Gambar kerja desain replika mobil polisi Jakarta yang akan diproduksi di Malaysia

Kemunculan Joey Alexander di acara Grammy Award 2016 seolah membuka mata banyak orang Indonesia tentang kekuatan sebuah kreativitas anak Indonesia.

Percaya atau tidak, cerita tentang Joey ini adalah salah satu dari sekian banyak anak-anak Indonesia yang berprestasi di kancah industri kreatif dunia. Yang musti diingat, di masa sekarang kreativitas tidak lagi ekslusif dimiliki atau hanya didominasi oleh bidang seni saja, tapi juga bidang lainnya.

Ekonomi kreatif mulai melejit dan menjadi salah satu gagasan baru dari pendapatan ekonomi sebuah negara, termasuk Indonesia. Selain ada Badan Ekonomi Kreatif, kini banyak bermunculan studi dan diskusi tentang ekonomi kreatif.

Ini menarik karena selain menunjukkan antusias masyarakat kreatif di Indonesia, juga menunjukkan kepedulian mereka atas partisipasi pemerintah. Tapi ada hal penting dalam ekonomi kreatif yang tidak boleh diabaikan, apakah itu? Kolaborasi!Suatu saat, saya pernah mendapatkan tugas dari salah satu kantor saya di New York, AS terkait program TV anak-anak. Tugasnya adalah membuat satu segmen film animasi pendek. Yang mengerjakan adalah sebuah studio animasi kecil di Bandung dan Jogja.

Dalam prosesnya, banyak konsep yang diajukan teman-teman studio ini belum dianggap maksimal oleh kantor saya. Ujung-ujungnya, perusahaan saya tanya: apakah di Indonesia ada character designer, creative director animasi, atau music director?

Saya jawab ada lah!

Terus mereka tanya, tapi kenapa konsep yang masuk ke kita seperti tidak ada sentuhan dari orang-orang tadi ya?

Akhirnya saya paham maksud bos saya di NY sana. Di pikiran mereka, yang namanya kerja animasi ini sudah pasti adalah sebuah kerja rembukan dari berbagai profesi kreatif.

Sementara yang saya tahu dari studio animasi di Bandung dan Jogja tadi itu adalah studio animasi kecil yang semua pekerjaan karakter, creative directing, bahkan sampai musik, dikerjakan sendiri hanya oleh satu atau dua orang saja. Dengan kata lain, untuk pekerjaan animasi dikerjakan cukup oleh satu orang saja.

Kolaborasi, atau kerja bersama mungkin bukan istilah baru bahkan belakangan sering sekali digaung-gaungkan sebagai salah satu bentuk kerja berjejaring di era social network sekarang ini. Akan tetapi untuk bidang kerja kreatif, ternyata masih banyak sekali para pelaku kreatif enggan melakukan kolaborasi ini, entah karena apa.

Beberapa orang mengatakan lebih nyaman kerja sendiri. Lebih suka kerja dengan orang yang mereka rasa klop, atau bahkan lebih memilih kerja dengan rekan satu sekolah atau almamater saja.

Dalam ekonomi kreatif, kolaborasi mau tidak mau adalah sebuah keharusan. Contoh gampang, ekonomi kreatif adalah sebuah perwujudan kolaborasi antara orang kreatif dengan orang bisnis.

Orang bisnis paham betul bagaimana menjual sebuah gagasan atau produk kreatif karya rekannya ini. Sementara si orang kreatif pun paham betul bagaimana si orang bisnis ini memahami konsep dan nilai jual karyanya. Satu dengan yang lainnya sudah terjalin kepercayaan dan toleransi.

Toleransi! Ini kata kuncinya.

Jebakan ego

Seringkali, kita yang bekerja di dunia kreatif terjebak dengan yang namanya ego. Ego ini berkembang hingga bidang yang berada di luar kemampuan kita sekalipun, misalnya bidang bisnis tadi.

Padahal, kunci utama dari ekonomi kreatif ini adalah kemampuan melakukan kolaborasi antar disiplin ilmu dan keahlian. Dengan kolaborasi ini, akan lahir sebuah karya atau produk kreatif yang sangat powerful dan bernilai tinggi.

Mungkin banyak yang lupa bagaimana sebuah perusahaan animasi terbesar di Amerika yaitu Pixar, berhasil tumbuh dan berkembang akibat dari hasil kolaborasi beberapa orang yang berbeda latar belakang disiplin dan keahlian. Bukan cuma orang kreatif!

Jangan juga lupa bagaimana sebuah perusahaan sebesar Lucas Film, Industrial Light and Magic, dan seterusnya, adalah sebuah perusahaan yang bekerja dari kumpulan orang-orang berbagai macam latar belakang ilmu dan keahlian yang berkolaborasi. Sementara di Indonesia?

Saya masih sering menjumpai seorang animator yang untuk membuat karakter tokoh, konsep visual, art directing, bahkan sampai penulisan cerita pun harus dia yang mengerjakan. Alasannya? Karena dia yang merasa paling paham konsep dibalik animasi yang akan dibuatnya.

Salahkah? Saya pikir tidak jika proyek itu dikerjakan hanya untuk skala kecil atau eksperiman saja. Akan tetapi jika harus sampai membuat proyek animasi skala besar, berorientasi bisnis, ekonomi kreatif, apalagi industri kreatif? Saya pikir cara tadi adalah awal dari masalah besar. 

Waktu sutradara Michael Mann shooting bareng Chris Hemsworth di Jakarta beberapa waktu lalu, saya ikut di dalam tim artistiknya sebagai desainer. Di sana saya belajar banyak tentang kolaborasi dalam sebuah kerja industri kreatif.

Walaupun filmnya flop di pasaran namun saya tidak pernah terbayang betapa proses sebuah proyek kreatif bisa sedemikian besar dikerjakan secara kolaborasi yang komprehensif. Tim artisitiknya sendiri terdiri dari beberapa tim beda negara, semua harus bisa berkolaborasi dan bekerja lewat online.

Di situ kita semua dituntut mampu bekerjasama dengan pekerja kreatif lain, mulai dari beda divisi, beda negara, beda lokasi, juga beda bahasa.

Kerja kreatif memang sebuah pekerjaan santai. Namun kerja untuk ekonomi kreatif itu beda. Butuh komitmen, kolaborasi, dan toleransi. Sementara industri kreatif, menuntut lebih ketat lagi. Di sana ada budgeting,scheduling, work-flow, working ethos, hinggamarket strategy. Persis seperti kaidah-kaidah industri lainnya.

Nah.. bagaimana? Siap berkolaborasi?


Rahasia Ekonomi Kreatif

Gambar kerja desain replika mobil polisi Jakarta yang akan diproduksi di Malaysia

Kemunculan Joey Alexander di acara Grammy Award 2016 seolah membuka mata banyak orang Indonesia tentang kekuatan sebuah kreativitas anak Indonesia.

Percaya atau tidak, cerita tentang Joey ini adalah salah satu dari sekian banyak anak-anak Indonesia yang berprestasi di kancah industri kreatif dunia. Yang musti diingat, di masa sekarang kreativitas tidak lagi ekslusif dimiliki atau hanya didominasi oleh bidang seni saja, tapi juga bidang lainnya.

Ekonomi kreatif mulai melejit dan menjadi salah satu gagasan baru dari pendapatan ekonomi sebuah negara, termasuk Indonesia. Selain ada Badan Ekonomi Kreatif, kini banyak bermunculan studi dan diskusi tentang ekonomi kreatif.

Ini menarik karena selain menunjukkan antusias masyarakat kreatif di Indonesia, juga menunjukkan kepedulian mereka atas partisipasi pemerintah. Tapi ada hal penting dalam ekonomi kreatif yang tidak boleh diabaikan, apakah itu? Kolaborasi!Suatu saat, saya pernah mendapatkan tugas dari salah satu kantor saya di New York, AS terkait program TV anak-anak. Tugasnya adalah membuat satu segmen film animasi pendek. Yang mengerjakan adalah sebuah studio animasi kecil di Bandung dan Jogja.

Dalam prosesnya, banyak konsep yang diajukan teman-teman studio ini belum dianggap maksimal oleh kantor saya. Ujung-ujungnya, perusahaan saya tanya: apakah di Indonesia ada character designer, creative director animasi, atau music director?

Saya jawab ada lah!

Terus mereka tanya, tapi kenapa konsep yang masuk ke kita seperti tidak ada sentuhan dari orang-orang tadi ya?

Akhirnya saya paham maksud bos saya di NY sana. Di pikiran mereka, yang namanya kerja animasi ini sudah pasti adalah sebuah kerja rembukan dari berbagai profesi kreatif.

Sementara yang saya tahu dari studio animasi di Bandung dan Jogja tadi itu adalah studio animasi kecil yang semua pekerjaan karakter, creative directing, bahkan sampai musik, dikerjakan sendiri hanya oleh satu atau dua orang saja. Dengan kata lain, untuk pekerjaan animasi dikerjakan cukup oleh satu orang saja.

Kolaborasi, atau kerja bersama mungkin bukan istilah baru bahkan belakangan sering sekali digaung-gaungkan sebagai salah satu bentuk kerja berjejaring di era social network sekarang ini. Akan tetapi untuk bidang kerja kreatif, ternyata masih banyak sekali para pelaku kreatif enggan melakukan kolaborasi ini, entah karena apa.

Beberapa orang mengatakan lebih nyaman kerja sendiri. Lebih suka kerja dengan orang yang mereka rasa klop, atau bahkan lebih memilih kerja dengan rekan satu sekolah atau almamater saja.

Dalam ekonomi kreatif, kolaborasi mau tidak mau adalah sebuah keharusan. Contoh gampang, ekonomi kreatif adalah sebuah perwujudan kolaborasi antara orang kreatif dengan orang bisnis.

Orang bisnis paham betul bagaimana menjual sebuah gagasan atau produk kreatif karya rekannya ini. Sementara si orang kreatif pun paham betul bagaimana si orang bisnis ini memahami konsep dan nilai jual karyanya. Satu dengan yang lainnya sudah terjalin kepercayaan dan toleransi.

Toleransi! Ini kata kuncinya.

Jebakan ego

Seringkali, kita yang bekerja di dunia kreatif terjebak dengan yang namanya ego. Ego ini berkembang hingga bidang yang berada di luar kemampuan kita sekalipun, misalnya bidang bisnis tadi.

Padahal, kunci utama dari ekonomi kreatif ini adalah kemampuan melakukan kolaborasi antar disiplin ilmu dan keahlian. Dengan kolaborasi ini, akan lahir sebuah karya atau produk kreatif yang sangat powerful dan bernilai tinggi.

Mungkin banyak yang lupa bagaimana sebuah perusahaan animasi terbesar di Amerika yaitu Pixar, berhasil tumbuh dan berkembang akibat dari hasil kolaborasi beberapa orang yang berbeda latar belakang disiplin dan keahlian. Bukan cuma orang kreatif!

Jangan juga lupa bagaimana sebuah perusahaan sebesar Lucas Film, Industrial Light and Magic, dan seterusnya, adalah sebuah perusahaan yang bekerja dari kumpulan orang-orang berbagai macam latar belakang ilmu dan keahlian yang berkolaborasi. Sementara di Indonesia?

Saya masih sering menjumpai seorang animator yang untuk membuat karakter tokoh, konsep visual, art directing, bahkan sampai penulisan cerita pun harus dia yang mengerjakan. Alasannya? Karena dia yang merasa paling paham konsep dibalik animasi yang akan dibuatnya.

Salahkah? Saya pikir tidak jika proyek itu dikerjakan hanya untuk skala kecil atau eksperiman saja. Akan tetapi jika harus sampai membuat proyek animasi skala besar, berorientasi bisnis, ekonomi kreatif, apalagi industri kreatif? Saya pikir cara tadi adalah awal dari masalah besar. 

Waktu sutradara Michael Mann shooting bareng Chris Hemsworth di Jakarta beberapa waktu lalu, saya ikut di dalam tim artistiknya sebagai desainer. Di sana saya belajar banyak tentang kolaborasi dalam sebuah kerja industri kreatif.

Walaupun filmnya flop di pasaran namun saya tidak pernah terbayang betapa proses sebuah proyek kreatif bisa sedemikian besar dikerjakan secara kolaborasi yang komprehensif. Tim artisitiknya sendiri terdiri dari beberapa tim beda negara, semua harus bisa berkolaborasi dan bekerja lewat online.

Di situ kita semua dituntut mampu bekerjasama dengan pekerja kreatif lain, mulai dari beda divisi, beda negara, beda lokasi, juga beda bahasa.

Kerja kreatif memang sebuah pekerjaan santai. Namun kerja untuk ekonomi kreatif itu beda. Butuh komitmen, kolaborasi, dan toleransi. Sementara industri kreatif, menuntut lebih ketat lagi. Di sana ada budgeting,scheduling, work-flow, working ethos, hinggamarket strategy. Persis seperti kaidah-kaidah industri lainnya.

Nah.. bagaimana? Siap berkolaborasi?