Iqbal Aji Daryono bersama para pendakwah
Iqbal Aji Daryono dan Teman Pendakwa

Ketika ketemu siapapun orang yang bermaksud berdakwah, belajarlah dari Iqbal Aji Daryono, berikut ini contoh perbuatan yang baik, simak cerita dia ya?




PARA PENYERU


Banyak orang merasa terganggu dengan para pendakwah semacam ini. Sampai-sampai, tak sedikit rumah customer delivery yang saya datangi memajang tulisan besar-besar di pintu mereka: "No Hawker and Religion Promotion".

Tapi kalau saya sendiri kok enggak segitunya ya. Saya selalu menikmati ngobrol dengan orang-orang seperti ini. Bahkan kerapkali malah saya yang banyak ngomong dan bertanya, ketimbang mereka sendiri yang semestinya lebih agresif.

Sama seperti barusan. Waktu saya sedang memarkir van di halaman depan, dua mbak ini nyegat saya. Basa-basi ini-itu, lantas mereka membuka obrolan tentang Tuhan dan amal kebajikan. Barang tentu, bukan hal sulit buat saya untuk nge-gong-i presentasi mereka.

Keduanya dari LDS alias Gereja Mormon, salah satu cabang Kristen yang banyak dituding ini-itu. Saya sendiri nggak yakin karena saya bukan Kristen, tapi dengar-dengar ada sebagian umat Kristen yang menganggap Mormon sesat. Entahlah.

Apa pun itu, saya selalu ingin mengapresiasi orang-orang seperti Mbak Parks dan Mbak Nansen ini. Jauh-jauh dari Amerika dan Samoa, keduanya mengabdikan waktu mereka untuk mengajak sebanyak mungkin manusia, agar datang kepada apa yang mereka yakini.

Beberapa hari yang lalu saya juga dibuat terpukau melihat dua lelaki yang beriringan mesra sekali. Yang pertama berumur sekitar 50, yang kedua masih 12-an tahun. Bapak dan anak, atau kakek dan cucu, mungkin. Mereka sedang tingak-tinguk di depan kompleks rumah di daerah Woodland, rumah yang sama dengan alamat kirim parsel di tangan saya.

Sayang, kompleks itu suwung. Jadilah saya yang berbincang dengan keduanya.

Mereka dari Gereja Saksi Jehovah. Untung, obrolan dengan mereka pun bukan hal baru buat saya. Di rumah kami di Bantul, saya pernah mempersilakan masuk dan berbincang panjang dengan sepasang pendakwah Saksi Jehovah, yang gerejanya ada di dekat IKIP PGRI Sonosewu itu.

Nggak cuma dari Kristen, tentu saja. Dari kalangan muslim juga ada teman-teman Jamaah Tabligh, yang gigih berdakwah dari pintu ke pintu.

Di kampung-kampung yang jauh dari pergaulan urban, acapkali terjadi kesalahpahaman dengan mas-mas JT ini. Bahkan di kampung orangtua saya yang Muhammadiyah itu, dulu kala ada serombongan pendakwah dari JT yang sampai-sampai diusir secara halus. "Masyarakat sini belum siap dengan yang berbeda, Mas...," begitu alasan para pemuka kampung.

Syukurlah peristiwa itu terjadi waktu saya masih ingusan, sehingga saya nggak kecipratan dosa pengusiran itu. Sampai kemudian di waktu kuliah saya bersahabat dengan Ahmad, anak JT yang rumahnya bersebelahan dengan Masjid Al-Ittihad Jalan Kaliurang, salah satu pusat aktivitas JT di Jogja.

Maka, saya pun susah payah menjelaskan di rapat RT, "Mereka itu nggak apa-apa Bapak-bapak, bukan aliran aneh-aneh...," ketika sekitar 2,5 tahun yang lalu warga di kampung tempat kami tinggal berniat mengusir pula serombongan Jamaah Tabligh yang menginap di masjid. Lha wong yang kampung Muhammadiyah aja parno, apalagi kampung abang-ijo seperti kampung kami itu.

Alhamdulillah, tanpa harus mengutip pendapat Sidney Jones yang menggolongkan Jamaah Tabligh sebagai kelompok cinta damai, bapak-bapak di kampung saya nurut sama cerita saya.

Sudah, sudah. Tadi tuh niatnya cuma mau ngasih cerita buat foto ini, eh jadinya malah ndlewer-ndlewer ngelantur ke mana-mana. Sori ye Om.

Intinya begini. Ada terlalu banyak parno di kepala kita yang tumbuh subur hanya karena kita apriori, antipati, malas berbincang dan enggan bertegur sapa. Dunia terasa sempit sekali, jadinya.

Terganggu Ketemu Pendakwah? Ikuti Saran Iqbal Aji Daryono

Iqbal Aji Daryono bersama para pendakwah
Iqbal Aji Daryono dan Teman Pendakwa

Ketika ketemu siapapun orang yang bermaksud berdakwah, belajarlah dari Iqbal Aji Daryono, berikut ini contoh perbuatan yang baik, simak cerita dia ya?




PARA PENYERU


Banyak orang merasa terganggu dengan para pendakwah semacam ini. Sampai-sampai, tak sedikit rumah customer delivery yang saya datangi memajang tulisan besar-besar di pintu mereka: "No Hawker and Religion Promotion".

Tapi kalau saya sendiri kok enggak segitunya ya. Saya selalu menikmati ngobrol dengan orang-orang seperti ini. Bahkan kerapkali malah saya yang banyak ngomong dan bertanya, ketimbang mereka sendiri yang semestinya lebih agresif.

Sama seperti barusan. Waktu saya sedang memarkir van di halaman depan, dua mbak ini nyegat saya. Basa-basi ini-itu, lantas mereka membuka obrolan tentang Tuhan dan amal kebajikan. Barang tentu, bukan hal sulit buat saya untuk nge-gong-i presentasi mereka.

Keduanya dari LDS alias Gereja Mormon, salah satu cabang Kristen yang banyak dituding ini-itu. Saya sendiri nggak yakin karena saya bukan Kristen, tapi dengar-dengar ada sebagian umat Kristen yang menganggap Mormon sesat. Entahlah.

Apa pun itu, saya selalu ingin mengapresiasi orang-orang seperti Mbak Parks dan Mbak Nansen ini. Jauh-jauh dari Amerika dan Samoa, keduanya mengabdikan waktu mereka untuk mengajak sebanyak mungkin manusia, agar datang kepada apa yang mereka yakini.

Beberapa hari yang lalu saya juga dibuat terpukau melihat dua lelaki yang beriringan mesra sekali. Yang pertama berumur sekitar 50, yang kedua masih 12-an tahun. Bapak dan anak, atau kakek dan cucu, mungkin. Mereka sedang tingak-tinguk di depan kompleks rumah di daerah Woodland, rumah yang sama dengan alamat kirim parsel di tangan saya.

Sayang, kompleks itu suwung. Jadilah saya yang berbincang dengan keduanya.

Mereka dari Gereja Saksi Jehovah. Untung, obrolan dengan mereka pun bukan hal baru buat saya. Di rumah kami di Bantul, saya pernah mempersilakan masuk dan berbincang panjang dengan sepasang pendakwah Saksi Jehovah, yang gerejanya ada di dekat IKIP PGRI Sonosewu itu.

Nggak cuma dari Kristen, tentu saja. Dari kalangan muslim juga ada teman-teman Jamaah Tabligh, yang gigih berdakwah dari pintu ke pintu.

Di kampung-kampung yang jauh dari pergaulan urban, acapkali terjadi kesalahpahaman dengan mas-mas JT ini. Bahkan di kampung orangtua saya yang Muhammadiyah itu, dulu kala ada serombongan pendakwah dari JT yang sampai-sampai diusir secara halus. "Masyarakat sini belum siap dengan yang berbeda, Mas...," begitu alasan para pemuka kampung.

Syukurlah peristiwa itu terjadi waktu saya masih ingusan, sehingga saya nggak kecipratan dosa pengusiran itu. Sampai kemudian di waktu kuliah saya bersahabat dengan Ahmad, anak JT yang rumahnya bersebelahan dengan Masjid Al-Ittihad Jalan Kaliurang, salah satu pusat aktivitas JT di Jogja.

Maka, saya pun susah payah menjelaskan di rapat RT, "Mereka itu nggak apa-apa Bapak-bapak, bukan aliran aneh-aneh...," ketika sekitar 2,5 tahun yang lalu warga di kampung tempat kami tinggal berniat mengusir pula serombongan Jamaah Tabligh yang menginap di masjid. Lha wong yang kampung Muhammadiyah aja parno, apalagi kampung abang-ijo seperti kampung kami itu.

Alhamdulillah, tanpa harus mengutip pendapat Sidney Jones yang menggolongkan Jamaah Tabligh sebagai kelompok cinta damai, bapak-bapak di kampung saya nurut sama cerita saya.

Sudah, sudah. Tadi tuh niatnya cuma mau ngasih cerita buat foto ini, eh jadinya malah ndlewer-ndlewer ngelantur ke mana-mana. Sori ye Om.

Intinya begini. Ada terlalu banyak parno di kepala kita yang tumbuh subur hanya karena kita apriori, antipati, malas berbincang dan enggan bertegur sapa. Dunia terasa sempit sekali, jadinya.