Social Items

Suku Anak Dalam Terpaksa Ngungsi di Pelalawan

Goriau.com melansir berita dengan judul panjang, berjumlah empat belas kata, Senin, 19 Oktober 2015. Membaca berita ini, Riau JOS!* pastilah turut sedih. Dan selanjutnya, berita ini dapat menjadi perhatian bagi semua, agar lebih peduli lingkungan menyikapi maraknya kebakaran lahan dan hutan di Sumatera dan Kalimantan, serta baru ini-ini kabarnya kebakaran hutan telah terjadi juga di Papua.

Berikut kutipan berita dari goriau.com, selamat membaca, dan lakukan apapun yang bisa dilakukan, minimal dengan doa, dan bagi yang ada di Kabupaten Pelalawan, bergegaslah untuk segera menolong kondisi Suku Anak Dalam asal jambi tersebut.

Akibat Kabut Asap, Suku Anak Dalam (asal) Jambi Mengungsi ke Pelalawan, Ditemukan dengan Kondisi Memprihatinkan

Akibat Kabut Asap, Suku Anak Dalam Jambi Mengungsi ke Pelalawan, Ditemukan dengan Kondisi Memprihatinkan
Suku Anaka Dalam yang mengungsi ke Pelalawan, akibat kabut asap di daerah asalnya.
PANGKALANKERINCI, GORIAU.COM - Sebanyak 20 orang ditemukan berada di bangunan kosong bekas Kantor Brimob di Jalan Lintas Timur (Jalintim) KM 66 Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau, dengan kondisi sangat memprihatinkan. 
Menurut informasi dari Kepala Polsek Pangkalan Kerinci, Kompol Razif Ramli, awalnya pihaknya mendapat laporan dari warga, ada sekelompok orang yang tidak diketahui asalnya menempati bangunan kosong. 
"Kita cek ke lokasi, saat ditemukan mereka mendiami bangunan kosong bekas Kantor Brimob di 66 Pangkalan Kerinci," ungkap Kapolsek Razif, Senin (19/10/2015). 
Kemudian diketahui, terang Kapolsek Razif, ke 20 orang tersebut merupakan Suku Anak Dalam asal Provinsi Jambi yang mengungsi ke Pangkalan Kerinci, akibat kabut asap yang melanda di wilayah tempat tinggal asalnya. 
"Para pengungsi ini terdiri dari anak-anak, perempuan dan pria dewasa. Kondisinya sangat memeprihatinkan. Mereka terlihat lemas, capek, kehausan dan kelaparan," terangnya.
Lebih lanjut diterangkan Kapolsek Razif, mereka berasal dari Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi. 
"Mereka sampai di Pangkalan Kerinci pada Sabtu (17/10/2015) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Kondisi mereka sangat memprihatinkan saat ditemukan di gedung kosong itu," bebernya.
Melihat kondisi itu, kata Kapolres Razif, pihaknya langsung memberikan berbagai macam makanan dan minuman kepada 20 warga Suku Anak Dalam.

Ikuti perkembangan terkini kondisi Suku Anak Dalam yang jadi korban pengrusakan hutan dan lahan, hanya di Riau JOS!* sumber informasi paling penting bagi kebahagiaan semua kita.

Ada yang terlupa, yang belum tahu apa itu Suku Anak Dalam, berikut kutipan dari wikipedia.org.

Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang.
Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang m lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem matrilineal.
Secara garis besar di Jambi mereka hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30), Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra). Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya.
Kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan hilangnya sumber daya hutan yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan, dan proses-proses marginalisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (Orang Melayu) yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan.
Mayoritas suku kubu menganut kepercayaan animisme, tetapi ada juga beberapa puluh keluarga suku kubu yang pindah ke agama Islam untuk suku kubu yang tinggal menetap di daerah sumatera selatan terutama daerah rawas rupit dan musi lakitan ,disana banyak terdapat suku kubu yang menggantungkan hidup di persawitan ,bahkan ada di antara yang memanfaatkan lahan sawit perusahaan Lonsum untuk mereka curi dan mereka jual ke lapak lapak setempat ,mereka seperti itu karena telah memegang prinsif dasar apa yang tumbun di alam adalah milik mereka bersama ,namun banyak juga orang kubu di daerah musi dan rawas yang telah lebih moderen ,bahkan mereka telah mengenal kendaraan bermotor dan senjata api rakitan (kecepek) hanya pakaian dan fisik mereka yang agak sedikit kumal saja yang membuat orang-orang sekitar bisa membedakan suku kubu dan masyarakat sekitar