Karya tukang bikin spanduk di Korea, dijepret melalui screenshot dilaptop, Selasa, 13 Oktober 2015.
Bisnis spanduk memang menjanjikan, apalagi kita sekarang ada di zaman dimana banyak pemimpin kelas spanduk yang menghebohkan dunia perbisnisan spanduk berbahan MMT yang dikenal murah, efisien dan bikin kotor pemandangan kota maupun desa-desa dikala musim pemilihan kepala daerah, dan tentunya bukan saja di Korea tapi juga di Indonesia.

Media kurang cerdas suka sekali memberitakan dan membesar-besarkan hal yang beginian, maksudnya, hanya karena ada tulisan "Megawati Presiden Indonesia" lalu dibumbui dengan macam-macam prasangka. Apakah dengan cara ini media bisa bertumbuh menjadi media pembahagia umat manusia sekelas RiauJOS!*? tentu tidak akan bisa, betulkan para Josser mania?.

Menyoroti bisnis spanduk di era generasi Z, disaat anak-anak muda sekarang lebih suka dengan produk digital, spanduk berbahan MMT memang menjadi pilihan murah, bagi yang menjiwai semangat kekurangan dana untuk membuat pencitraan ataupun ucapan selamat datang seperti kebiasan para pejabat yang suka sekali di beri ucapan-ucapan. Semua peringatan hari, dibuatkan ucapan dengan spanduk berbahan MMT besar-besar, mereka pikir masyarakat butuh ucpan-ucapan yang dipasang besar-besar dipingir jalan?

Dan yang dijiwai pemimpin kelas spanduk MMT inilah yang menjadi sasaran empuk pebisnis spanduk. Mungkin tukang bikin spanduk di korea haus juga dengan jiwa-jiwa pemimpin kelas spanduk ini, perlu diklarifikasi kelak ketika ada kontributor RiauJOS!* asal korea yang mau memperhatikan bisnis spanduk di korea sana.

Kalau di Indonesia sendiri, sudah mulai ada perbaikan sedikit untuk mencegah jiwa-jiwa calon pemimpin kepala daerah kelas spanduk mmt ini. Dilakukan dengan cara membuat aturan yang mengatur spanduk pada kampanye Pilkada Serentak 2015.

Semoga saja dengan aturan baru ini, dapat menghindarkan para pemilih untuk memilih pemimpin kelas spanduk, yang hobi sekali bikin spanduk, padahal aturanya dibelikan oleh KPU dengan uang rakyat, masih saja ada yang bikin ulah bikin spanduk karena cintanya akan pencitraan yang sudah menggila.


Tukang Bikin Spanduk di Korea Tuliskan Megawati Presiden Indonesia

Karya tukang bikin spanduk di Korea, dijepret melalui screenshot dilaptop, Selasa, 13 Oktober 2015.
Bisnis spanduk memang menjanjikan, apalagi kita sekarang ada di zaman dimana banyak pemimpin kelas spanduk yang menghebohkan dunia perbisnisan spanduk berbahan MMT yang dikenal murah, efisien dan bikin kotor pemandangan kota maupun desa-desa dikala musim pemilihan kepala daerah, dan tentunya bukan saja di Korea tapi juga di Indonesia.

Media kurang cerdas suka sekali memberitakan dan membesar-besarkan hal yang beginian, maksudnya, hanya karena ada tulisan "Megawati Presiden Indonesia" lalu dibumbui dengan macam-macam prasangka. Apakah dengan cara ini media bisa bertumbuh menjadi media pembahagia umat manusia sekelas RiauJOS!*? tentu tidak akan bisa, betulkan para Josser mania?.

Menyoroti bisnis spanduk di era generasi Z, disaat anak-anak muda sekarang lebih suka dengan produk digital, spanduk berbahan MMT memang menjadi pilihan murah, bagi yang menjiwai semangat kekurangan dana untuk membuat pencitraan ataupun ucapan selamat datang seperti kebiasan para pejabat yang suka sekali di beri ucapan-ucapan. Semua peringatan hari, dibuatkan ucapan dengan spanduk berbahan MMT besar-besar, mereka pikir masyarakat butuh ucpan-ucapan yang dipasang besar-besar dipingir jalan?

Dan yang dijiwai pemimpin kelas spanduk MMT inilah yang menjadi sasaran empuk pebisnis spanduk. Mungkin tukang bikin spanduk di korea haus juga dengan jiwa-jiwa pemimpin kelas spanduk ini, perlu diklarifikasi kelak ketika ada kontributor RiauJOS!* asal korea yang mau memperhatikan bisnis spanduk di korea sana.

Kalau di Indonesia sendiri, sudah mulai ada perbaikan sedikit untuk mencegah jiwa-jiwa calon pemimpin kepala daerah kelas spanduk mmt ini. Dilakukan dengan cara membuat aturan yang mengatur spanduk pada kampanye Pilkada Serentak 2015.

Semoga saja dengan aturan baru ini, dapat menghindarkan para pemilih untuk memilih pemimpin kelas spanduk, yang hobi sekali bikin spanduk, padahal aturanya dibelikan oleh KPU dengan uang rakyat, masih saja ada yang bikin ulah bikin spanduk karena cintanya akan pencitraan yang sudah menggila.