Hujan deras, air turun menyusuri sungai
Hujan deras, air turun menyusuri sungai

Editorial Riau JOS , Sabtu, 24 Oktober 2015

Siapa yang bisa memaksa hujan turun membasahi area hutan dan lahan yang terbakar? Jawabanya tidak ada. Siapa yang mampu mengatasi kebakaran hutan dan lahan tak terulang lagi? Apakah anda yakin hanya Presiden Joko Widodo yang mampu mengatasi? Tentu jawabnya ragu-ragu.

Semua media memberitakan ganasnya kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan, bahkan beberapa hari ini di Papua pun dikabarkan sudah terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Sebagian masyarakat berharap, Presiden Joko Widodo cepat tanggap mengatasi bencana kabut asap. Ada yang mau jika status kebakaran hutan dan lahan ditingkatkan statusnya menjadi bencana nasional. Ada lagi yang mau mengatasi bencana kabut asap melalui jalur Hukum.

Semua keresahan dan keraguan dicampur ketakyakinan masyarakat terhadap pemerintah mengatasi kabut asap menjadikan semua kita dan masyarakat dunia memberikan pikiran yang kuat terhadap dahsyatnya bencana kabut asap. Dan apa yang terjadi sekarang ini? Kenyataan menyetujui apa yang dinyatakan dalam pikiran hampir seluruh warga masyarakat, baik yang terkena bencana maupun yang tak terkena dampak kabut asap.

Semua berfokus pada kabut asap, pikiran kolektif yang berfokus pada bencana kabut asap membuat kenyataan yang terjadi semakin menguatkan betapa bencana kabut asap terus terjadi, hingga hari ini.

Seolah membenarkan teori atraksi pikiran yang ditulis Rhonda Byrne. Apa yang kita fokuskan, itulah yang akan jadi kenyataan. Media sosial marak menyebar luaskan gambar-gambar bencana kabut asap. Setiap bibir mengucapkan keresahan akan bencana kabut asap, dan lihatlah yang terjadi, tahun 2015 merupakan tahun terdahsyat bencana kabut asap.

Lantas apa lagi yang dapat kita harapkan, selain berharap bantuan pada keyakinan kita akan kekuasaan Allah SWT? Berfokus pada turunnya hujan datang tepat pada waktunya. Disaat semua orang gelisah, khawatir akan bencana kabut asap, seharusnya Presiden Joko Widodo beserta jajaran aparat pemerintah langsung berlomba-lomba untuk mengubah alur dan cara berpikir masyarakat pada saat dihadang bencana kabut asap. Dengan cara mengubah kekhawatiran menjadi penuh harap akan kekuasaan Allah SWT yang mampu menurunkan hujan tepat pada waktunya.

Demo mahasiswa, organisasi masyarakat ataupun kelompok-kelompok yang membentuk posko-posko bantuan tanggap darurat mulailah berpengharapan hanya kepada Allah SWT, dan meneriakkan, “Langit Kami Biru..!” tanpa di beri embel-embel dan jargon seolah paling kuat didunia ini, seperti yel-yel “Melawan ASAP!” dan aneka tanda pagar # (tagar) atau nama lain hashtag yang intinya berusaha untuk melawan bencana kabut asap dengan terus berfokus pada asap.

Mulailah seluruh elemen masyarakat berfokus pada udara bersih, langit biru, hutan dan lahan menghijau subur, dan yang paling penting mulailah berpengharapan hanya kepada Allah SWT dengan keyakinan yang utuh, agar semua kita meningkat derajat keimanannya.

Presiden Joko Widodo beserta aparat pemerintah lainya sama posisinya dengan kita, hanya manusia biasa, dan tak mampu menurunkan hujan dalam sekejap. Jika masih berpengharapan kepada mesin-mesin ataupun peralatan pemadam kebakaran tentu ada batasnya dalam mengatasi persoalan asap.

Marilah kita bersama-sama sebagai manusia, berpengharapan hanya kepada pencipta alam semesta ini, yang maha mengatur kejadian alam dan mampu menurunkan hujan tepat pada waktunya.

Bencana Asap Riau 'Berharap Hujan Datang Tepat Pada Waktunya'

Hujan deras, air turun menyusuri sungai
Hujan deras, air turun menyusuri sungai

Editorial Riau JOS , Sabtu, 24 Oktober 2015

Siapa yang bisa memaksa hujan turun membasahi area hutan dan lahan yang terbakar? Jawabanya tidak ada. Siapa yang mampu mengatasi kebakaran hutan dan lahan tak terulang lagi? Apakah anda yakin hanya Presiden Joko Widodo yang mampu mengatasi? Tentu jawabnya ragu-ragu.

Semua media memberitakan ganasnya kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan, bahkan beberapa hari ini di Papua pun dikabarkan sudah terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Sebagian masyarakat berharap, Presiden Joko Widodo cepat tanggap mengatasi bencana kabut asap. Ada yang mau jika status kebakaran hutan dan lahan ditingkatkan statusnya menjadi bencana nasional. Ada lagi yang mau mengatasi bencana kabut asap melalui jalur Hukum.

Semua keresahan dan keraguan dicampur ketakyakinan masyarakat terhadap pemerintah mengatasi kabut asap menjadikan semua kita dan masyarakat dunia memberikan pikiran yang kuat terhadap dahsyatnya bencana kabut asap. Dan apa yang terjadi sekarang ini? Kenyataan menyetujui apa yang dinyatakan dalam pikiran hampir seluruh warga masyarakat, baik yang terkena bencana maupun yang tak terkena dampak kabut asap.

Semua berfokus pada kabut asap, pikiran kolektif yang berfokus pada bencana kabut asap membuat kenyataan yang terjadi semakin menguatkan betapa bencana kabut asap terus terjadi, hingga hari ini.

Seolah membenarkan teori atraksi pikiran yang ditulis Rhonda Byrne. Apa yang kita fokuskan, itulah yang akan jadi kenyataan. Media sosial marak menyebar luaskan gambar-gambar bencana kabut asap. Setiap bibir mengucapkan keresahan akan bencana kabut asap, dan lihatlah yang terjadi, tahun 2015 merupakan tahun terdahsyat bencana kabut asap.

Lantas apa lagi yang dapat kita harapkan, selain berharap bantuan pada keyakinan kita akan kekuasaan Allah SWT? Berfokus pada turunnya hujan datang tepat pada waktunya. Disaat semua orang gelisah, khawatir akan bencana kabut asap, seharusnya Presiden Joko Widodo beserta jajaran aparat pemerintah langsung berlomba-lomba untuk mengubah alur dan cara berpikir masyarakat pada saat dihadang bencana kabut asap. Dengan cara mengubah kekhawatiran menjadi penuh harap akan kekuasaan Allah SWT yang mampu menurunkan hujan tepat pada waktunya.

Demo mahasiswa, organisasi masyarakat ataupun kelompok-kelompok yang membentuk posko-posko bantuan tanggap darurat mulailah berpengharapan hanya kepada Allah SWT, dan meneriakkan, “Langit Kami Biru..!” tanpa di beri embel-embel dan jargon seolah paling kuat didunia ini, seperti yel-yel “Melawan ASAP!” dan aneka tanda pagar # (tagar) atau nama lain hashtag yang intinya berusaha untuk melawan bencana kabut asap dengan terus berfokus pada asap.

Mulailah seluruh elemen masyarakat berfokus pada udara bersih, langit biru, hutan dan lahan menghijau subur, dan yang paling penting mulailah berpengharapan hanya kepada Allah SWT dengan keyakinan yang utuh, agar semua kita meningkat derajat keimanannya.

Presiden Joko Widodo beserta aparat pemerintah lainya sama posisinya dengan kita, hanya manusia biasa, dan tak mampu menurunkan hujan dalam sekejap. Jika masih berpengharapan kepada mesin-mesin ataupun peralatan pemadam kebakaran tentu ada batasnya dalam mengatasi persoalan asap.

Marilah kita bersama-sama sebagai manusia, berpengharapan hanya kepada pencipta alam semesta ini, yang maha mengatur kejadian alam dan mampu menurunkan hujan tepat pada waktunya.