguasai Lawang Sewu. Saat itu, tahun 1942-1943. Jepang dulu juga ingin meracuni sumber air bersih agar dapat menguasai Semarang dengan total. DAM yang ingin diracuni Jepang dulu di daerah Candi.

Pada tahun 1951, Tugu Muda dibangun sebagai lambang kemenangan pada Pertempuran Lima Hari di Semarang. Tugu Muda diresmikan oleh Bapak Soekarno sebagai presiden Indonesia yang pertama, bersama wakilnya Bapak Moh.Hatta. Dulunya, Tugu Muda ini bernama Tugu Merdeka. Dulu, Lawang Sewu dipakai sebagai kantor NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) atau Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). 

Tahu tidak? Telepon kayu mulai digunakan pada tanggal 26 November 1901 lho. Belanda juga membangun jalur kereta api di Sumatra Barat yang panjang relnya 101 meter.

Kalian ingin tahu, selengkapnya tentang Lawang Sewu? Jika sedang berlibur ke Semarang, berkunjunglah ke Lawang Sewu yang terletak di Jalan Pemuda. Ke Lawang Sewu, yuk!

Penulis: Savitri Nurudzaati A




















Berwisata ke Lawang Sewu di Semarang

Lawang Sewu
Lawang Sewu. Nama yang cukup mengejutkan bagi kita semua. Dalam bahasa Jawa, artinya "Seribu pintu". Ya, walaupun kenyataan tidak sampai seribu pintunya. Nama Lawang Sewu diibaratkan ada seribu pintu karena memiliki pintu yang cukup banyak. Aku akan bercerita tentang pengalamanku jalan-jalan di Lawang Sewu.

Cuaca siang itu sangatlah panas. Sampai keringat di dahiku bercucuran. Ketika masuk halaman Lawang Sewu, wuish ...! Antrean tiketnya panjang seperti ular yang meliuk-liuk. Beberapa dari pengunjung yang mengantre tiket siang itu ada yang membawa payung saking panasnya. Awalnya, aku tak mau jika harus mengantre tiket. Tapi, kan sudah sampai disini. Jadi, ya sudahlah, aku mengantre saja.

Namun, antrean bak ular yang meliuk-liuk itu hilang dalam waktu 15 menit. Pengunjung sudah mendapatkan tiketnya masing-masing. Nah, sekarang giliran aku yang mengantre. Untuk tiket anak-anak (3-12 thn), harganya Rp5.000. Untuk dewasa, Rp10.000. Setelah dapat tiketnya, kami mencari penyewaan guide (pemandu). Kami dapat satu guide, namanya Pak Ateng.Sambil berkeliling, Pak Ateng menjelaskan ruangan dan lainnya. Di Lawang Sewu, ada gedung; A, B, C, D, dan E. Aku akan jelaskan gedung-gedung di Lawang Sewu ini.

Gedung A dibangun tahun 1904-1907. Dibangun oleh Profesor Jacob F. Klinkhamer dan asistennya. Stasiun pertama kali di Semarang adalah Samarang yang dibangun pada tahun 1867. Stasiun Samarang ini berada di Desa Kemijen. Namun sayangnya, Stasiun Samarang sudah tenggelam dimakan air rob.

Gedung B dibangun tahun 1916-1918. Gedung C dibangunnya sama seperti Gedung A, tahun 1904-1907. Di dalam gedung C, ada pembuat tiket zaman dahulu. Mesinnya dibuat tahun 1840. Mesin tiket ini dipakai sampai akhir tahun 2009.

Oh iya, khusus Gedung A dan Gedung B, ada lorong bawah tanahnya. Namun sayangnya, lorong bawah tanah tidak bisa dikunjungi karena dalam proses perbaikan.

Fungsi lorong gedung A: sebagai resapan air. terdiri atas amparan tanah dan pasir.

Di Gedung A, terdapat 2 menara kembar. Isinya masing-masing menara 1 tabng air. Tingginya kurang lebih 7 meter. Fungsi tabung air itu untuk mencukupi kebutuhan air pada zaman dahulu. Oh iya, di gedung A ada lantai 2 dan 3. Aduh, namun sayang sekali, lantai 2 dan 3 masih dalam renovasi.

Sebelum masuk ke gedung B, Pak Ateng bertanya padaku. "Mbak Kecil, kamu mau tahu, lorong bawah tanah seperti apa?" tanya Pak Ateng. Aku menjawab, "Iya, Pak." Lalu, Pak Ateng berkata, "Coba lihat dari lubang di sana!" Pak Ateng menunjuk sebuah lubang yang tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Jadi, pas. Aku melongokkan wajahku ke lubang itu. Gelap. Anginnya dari dalam berhembus perlahan. Dinginnya. Setelah mengintip lorong bawah tanah, kami pun mulai mengelilingi gedung B.

Di gedung B, terdapat dua pintu untuk menuju lorong bawah tanah. Sebenarnya, aku sangat penasaran lho, dengan lorong bawah tanahnya. Sayang ya, masih dalam perbaikan. Oh ya, tinggi lorong bawah tanah gedung B ini kurang lebih 2 meter. Fungsinya sebagai resapan air dan pendingin ruangan. Oh ya, kata Pak Ateng juga, jika kita berdiri di lorong bawah tanah gedung A, kita tidak bisa berdiri tegap. Agak membungkuk. Soalnya, lorongnya pendek. 

Kami juga sempat diarahkan untuk berfoto oleh Pak Ateng. Kami beberapa kali difoto-foto oleh Pak Ateng. Background di Lawang Sewu ini banyak yang bagus dan menarik.Oh ya, aku juga masih mempunyai cerita tentang sejarah Lawang Sewu loh. Ayo kita baca ke bawah!

Gedung D dulu dipakai sebagai pendopo, tempat santai dan minum-minum orang Belanda pada zaman dahulu. Gedung E dulu dipakai sebagai tempat para penjaga pada zaman dahulu. Oh iya, di balik gedung B, mengalir sungai yang bernama "Kali Tumpeng".

Belanda meninggalkan Lawang Sewu ketika Jepang menguasai Lawang Sewu. Saat itu, tahun 1942-1943. Jepang dulu juga ingin meracuni sumber air bersih agar dapat menguasai Semarang dengan total. DAM yang ingin diracuni Jepang dulu di daerah Candi.

Pada tahun 1951, Tugu Muda dibangun sebagai lambang kemenangan pada Pertempuran Lima Hari di Semarang. Tugu Muda diresmikan oleh Bapak Soekarno sebagai presiden Indonesia yang pertama, bersama wakilnya Bapak Moh.Hatta. Dulunya, Tugu Muda ini bernama Tugu Merdeka. Dulu, Lawang Sewu dipakai sebagai kantor NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) atau Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). 

Tahu tidak? Telepon kayu mulai digunakan pada tanggal 26 November 1901 lho. Belanda juga membangun jalur kereta api di Sumatra Barat yang panjang relnya 101 meter.

Kalian ingin tahu, selengkapnya tentang Lawang Sewu? Jika sedang berlibur ke Semarang, berkunjunglah ke Lawang Sewu yang terletak di Jalan Pemuda. Ke Lawang Sewu, yuk!

Penulis: Savitri Nurudzaati A