Nilai tukar rupiah terpuruk, dan membuat siapapun yang terkena imbasnya mengecam pemerintah, lebih tepatnya Presiden Joko Widodo. Seolah keterpurukan nilai tukar rupiah ada ditangannya. Menilai fenomena ini, tidak tepat jika melihat dari satu sudut pandang saja untuk mengetahui terpuruknya nilai tukar rupiah.

Perilaku pasar, sangat menentukan pergerakan nilai tukar. Dan kabar baiknya, pasar dikuasai oleh perempuan, dan siapapun yang mampu memenuhi selera pasar, dialah yang akan dinobatkan jadi pria penuh keberuntungan dan kesuksesan. Permasalahannya, ketika perempuan dipaksa untuk menyukai barang produksi masal, dan dibujuk dengan aneka iklan sesuai dengan kejiwaan perempuan dizamannya.

Apa kaitan pasar dengan nilai tukar? terletak di pergerakan barang-barang kebutuhan. Yang begitu mengesankan, wanita adalah makhluk yang menggerakkan barang-barang kebutuhan, karena dialah yang mengerti akan kebutuhan rumah tangganya, bukan pria yang mengatur pergerakkan barang-barang.

Jadi, salah kirannya jika menyalahkan presiden saja karena nilai tukar merosot. Kita harus menyadari, betapa perempuan adalah pengendali atas barang-barang, dialah satu-satunya kunci untuk mengembalikan posisi normal rupiah. Dia yang harus dipenuhi kebutuhannya, sehingga dia dapat berbelanja kembali, dan hasilnya rupiah akan kembali normal.

Jika diluar sana masih saja ada perempuan yang tak punya uang belanja untuk memenuhi kebutuhan keluargannya, inilah tugas pemerintah untuk membuat pemerataan belanja wanita, tujuannya agar pasar kembali normal semula, karena para wanita beramai-ramai dapat kembali ke pasar untuk berbelanja memenuhi kebutuhan regenerasi kehidupan manusia.


Rupiah Terpuruk Karena Perempuan








Nilai tukar rupiah terpuruk, dan membuat siapapun yang terkena imbasnya mengecam pemerintah, lebih tepatnya Presiden Joko Widodo. Seolah keterpurukan nilai tukar rupiah ada ditangannya. Menilai fenomena ini, tidak tepat jika melihat dari satu sudut pandang saja untuk mengetahui terpuruknya nilai tukar rupiah.

Perilaku pasar, sangat menentukan pergerakan nilai tukar. Dan kabar baiknya, pasar dikuasai oleh perempuan, dan siapapun yang mampu memenuhi selera pasar, dialah yang akan dinobatkan jadi pria penuh keberuntungan dan kesuksesan. Permasalahannya, ketika perempuan dipaksa untuk menyukai barang produksi masal, dan dibujuk dengan aneka iklan sesuai dengan kejiwaan perempuan dizamannya.

Apa kaitan pasar dengan nilai tukar? terletak di pergerakan barang-barang kebutuhan. Yang begitu mengesankan, wanita adalah makhluk yang menggerakkan barang-barang kebutuhan, karena dialah yang mengerti akan kebutuhan rumah tangganya, bukan pria yang mengatur pergerakkan barang-barang.

Jadi, salah kirannya jika menyalahkan presiden saja karena nilai tukar merosot. Kita harus menyadari, betapa perempuan adalah pengendali atas barang-barang, dialah satu-satunya kunci untuk mengembalikan posisi normal rupiah. Dia yang harus dipenuhi kebutuhannya, sehingga dia dapat berbelanja kembali, dan hasilnya rupiah akan kembali normal.

Jika diluar sana masih saja ada perempuan yang tak punya uang belanja untuk memenuhi kebutuhan keluargannya, inilah tugas pemerintah untuk membuat pemerataan belanja wanita, tujuannya agar pasar kembali normal semula, karena para wanita beramai-ramai dapat kembali ke pasar untuk berbelanja memenuhi kebutuhan regenerasi kehidupan manusia.