RAYUAN MAUT PULAU KABUT
(Derita Kabut Asap yang Tak Terobati)

“Warga Riau Sudah 17 Tahun Menghirup kabut asap, dan akankah terus berlanjut? dan Apakah Jokowi mampu menaklukan tantangan maut Pulau Kabut?”
Menghirup kabut asap pembakaran hutan dan lahan, sudah menjadi hal yang lumrah untuk warga Riau yang selalu saja terkena imbasnya. Hari ini, Jokowi mendatangi Bumi Lancang Kuning dan warga Riau tidak terlalu antusias dengan pemberitaan akan kedatangan Presiden ke 7 ini. 
Bukan tanpa alasan warga tidak terlalu tertarik dengan kedatangan pemerintah pusat, pemerintahan sebelumnya, belum juga mampu mengatasi permasalahan ini. Permasalahan asap sudah menjadi hal yang biasa, mungkin warga Riau sudah menyesuaikan diri dengan lingkungan asapnya, jadi tidak merasakan lagi penderitaan ini atau mungkin sudah jenuh mengurai permasalahan ini.
Perilaku membakar hutan, sudah menjadi kebiasaan oknum yang membuka perkebunan illegal sejak 17 tahun yang lalu. Sepertinya akan terulang lagi apabila penanganan masih dilakukan dengan cara-cara seperti sebelumnya. Pengobatan untuk menanggulangi sikap para pembakar hutan yang belum juga menemukan solusi untuk meluaskan kebun dengan cara membakar, masih dipandang sebagai cara yang murah untuk menekan biaya kebutuhan.
Utama sekali, penanganan dari sisi dampak psikologis, atau yang lagi trend sekarang dengan cara merevolusi mental para pelaku bisnis perkebunan sawit dalam mengatasi masalahnya dalam menekan biaya perluasan lahan garapan sawitnya.
Amanah para pembuat kebijakan, dalam menjalan kebijakan juga layak diperhatikan, bukan hanya menjerat pelaku kelas teri, namun juga para petingginya.
Menghilangnya kabut asap di provinsi riau, sebenarnya bukanlah cara yang susah untuk mewujudkannya, hanya saja diperlukan keberanian di semua kalangan pengusaha perkebunan sawit untuk bertindak berani dan mengakui segala kesulitannya, dan membahas bersama pemerintah. Bukan dengan cara kucing-kucingan membakar hutan, namun diselesaikan secara manusia dengan memperhatikan aspek kemanusiaanya. 
Tak perlu malu mengakui perilaku buruk membakar hutan untuk kepentingan keuntungan sesaat. Pelaku bisnis sawitpun pastilah orang yang mengerti benar kenapa harus membakar hutan, dan dampaknya bagi warga masyarakat, khususnya warga Riau yang selalu terasapi dengan aksi pembakaran hutan dan lahan, namun tidak mendapatkan keuntungan dari aksi para pembakar hutan. Malahan, mendapat penyakit yang sangat mengganggu kehidupan warga Riau.
Gencarnya Pemerintah pusat untuk mengatasi kebakaran hutan di Riau, sampai saat ini belum juga membuat pelakunya jera. Malahan ada kesan, bahwa pembakaran hutan di Riau adalah hal yang biasa, dan di maklumi. Sepertinya, jika terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan warga akan menjadi apatis dengan cara-cara pemerintah saat ini yang mencoba untuk mengurai permasalahan kabut asap di provinsi Riau ini.
Reaksi warga Riau, terutama yang bukan pelaku bisnis sawit sudah sangat apatis, dan berharap kedatangan Jokowi yang di Jadwalkan pada hari Rabu, 26 November 2014 dapat membuahkan perbaikan terhadap perbaikan cara mengurai permasalahan bakar membakar lahan sawit.
Indonesia mempunyai lagu nasional yang bagus, judulnya Rayuan Pulau Kelapa, jangan sampai lagu ini, kelak oleh generasi di masa yang akan datang digubah menjadi Rayuan Maut Pulau Kabut. Ini tidak bisa dibiarkan, mendapati generasi yang akan datang kembali lagi menemui permasalahan yang sama, dengan pola penangganan yang itu-itu saja.
Rayuan Pulau Kelapa adalah lagu Indonesia yang ditulis oleh Ismail Marzuki (1914-1958). Lirik lagu ini berisi tentang keindahan alam Indonesia, seperti flora, kepulauan, dan pantainya.

Lagu ini menjadi lagu nostalgia di Indonesia, terutama yang meninggalkan negara Indonesia ke Belanda pada tahun 1940-an dan 1950-an. Pada era Presiden Republik Indonesia adalah Gubernur & Walikota Joko Widodo 20 Oktober 2014, Baraya TV memainkan lagu ini sebagai lagu penutup di akhir siaran. Selain Baraya TV, stasiun televisi Harmoko TV Pandeglang, Sakti TV Madiun, & Banten TV memainkan lagu ini sebagai lagu penutup di akhir siaran.

Rayuan Pulau Kelapa

Tanah Airku Indonesia
Negeri Elok Amat Ku Cinta
Tanah Tumpah Darahku Yang Mulia
Yang Ku Puja Sepanjang Masa

Tanah Airku Aman dan Makmur
Pulau Kelapa Yang Amat Subur
Pulau Melati Pujaan Bangsa
Sejak Dulu Kala

Melambai Lambai
Nyiur Di Pantai
Berbisik Bisik
Raja Kelana

Memuja Pulau
Nan Indah Permai
Tanah Airku

Indonesia

Rayuan Maut Pulau Kabut



RAYUAN MAUT PULAU KABUT
(Derita Kabut Asap yang Tak Terobati)

“Warga Riau Sudah 17 Tahun Menghirup kabut asap, dan akankah terus berlanjut? dan Apakah Jokowi mampu menaklukan tantangan maut Pulau Kabut?”
Menghirup kabut asap pembakaran hutan dan lahan, sudah menjadi hal yang lumrah untuk warga Riau yang selalu saja terkena imbasnya. Hari ini, Jokowi mendatangi Bumi Lancang Kuning dan warga Riau tidak terlalu antusias dengan pemberitaan akan kedatangan Presiden ke 7 ini. 
Bukan tanpa alasan warga tidak terlalu tertarik dengan kedatangan pemerintah pusat, pemerintahan sebelumnya, belum juga mampu mengatasi permasalahan ini. Permasalahan asap sudah menjadi hal yang biasa, mungkin warga Riau sudah menyesuaikan diri dengan lingkungan asapnya, jadi tidak merasakan lagi penderitaan ini atau mungkin sudah jenuh mengurai permasalahan ini.
Perilaku membakar hutan, sudah menjadi kebiasaan oknum yang membuka perkebunan illegal sejak 17 tahun yang lalu. Sepertinya akan terulang lagi apabila penanganan masih dilakukan dengan cara-cara seperti sebelumnya. Pengobatan untuk menanggulangi sikap para pembakar hutan yang belum juga menemukan solusi untuk meluaskan kebun dengan cara membakar, masih dipandang sebagai cara yang murah untuk menekan biaya kebutuhan.
Utama sekali, penanganan dari sisi dampak psikologis, atau yang lagi trend sekarang dengan cara merevolusi mental para pelaku bisnis perkebunan sawit dalam mengatasi masalahnya dalam menekan biaya perluasan lahan garapan sawitnya.
Amanah para pembuat kebijakan, dalam menjalan kebijakan juga layak diperhatikan, bukan hanya menjerat pelaku kelas teri, namun juga para petingginya.
Menghilangnya kabut asap di provinsi riau, sebenarnya bukanlah cara yang susah untuk mewujudkannya, hanya saja diperlukan keberanian di semua kalangan pengusaha perkebunan sawit untuk bertindak berani dan mengakui segala kesulitannya, dan membahas bersama pemerintah. Bukan dengan cara kucing-kucingan membakar hutan, namun diselesaikan secara manusia dengan memperhatikan aspek kemanusiaanya. 
Tak perlu malu mengakui perilaku buruk membakar hutan untuk kepentingan keuntungan sesaat. Pelaku bisnis sawitpun pastilah orang yang mengerti benar kenapa harus membakar hutan, dan dampaknya bagi warga masyarakat, khususnya warga Riau yang selalu terasapi dengan aksi pembakaran hutan dan lahan, namun tidak mendapatkan keuntungan dari aksi para pembakar hutan. Malahan, mendapat penyakit yang sangat mengganggu kehidupan warga Riau.
Gencarnya Pemerintah pusat untuk mengatasi kebakaran hutan di Riau, sampai saat ini belum juga membuat pelakunya jera. Malahan ada kesan, bahwa pembakaran hutan di Riau adalah hal yang biasa, dan di maklumi. Sepertinya, jika terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan warga akan menjadi apatis dengan cara-cara pemerintah saat ini yang mencoba untuk mengurai permasalahan kabut asap di provinsi Riau ini.
Reaksi warga Riau, terutama yang bukan pelaku bisnis sawit sudah sangat apatis, dan berharap kedatangan Jokowi yang di Jadwalkan pada hari Rabu, 26 November 2014 dapat membuahkan perbaikan terhadap perbaikan cara mengurai permasalahan bakar membakar lahan sawit.
Indonesia mempunyai lagu nasional yang bagus, judulnya Rayuan Pulau Kelapa, jangan sampai lagu ini, kelak oleh generasi di masa yang akan datang digubah menjadi Rayuan Maut Pulau Kabut. Ini tidak bisa dibiarkan, mendapati generasi yang akan datang kembali lagi menemui permasalahan yang sama, dengan pola penangganan yang itu-itu saja.
Rayuan Pulau Kelapa adalah lagu Indonesia yang ditulis oleh Ismail Marzuki (1914-1958). Lirik lagu ini berisi tentang keindahan alam Indonesia, seperti flora, kepulauan, dan pantainya.

Lagu ini menjadi lagu nostalgia di Indonesia, terutama yang meninggalkan negara Indonesia ke Belanda pada tahun 1940-an dan 1950-an. Pada era Presiden Republik Indonesia adalah Gubernur & Walikota Joko Widodo 20 Oktober 2014, Baraya TV memainkan lagu ini sebagai lagu penutup di akhir siaran. Selain Baraya TV, stasiun televisi Harmoko TV Pandeglang, Sakti TV Madiun, & Banten TV memainkan lagu ini sebagai lagu penutup di akhir siaran.

Rayuan Pulau Kelapa

Tanah Airku Indonesia
Negeri Elok Amat Ku Cinta
Tanah Tumpah Darahku Yang Mulia
Yang Ku Puja Sepanjang Masa

Tanah Airku Aman dan Makmur
Pulau Kelapa Yang Amat Subur
Pulau Melati Pujaan Bangsa
Sejak Dulu Kala

Melambai Lambai
Nyiur Di Pantai
Berbisik Bisik
Raja Kelana

Memuja Pulau
Nan Indah Permai
Tanah Airku

Indonesia