Riau JOS!* Jakarta - Wacana hari Santri sudah digaungkan sejak lama, ketika Presiden Jokowi belum jadi Presiden. Waktu itu pada masa kampanye, calon Presiden Joko Widodo dan calon wakil presiden Jusuf Kalla menjadikan urgensi penetapan hari santri sebagai salah satu cara untuk menggaet massa yang berlatar belakang santri dan umat muslim lainnya.

Dan ketika Tim Riau JOS!* membuka-buka website kompas cetak, Kamis siang, 22 Oktober 2015, ditemukanlah berita terkait ditetapkannya hari ini sebagai hari santri nasional. Berikut kliping beritanya.


Hari Santri Tingkatkan Toleransi

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah akhirnya menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri. Peringatan ini diharapkan menjadi pendorong bagi seluruh umat Islam di Indonesia untuk menanamkan komitmen bangsa di dalam dirinya. Penetapan Hari Santri pun direspons secara beragam. 
Ketua Komisi VIII DPR Saleh P Daulay menghargai dicetuskannya Hari Santri. Namun, menurut dia, istilah "santri" secara terminologis dikhawatirkan justru memunculkan permintaan penetapan dari golongan lain. "Mungkin nanti ada Hari Abangan, Hari Kiai, dan lain-lain," ucapnya, di Jakarta, Rabu (21/10).

Dia menyayangkan sikap pemerintah yang tidak membahas terlebih dahulu dengan pihak lain terkait pencetusan Hari Santri. Pembahasan dapat menghasilkan sejumlah masukan yang bisa menjadi bahan pertimbangan. 
Meski demikian, Saleh mengatakan, keberadaan Hari Santri tak akan menyulut masalah mengingat setiap ormas Islam memiliki santri masing-masing. 
Peran santri 
Sebelumnya, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Komaruddin Amin mengatakan, penetapan Hari Santri dilakukan tak lepas dari pentingnya peran santri sebagai bagian fundamental bangsa Indonesia. Perjuangan para mahasantri seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahlan, dan Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto menciptakan organisasi Islam sangat berperan penting dalam perjalanan bangsa. 
"Mereka merupakan tokoh yang memiliki komitmen Islam dan komitmen kebangsaan yang luar biasa. Hal inilah yang harus terus kita kenang," kata Komaruddin.

Salah satu momen penting yang melandasi pencanangan Hari Santri adalah saat Hasyim Asy'ari mendeklarasikan resolusi jihad yang mewajibkan seluruh umat Islam melawan penjajah. Ini menyulut semangat patriotisme rakyat Indonesia. Itulah sebabnya, keberadaan Hari Santri bukan merujuk pada kelompok atau pihak tertentu, melainkan pada seluruh umat Islam yang mengedepankan komitmen yang sama, yakni untuk menjaga keutuhan bangsa.

Oleh karena itu, lanjut Komaruddin, Hari Santri merupakan sebuah pemaknaan sejarah yang otentik, ketika perjuangan bangsa dibangun di atas keikhlasan dan ketulusan para santri yang berpaham merah putih. Santri dapat menjadi pemersatu umat, baik secara psikologis, ideologis, maupun politis. 
"Partai boleh berbeda, tetapi semangat kesantriannya tetap sama," katanya.

Menurut rencana, Presiden Joko Widodo akan hadir dalam deklarasi Hari Santri yang digelar pada 22 Oktober di Masjid Istiqlal, Jakarta. Acara tersebut juga akan dihadiri sejumlah ormas Islam. 

Pro-kontra hari santri pasti ada, yang lebih penting, bagaimana memaknai hari santri untuk keperluan bersuksesnya kita bersama. Dan nanti, kalau Presiden Joko Widodo jadi hadir, kira-kira pakai kostum apa ya? sepertinya akan sarungan juga. Kita ikuti saja beritanya, hanya di Riau JOS!* media paling berguna bagi kesuksesan semua makhluk di alam semesta.

Selamat Hari Santri Semoga Terjaga Keutuhan Bangsa

Riau JOS!* Jakarta - Wacana hari Santri sudah digaungkan sejak lama, ketika Presiden Jokowi belum jadi Presiden. Waktu itu pada masa kampanye, calon Presiden Joko Widodo dan calon wakil presiden Jusuf Kalla menjadikan urgensi penetapan hari santri sebagai salah satu cara untuk menggaet massa yang berlatar belakang santri dan umat muslim lainnya.

Dan ketika Tim Riau JOS!* membuka-buka website kompas cetak, Kamis siang, 22 Oktober 2015, ditemukanlah berita terkait ditetapkannya hari ini sebagai hari santri nasional. Berikut kliping beritanya.


Hari Santri Tingkatkan Toleransi

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah akhirnya menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri. Peringatan ini diharapkan menjadi pendorong bagi seluruh umat Islam di Indonesia untuk menanamkan komitmen bangsa di dalam dirinya. Penetapan Hari Santri pun direspons secara beragam. 
Ketua Komisi VIII DPR Saleh P Daulay menghargai dicetuskannya Hari Santri. Namun, menurut dia, istilah "santri" secara terminologis dikhawatirkan justru memunculkan permintaan penetapan dari golongan lain. "Mungkin nanti ada Hari Abangan, Hari Kiai, dan lain-lain," ucapnya, di Jakarta, Rabu (21/10).

Dia menyayangkan sikap pemerintah yang tidak membahas terlebih dahulu dengan pihak lain terkait pencetusan Hari Santri. Pembahasan dapat menghasilkan sejumlah masukan yang bisa menjadi bahan pertimbangan. 
Meski demikian, Saleh mengatakan, keberadaan Hari Santri tak akan menyulut masalah mengingat setiap ormas Islam memiliki santri masing-masing. 
Peran santri 
Sebelumnya, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Komaruddin Amin mengatakan, penetapan Hari Santri dilakukan tak lepas dari pentingnya peran santri sebagai bagian fundamental bangsa Indonesia. Perjuangan para mahasantri seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahlan, dan Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto menciptakan organisasi Islam sangat berperan penting dalam perjalanan bangsa. 
"Mereka merupakan tokoh yang memiliki komitmen Islam dan komitmen kebangsaan yang luar biasa. Hal inilah yang harus terus kita kenang," kata Komaruddin.

Salah satu momen penting yang melandasi pencanangan Hari Santri adalah saat Hasyim Asy'ari mendeklarasikan resolusi jihad yang mewajibkan seluruh umat Islam melawan penjajah. Ini menyulut semangat patriotisme rakyat Indonesia. Itulah sebabnya, keberadaan Hari Santri bukan merujuk pada kelompok atau pihak tertentu, melainkan pada seluruh umat Islam yang mengedepankan komitmen yang sama, yakni untuk menjaga keutuhan bangsa.

Oleh karena itu, lanjut Komaruddin, Hari Santri merupakan sebuah pemaknaan sejarah yang otentik, ketika perjuangan bangsa dibangun di atas keikhlasan dan ketulusan para santri yang berpaham merah putih. Santri dapat menjadi pemersatu umat, baik secara psikologis, ideologis, maupun politis. 
"Partai boleh berbeda, tetapi semangat kesantriannya tetap sama," katanya.

Menurut rencana, Presiden Joko Widodo akan hadir dalam deklarasi Hari Santri yang digelar pada 22 Oktober di Masjid Istiqlal, Jakarta. Acara tersebut juga akan dihadiri sejumlah ormas Islam. 

Pro-kontra hari santri pasti ada, yang lebih penting, bagaimana memaknai hari santri untuk keperluan bersuksesnya kita bersama. Dan nanti, kalau Presiden Joko Widodo jadi hadir, kira-kira pakai kostum apa ya? sepertinya akan sarungan juga. Kita ikuti saja beritanya, hanya di Riau JOS!* media paling berguna bagi kesuksesan semua makhluk di alam semesta.