Facebookers asal lampung, Hamid Mukhlis, yang sering bolak-balik jogja-lampung, mengupload foto penambang belarang tradisional. 

Dia menuliskan, kalau media luar negeri, maksudnya luar Indonesia telah menetapkan bahwa profesi penambang belerang dinobatkan sebagai profesi paling ekstrim di dunia, Senin, 19 Oktober 2015, lima belas menit yang lalu Waktu Facebook time.

Berikut update status Hamid, disertai deskripsi foto yang sedikit, dan berjubel tanda @ (baca:et) dan dimuat dua tanda # (baca: hashtag atau tagar, alias tanda pagar).
Penambang belerang tradisional gunung Ijen, banyuwangi, Jawa Timur. Mereka membawa beban berpuluh-puluh kilogram beratnya melalui rute yang ekstrim berkilo-kilo meter jauhnya dengan resiko gangguan kesehatan akibat terpapar asap belerang. Tidak heran jika sebuah media diluar negeri menyatakan bahwa profesi ini merupakan salah satu profesi yang paling ekstrim dimuka bumi.
.
Follow @telkomsel_merahputih ikutan challenge yuk @hapelinium @saddamray @buddy_wu86 @didikwidiantoro @didit_ajisoko
.
‪#‎telkomselmerahputih‬ ‪#‎humaninterestarea03‬
Suka   Komentari   
Noor Wulan Mulyani dan 6 orang lainnya menyukai ini.
Komentar
Hendro Susanto Izin share grin emotikon zZ..Zz..ZZ.. translate java
SukaBalasBaru saja

Untuk memperpanjang cerita fotografer yang miskin kata-kata ini, Riau JOS!* mencoba menelisik kedalam peristiwa melalui foto hasil jepretan fotografer handal dari lampung ini.

Diantara bebatuan, penambang belarang tradisional terus bekerja tak kenal lelah. Kenal sih.. namun karena sudah dekat, serasa lelah sudah terlupakan, dan terus bekerja untuk mendapatkan batu belerang yang punya nilai jual.

Perlu keberanian dan tekad membaja serta membara untuk melewati jalan penuh batu, naik turun pegunungan. Pemalas tidak akan sanggup menjalani kehidupan keras ala penambang belarang ini. Kalau pemalas yang cerdas, dia akan berpikir menggunakan sumber daya yang ada untuk memudahkan jalannya perjalanan membawa belerang.

Mungkin saja ini bukan mau mereka, karena sudah terlanjur cinta belerang, penambang belerang akan penat kalau tak melakukan aktifitas menambang belerang dengan cara tradisional, atau bisa dibilang dengan teknologi jaman berburu dan meramu.

Tiba.. tiba.. datang komentar.. dan ini komentar teman Hamid..

Viul Khasa Mas Wes teko kono sampean
SukaBalas7 menit
Hamid Mukhlis Akhir Januari wingi broViul Khasa pas mbambung muter2 jatim... smile emotikon
SukaBalas1 menit
Hendro Susanto
Tulis balasan...
Viul Khasa Walahhh asem kangen pengen dang balek lak delok photo iki
SukaBalas1 menit

Langsung di translate Riau JOS!*, komentar diatas dalam Bahasa Indonesia, "akhir januari kemarin sodara Viul Khasa, ketika main pergi-pergi tanpa tujuan yang jelas ke Jawa Timur :D" tulis Hamid.

Dijawab langsung, pada kesempatan komentar balasan yang sama, "Walahhh (ekspresi kekecewaan) terasa masam, rindu ingin cepat pulang mau melihat foto ini," tulis Viul Khasa.

Dan sampai berita ini diterbitkan, komentar terus bersaut-sautan..

Penambang Belerang Tradisional Termasuk Profesi Paling Ekstrim

Facebookers asal lampung, Hamid Mukhlis, yang sering bolak-balik jogja-lampung, mengupload foto penambang belarang tradisional. 

Dia menuliskan, kalau media luar negeri, maksudnya luar Indonesia telah menetapkan bahwa profesi penambang belerang dinobatkan sebagai profesi paling ekstrim di dunia, Senin, 19 Oktober 2015, lima belas menit yang lalu Waktu Facebook time.

Berikut update status Hamid, disertai deskripsi foto yang sedikit, dan berjubel tanda @ (baca:et) dan dimuat dua tanda # (baca: hashtag atau tagar, alias tanda pagar).
Penambang belerang tradisional gunung Ijen, banyuwangi, Jawa Timur. Mereka membawa beban berpuluh-puluh kilogram beratnya melalui rute yang ekstrim berkilo-kilo meter jauhnya dengan resiko gangguan kesehatan akibat terpapar asap belerang. Tidak heran jika sebuah media diluar negeri menyatakan bahwa profesi ini merupakan salah satu profesi yang paling ekstrim dimuka bumi.
.
Follow @telkomsel_merahputih ikutan challenge yuk @hapelinium @saddamray @buddy_wu86 @didikwidiantoro @didit_ajisoko
.
‪#‎telkomselmerahputih‬ ‪#‎humaninterestarea03‬
Suka   Komentari   
Noor Wulan Mulyani dan 6 orang lainnya menyukai ini.
Komentar
Hendro Susanto Izin share grin emotikon zZ..Zz..ZZ.. translate java
SukaBalasBaru saja

Untuk memperpanjang cerita fotografer yang miskin kata-kata ini, Riau JOS!* mencoba menelisik kedalam peristiwa melalui foto hasil jepretan fotografer handal dari lampung ini.

Diantara bebatuan, penambang belarang tradisional terus bekerja tak kenal lelah. Kenal sih.. namun karena sudah dekat, serasa lelah sudah terlupakan, dan terus bekerja untuk mendapatkan batu belerang yang punya nilai jual.

Perlu keberanian dan tekad membaja serta membara untuk melewati jalan penuh batu, naik turun pegunungan. Pemalas tidak akan sanggup menjalani kehidupan keras ala penambang belarang ini. Kalau pemalas yang cerdas, dia akan berpikir menggunakan sumber daya yang ada untuk memudahkan jalannya perjalanan membawa belerang.

Mungkin saja ini bukan mau mereka, karena sudah terlanjur cinta belerang, penambang belerang akan penat kalau tak melakukan aktifitas menambang belerang dengan cara tradisional, atau bisa dibilang dengan teknologi jaman berburu dan meramu.

Tiba.. tiba.. datang komentar.. dan ini komentar teman Hamid..

Viul Khasa Mas Wes teko kono sampean
SukaBalas7 menit
Hamid Mukhlis Akhir Januari wingi broViul Khasa pas mbambung muter2 jatim... smile emotikon
SukaBalas1 menit
Hendro Susanto
Tulis balasan...
Viul Khasa Walahhh asem kangen pengen dang balek lak delok photo iki
SukaBalas1 menit

Langsung di translate Riau JOS!*, komentar diatas dalam Bahasa Indonesia, "akhir januari kemarin sodara Viul Khasa, ketika main pergi-pergi tanpa tujuan yang jelas ke Jawa Timur :D" tulis Hamid.

Dijawab langsung, pada kesempatan komentar balasan yang sama, "Walahhh (ekspresi kekecewaan) terasa masam, rindu ingin cepat pulang mau melihat foto ini," tulis Viul Khasa.

Dan sampai berita ini diterbitkan, komentar terus bersaut-sautan..