RiauJOS!*, Jakarta - Memang paling enak jadi komentator di media pemberitaan online, apalagi kalau sudah keluar kalimat dari seorang Fadli Zonk, pastilah komentator langsung menumpahkan semua hasratnya untuk mengatainya dengan apapun imajinasi yang ada di masing-masing data otak komentator berita.

Trus, apa enaknya ngomentari monyonk Fadli Zonk?, jawabanya bisa ditanya langsung kepada komentator yang budiman. Komentator disebut budiman karena punya waktu lebih untuk mengatai tanpa solusi dan tindakan, meraka dengan senang hati mengomentari tanpa perlu dibayar, padahal kalau mau berpikir ala Josser (sapaan pembaca cerdas RiauJOS!*), pastilah mulai berhitung, antara waktu mengomentari dan nasi yang dijadikan bahan bakar untuk komentar, berimbangkah manfaat dan mudaratnya?

Fadli Zonk, nama sapaan hangat bagi Wakil Ketua DPR, Bikin heboh media karena tak mau penuhi panggilan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). 

Ini bunyi-bunyian yang keluar dari Monyong Fadli Zonk, di copas secara membabi buta tanpa edit sedikitpun, karena redaksi paling malas jika meluruskan kalimat yang bersumber dari otak yang gak jelas, suka boombastis dan memperkeruh suasana dan suasini serta dimana-mana ada juga. Selamat membaca, (kalau mau):

Fadli Zon, yang disapa hangat dengan panggilan si Zonk di kalangan komentator berita online, screenshot nasional.kompas.com, Rabu, 14 Oktober 2015, di desktop laptop.

"Mana bisa menulis surat kepada polisi. Dia juga harus mengerti aturan, MKD jangan sok jagoan," kata Fadli di Jakarta, Senin (12/10/2015) malam.
Hal tersebut disampaikan Fadli menanggapi pernyataan Wakil Ketua MKD Junimart Girsang. Junimart merasa geram dengan sikap Setya Novanto dan Fadli yang tak menghadiri pemeriksaan MKD untuk yang kedua kalinya. 
Jika Novanto dan Fadli tak hadir hingga panggilan ketiga, Junimart mengatakan, MKD bisa meminta bantuan kepolisan sebagaimana diatur dalam tata beracara MKD.
"Ini namanya memmolitisasi. Ini mengada-ada. MKD ini sudah diisi lawan politik yang berkepentingan, yang mencari panggung," kata Fadli.  
Ia menjelaskan bahwa ketidakhadirannya pada panggilan kedua karena MKD tidak menjelaskan atas perkara apa dia akan diperiksa.  
"Kalau memang atas perkara Donald Trump, tidak disebutkan dalam surat pemanggilannya. Ini kan sebenarnya memang tidak ada kasus, tetapi diada-adakan," ujarnya.  
Akhirnya, pada waktu pemeriksaan Senin siang, Fadli memilih melakukan kegiatan lain, yakni berkonsultasi dengan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebab, Fadli baru saja terpilih sebagai Ketua Organisasi Parlemen Antikorupsi Dunia.  
Adapun pada pemanggilan pertama 28 September lalu, Fadli dan Novanto tak memenuhi panggilan karena sedang menjalankan ibadah haji atas undangan Kerajaan Arab Saudi. MKD pun kini telah menjadwalkan panggilan ketiga bagi Fadli dan Novanto pada 19 Oktober mendatang.
Sudah dibaca? keruhkan suasana... pantaslah kiranya komentator sangat bersemangat mengomentari monyong Fadli Zonk yang kayak sapi ompong berperan garang namun tak menakutkan, malahan menggelikan bagi yang punya selera humor tinggi dan mau memaksimalkan otak kanan untuk melihat kenyataan lewat kata dalam berita. 

Bagusnya, para komentator setelah mengomentari monyonk Fadli Zonk berterima kasih, karena telah diberikan kesempatan untuk menyalurkan bakat dan hasrat berkomentar sesuai hasrat masing-masing. Itu idealnya, tapi kalau maunya seperti itu, apa boleh bikin.. sah-sah saja dialam merdeka berkomentar.

Ini ada beberapa komentar yang bisa dijadikan hiasan tembok, agar semakin keras tembok dirumah karena komentar pedas memanaskan setiap ruangan, baik ruang batin maupun perabot rumah.

Komentator 1, nama disensor
Komentator 2, nama disamarkan
dan masih banyak para komentator yang lainnya, tak mungkin semua eksis disini, karena komentarnya bikin panas, ntar bikin pedih mata membacanya kayak mengiris bawang merah.

dicopas langsung dari laman nasional.kompas.com, terima kasih kepada dua orang ini:
  1. Penulis: Ihsanuddin dan 
  2. Editor: Inggried Dwi Wedhaswary


Apa Enaknya Ngomentari Monyong Fadli Zonk?

RiauJOS!*, Jakarta - Memang paling enak jadi komentator di media pemberitaan online, apalagi kalau sudah keluar kalimat dari seorang Fadli Zonk, pastilah komentator langsung menumpahkan semua hasratnya untuk mengatainya dengan apapun imajinasi yang ada di masing-masing data otak komentator berita.

Trus, apa enaknya ngomentari monyonk Fadli Zonk?, jawabanya bisa ditanya langsung kepada komentator yang budiman. Komentator disebut budiman karena punya waktu lebih untuk mengatai tanpa solusi dan tindakan, meraka dengan senang hati mengomentari tanpa perlu dibayar, padahal kalau mau berpikir ala Josser (sapaan pembaca cerdas RiauJOS!*), pastilah mulai berhitung, antara waktu mengomentari dan nasi yang dijadikan bahan bakar untuk komentar, berimbangkah manfaat dan mudaratnya?

Fadli Zonk, nama sapaan hangat bagi Wakil Ketua DPR, Bikin heboh media karena tak mau penuhi panggilan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). 

Ini bunyi-bunyian yang keluar dari Monyong Fadli Zonk, di copas secara membabi buta tanpa edit sedikitpun, karena redaksi paling malas jika meluruskan kalimat yang bersumber dari otak yang gak jelas, suka boombastis dan memperkeruh suasana dan suasini serta dimana-mana ada juga. Selamat membaca, (kalau mau):

Fadli Zon, yang disapa hangat dengan panggilan si Zonk di kalangan komentator berita online, screenshot nasional.kompas.com, Rabu, 14 Oktober 2015, di desktop laptop.

"Mana bisa menulis surat kepada polisi. Dia juga harus mengerti aturan, MKD jangan sok jagoan," kata Fadli di Jakarta, Senin (12/10/2015) malam.
Hal tersebut disampaikan Fadli menanggapi pernyataan Wakil Ketua MKD Junimart Girsang. Junimart merasa geram dengan sikap Setya Novanto dan Fadli yang tak menghadiri pemeriksaan MKD untuk yang kedua kalinya. 
Jika Novanto dan Fadli tak hadir hingga panggilan ketiga, Junimart mengatakan, MKD bisa meminta bantuan kepolisan sebagaimana diatur dalam tata beracara MKD.
"Ini namanya memmolitisasi. Ini mengada-ada. MKD ini sudah diisi lawan politik yang berkepentingan, yang mencari panggung," kata Fadli.  
Ia menjelaskan bahwa ketidakhadirannya pada panggilan kedua karena MKD tidak menjelaskan atas perkara apa dia akan diperiksa.  
"Kalau memang atas perkara Donald Trump, tidak disebutkan dalam surat pemanggilannya. Ini kan sebenarnya memang tidak ada kasus, tetapi diada-adakan," ujarnya.  
Akhirnya, pada waktu pemeriksaan Senin siang, Fadli memilih melakukan kegiatan lain, yakni berkonsultasi dengan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebab, Fadli baru saja terpilih sebagai Ketua Organisasi Parlemen Antikorupsi Dunia.  
Adapun pada pemanggilan pertama 28 September lalu, Fadli dan Novanto tak memenuhi panggilan karena sedang menjalankan ibadah haji atas undangan Kerajaan Arab Saudi. MKD pun kini telah menjadwalkan panggilan ketiga bagi Fadli dan Novanto pada 19 Oktober mendatang.
Sudah dibaca? keruhkan suasana... pantaslah kiranya komentator sangat bersemangat mengomentari monyong Fadli Zonk yang kayak sapi ompong berperan garang namun tak menakutkan, malahan menggelikan bagi yang punya selera humor tinggi dan mau memaksimalkan otak kanan untuk melihat kenyataan lewat kata dalam berita. 

Bagusnya, para komentator setelah mengomentari monyonk Fadli Zonk berterima kasih, karena telah diberikan kesempatan untuk menyalurkan bakat dan hasrat berkomentar sesuai hasrat masing-masing. Itu idealnya, tapi kalau maunya seperti itu, apa boleh bikin.. sah-sah saja dialam merdeka berkomentar.

Ini ada beberapa komentar yang bisa dijadikan hiasan tembok, agar semakin keras tembok dirumah karena komentar pedas memanaskan setiap ruangan, baik ruang batin maupun perabot rumah.

Komentator 1, nama disensor
Komentator 2, nama disamarkan
dan masih banyak para komentator yang lainnya, tak mungkin semua eksis disini, karena komentarnya bikin panas, ntar bikin pedih mata membacanya kayak mengiris bawang merah.

dicopas langsung dari laman nasional.kompas.com, terima kasih kepada dua orang ini:
  1. Penulis: Ihsanuddin dan 
  2. Editor: Inggried Dwi Wedhaswary