Presiden Joko Widodo saat turun ke lokasi kebakaran hutan dan lahan
Presiden Joko Widodo saat turun ke lokasi kebakaran hutan dan lahan [merdeka.com]

RiauJOS.com, Editorial - Minggu, 25 Oktober 2015 Lingkaran kabut-asap-membuat-kalang-kabut-asap, adalah suatu metoda pemecahan masalah menggunakan pemetaan pemikiran ala taman kanak-kanak. Hampir selama tiga bulan, pemecahan masalah kabut asap hanya diatasi dengan cara-cara orang dewasa yang kekanak-kanakkan. Buktinya, sampai dengan hari ini, Minggu, 25 Oktober 2015, kabut asap tetap menyelimuti beberapa pulau di Indonesia, dan negara lain terkena juga kiriman gratis kabut asap.

Lingkaran Kalang-Kabut
Lingkaran Kalang-Kabut

Memperhatikan perputaran lingkaran kalang-kabut seperti yang tertera pada gambar mindmap diatas, seolah tidak akan pernah berhenti bencana kabut asap, karena kejadian terus berputar seputar kalang-kabut.

Kalang kabut, dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai peristiwa bingung tidak karuan. Untuk mengatasi bingung tidak karuan, Riau JOS berpendapat, lingkaran kalang harus segera dihentikan.

Kalang dalam KBBI, diartikan sebagai penyangga. Selama ini seluruh elemen bangsa merasa binggung, dan mencari penyangga untuk mengatasi persoalan kabut asap, dengan cara-cara yang kurang berkeimanan. Maksudnya, menyerahkan seluruh bencana kabut asap ini hanya kepada pemerintah beserta aparatnya.

Sebagaian besar masyarakat berpengharap pada pemerintahan Presiden Joko Widodo, seolah dialah kalang paling bisa diandalkan, nyatanya sampai dengan hari ini, bencana kabut asap tetap berlanjut. Inilah hal krusial yang perlu segera diatasi.

Solusinya, kalang harus dikembalikan kepada sang pencipta alam semesta, Allah SWT, semua kita harus menyandarkan diri kepada NYA, bukan lagi kepada Presiden Joko Widodo bersama jajaran aparat pemerintahan, namun berserah diri kepada Allah SWT, dan terus berikhtiar sesuai potensi masing-masing untuk mengembalikan keharmonisan lingkungan.

Tak perlu lagi berkalang kepada kabut, ini yang membuat lingkaran kalang-kabut terus berputar. Hentikanlah kalang dengan cara-cara penuh kecintaan kepada seluruh makhluk beserta isinya. Fokuskan pada Hujan Turun Tepat Pada Waktunya. Dan hanya berpengharap kepada Allah SWT. Lupakan alat-alat berat pemadam kebarakan yang mahal biaya, alat tak akan mampu menyiram kebakaran lahan dan hutan yang areanya luas luar biasa. Hanya berharap kepada Allah SWT agar kiranya menurunkan Hujan Tepat Pada Waktunya.

Terjebak Lingkaran Kabut Asap, Membuat Kalang Kabut

Presiden Joko Widodo saat turun ke lokasi kebakaran hutan dan lahan
Presiden Joko Widodo saat turun ke lokasi kebakaran hutan dan lahan [merdeka.com]

RiauJOS.com, Editorial - Minggu, 25 Oktober 2015 Lingkaran kabut-asap-membuat-kalang-kabut-asap, adalah suatu metoda pemecahan masalah menggunakan pemetaan pemikiran ala taman kanak-kanak. Hampir selama tiga bulan, pemecahan masalah kabut asap hanya diatasi dengan cara-cara orang dewasa yang kekanak-kanakkan. Buktinya, sampai dengan hari ini, Minggu, 25 Oktober 2015, kabut asap tetap menyelimuti beberapa pulau di Indonesia, dan negara lain terkena juga kiriman gratis kabut asap.

Lingkaran Kalang-Kabut
Lingkaran Kalang-Kabut

Memperhatikan perputaran lingkaran kalang-kabut seperti yang tertera pada gambar mindmap diatas, seolah tidak akan pernah berhenti bencana kabut asap, karena kejadian terus berputar seputar kalang-kabut.

Kalang kabut, dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai peristiwa bingung tidak karuan. Untuk mengatasi bingung tidak karuan, Riau JOS berpendapat, lingkaran kalang harus segera dihentikan.

Kalang dalam KBBI, diartikan sebagai penyangga. Selama ini seluruh elemen bangsa merasa binggung, dan mencari penyangga untuk mengatasi persoalan kabut asap, dengan cara-cara yang kurang berkeimanan. Maksudnya, menyerahkan seluruh bencana kabut asap ini hanya kepada pemerintah beserta aparatnya.

Sebagaian besar masyarakat berpengharap pada pemerintahan Presiden Joko Widodo, seolah dialah kalang paling bisa diandalkan, nyatanya sampai dengan hari ini, bencana kabut asap tetap berlanjut. Inilah hal krusial yang perlu segera diatasi.

Solusinya, kalang harus dikembalikan kepada sang pencipta alam semesta, Allah SWT, semua kita harus menyandarkan diri kepada NYA, bukan lagi kepada Presiden Joko Widodo bersama jajaran aparat pemerintahan, namun berserah diri kepada Allah SWT, dan terus berikhtiar sesuai potensi masing-masing untuk mengembalikan keharmonisan lingkungan.

Tak perlu lagi berkalang kepada kabut, ini yang membuat lingkaran kalang-kabut terus berputar. Hentikanlah kalang dengan cara-cara penuh kecintaan kepada seluruh makhluk beserta isinya. Fokuskan pada Hujan Turun Tepat Pada Waktunya. Dan hanya berpengharap kepada Allah SWT. Lupakan alat-alat berat pemadam kebarakan yang mahal biaya, alat tak akan mampu menyiram kebakaran lahan dan hutan yang areanya luas luar biasa. Hanya berharap kepada Allah SWT agar kiranya menurunkan Hujan Tepat Pada Waktunya.