Riau JOS!* Pekanbaru - Facebookers Abdul Somad yang juga seorang dosen di Universitas Negeri Islam Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) menurut keterangan info profil facebooknya, mengadu kepada tokoh yang berasal dari kerajaan Siak, Provinsi Riau, Sultan Syarif Kasim II.

Aduan kepada pemerintah tidak mempan, teriakan di sosial yang sudah membabi-buta pun tak mengubah keadaan, unjuk rasa, demo-demo perlawanan maupun ajakan bersegera mengatasi kabut asap sudah dilakukan, musik mengecam pembakar hutan tak juga mampu meneriakkan betapa dahsyatnya bencana kabut asap ini, video-video bencana kabut asap, pemberitaan pun tak mampu menyelesaikan persoalan kabut asap.

Dan kali ini, Kamis, 22 Oktober 2015, 17 jam yang lalu, waktu Facebook time, Abdul Somad mengupayakan solusi mengatasi bencana tragedi kabut asap melalui proses pengaduan kepada Sultan Syarif Kasim II yang telah tiada sejak 23 April 1968. Seolah menyiratkan bentuk nostalgia bersama kepemimpinan raja-raja terdahulu yang begitu heroik membela kepentingan rakyatnya.

Berikut Profil lengkap Yang Dipertuan Besar Sultan Syarif Syarif Kasim II, di copas dari wikipedia.org.

Syarif Kasim II dari Siak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Yang Dipertuan Besar
Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin
Sultan Syarif Kasim II
Sultan Syarif Kasim II
Sultan Siak Sri Inderapura ke-12
Masa jabatan
1915 – 1946
Didahului olehSultan Syarif Hasyim
Digantikan olehtidak ada
Informasi pribadi
Lahir1 Desember 1893
Id-siak1.GIF Siak Sri Inderapura
Meninggal23 April 1968 (umur 74)
Bendera Indonesia PekanbaruRiau
Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin[1] atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri Indrapura,Riau1 Desember 1893 – meninggal di RumbaiPekanbaruRiau23 April 1968 pada umur 74 tahun) adalah sultanke-12 Kesultanan Siak. Ia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah republik (setara dengan 151 juta gulden atau € 69 juta Euro pada tahun 2011)[2] . Bersama Sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak republik. Namanya kini diabadikan untuk Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II diPekanbaru.

Dan ini aduan Abdul Somad kepada rajanya yang lama telah tiada, wafat meninggalkan dunia yang fana ini.


Yang Mulia, Tuan Sultan Syarif Kasim Dua
13 juta Gulden Tuan sumbang tuk negara
Berserah kuasa di Jogjakarta
Demi NKRI tercinta
Kini yang terjadi tak terduga
Bumi mu diperas hingga tak bermaya
Rakyatmu hanya dapat lima belas peratus sahaja
Ketika asap datang menyala
Anak cucu mu menjerit menahan bala
Ramadhani Luthfi Aerli meregang nyawa
Tampak asap mengepul di dadanya
Tuan menteri berkata tak ada apa-apa
Kami bukan orang utan belantara
Kami orang bermarwah berbudi bahasa
Mengapa kami tak dibalas bela
Apa kerana kami lembut disangka hampa
Kami bukan tak pandai memikul senjata
Belum tercabut keris pusaka
Kerana masa saja yang belum tiba
Ketika puak melayu di negeri Malaya
Mengkafirkan Syi'ah sebagai agama
Kau banjiri kami dengan penyembah Karbala
Kerana kami diam kau sangka lupa
Ketika puak Melayu di Kalimantan Utara
Negeri Brunei negeri bernama
Menerapkan syari'at Allah di bumi nan nyata
Kami tak dapat berbuat sama
Padahal kami Melayu jua
Dari Kaherah ke Alexandria
Budak-budak Melayu bersuka ria
Dari Bandar seri Begawan hingga ke Melaka
Kami dari dari bumi Lancang Kuning berduka cita
Kerana negara tiada menyapa
Hidup susah tiada terkira
Di atas panas gurun sahara
Oo Tuan kami tak lupa
Orang mati tak boleh berdoa
Hanya ingin memberi berita
Pada orang nan tak bermuka
Bahwa kami masih ada
Meski maut mengintai di hulu hala
Risau nak dihalau kemana
Menyusun kata kadang tak kena
Kerana hati marah bercampur duka
Ilham turun tiada terkira
Kau jangan sombong pada kuasa
Memang sudah hukum dunia
Dari sejak Adam dan Hawa
Yang lemah dipijak sambil tertawa
Akhirnya...
Tiada tempat mengadu selain Allah Ta'ala...

Semoga aduan Abdul Somad mendapatkan sukses besar menyetuh kalbu siapapun yang bertanggungjawab mengatasi masalah asap dan para pelaku pembakaran hutan dan lahan serta biang keladinya dapat segera bertobat dan meminta maaf pada Allah SWT serta kepada korban tragedi asap. (Baca juga: Ternyata Perusahaan Ini Biang Keladi Kabut Asap di Riau)

Abdul Somad Mengadukan Bencana Kabut Asap Kepada Sultan Syarif Kasyim II

Riau JOS!* Pekanbaru - Facebookers Abdul Somad yang juga seorang dosen di Universitas Negeri Islam Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) menurut keterangan info profil facebooknya, mengadu kepada tokoh yang berasal dari kerajaan Siak, Provinsi Riau, Sultan Syarif Kasim II.

Aduan kepada pemerintah tidak mempan, teriakan di sosial yang sudah membabi-buta pun tak mengubah keadaan, unjuk rasa, demo-demo perlawanan maupun ajakan bersegera mengatasi kabut asap sudah dilakukan, musik mengecam pembakar hutan tak juga mampu meneriakkan betapa dahsyatnya bencana kabut asap ini, video-video bencana kabut asap, pemberitaan pun tak mampu menyelesaikan persoalan kabut asap.

Dan kali ini, Kamis, 22 Oktober 2015, 17 jam yang lalu, waktu Facebook time, Abdul Somad mengupayakan solusi mengatasi bencana tragedi kabut asap melalui proses pengaduan kepada Sultan Syarif Kasim II yang telah tiada sejak 23 April 1968. Seolah menyiratkan bentuk nostalgia bersama kepemimpinan raja-raja terdahulu yang begitu heroik membela kepentingan rakyatnya.

Berikut Profil lengkap Yang Dipertuan Besar Sultan Syarif Syarif Kasim II, di copas dari wikipedia.org.

Syarif Kasim II dari Siak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Yang Dipertuan Besar
Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin
Sultan Syarif Kasim II
Sultan Syarif Kasim II
Sultan Siak Sri Inderapura ke-12
Masa jabatan
1915 – 1946
Didahului olehSultan Syarif Hasyim
Digantikan olehtidak ada
Informasi pribadi
Lahir1 Desember 1893
Id-siak1.GIF Siak Sri Inderapura
Meninggal23 April 1968 (umur 74)
Bendera Indonesia PekanbaruRiau
Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin[1] atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri Indrapura,Riau1 Desember 1893 – meninggal di RumbaiPekanbaruRiau23 April 1968 pada umur 74 tahun) adalah sultanke-12 Kesultanan Siak. Ia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah republik (setara dengan 151 juta gulden atau € 69 juta Euro pada tahun 2011)[2] . Bersama Sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak republik. Namanya kini diabadikan untuk Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II diPekanbaru.

Dan ini aduan Abdul Somad kepada rajanya yang lama telah tiada, wafat meninggalkan dunia yang fana ini.


Yang Mulia, Tuan Sultan Syarif Kasim Dua
13 juta Gulden Tuan sumbang tuk negara
Berserah kuasa di Jogjakarta
Demi NKRI tercinta
Kini yang terjadi tak terduga
Bumi mu diperas hingga tak bermaya
Rakyatmu hanya dapat lima belas peratus sahaja
Ketika asap datang menyala
Anak cucu mu menjerit menahan bala
Ramadhani Luthfi Aerli meregang nyawa
Tampak asap mengepul di dadanya
Tuan menteri berkata tak ada apa-apa
Kami bukan orang utan belantara
Kami orang bermarwah berbudi bahasa
Mengapa kami tak dibalas bela
Apa kerana kami lembut disangka hampa
Kami bukan tak pandai memikul senjata
Belum tercabut keris pusaka
Kerana masa saja yang belum tiba
Ketika puak melayu di negeri Malaya
Mengkafirkan Syi'ah sebagai agama
Kau banjiri kami dengan penyembah Karbala
Kerana kami diam kau sangka lupa
Ketika puak Melayu di Kalimantan Utara
Negeri Brunei negeri bernama
Menerapkan syari'at Allah di bumi nan nyata
Kami tak dapat berbuat sama
Padahal kami Melayu jua
Dari Kaherah ke Alexandria
Budak-budak Melayu bersuka ria
Dari Bandar seri Begawan hingga ke Melaka
Kami dari dari bumi Lancang Kuning berduka cita
Kerana negara tiada menyapa
Hidup susah tiada terkira
Di atas panas gurun sahara
Oo Tuan kami tak lupa
Orang mati tak boleh berdoa
Hanya ingin memberi berita
Pada orang nan tak bermuka
Bahwa kami masih ada
Meski maut mengintai di hulu hala
Risau nak dihalau kemana
Menyusun kata kadang tak kena
Kerana hati marah bercampur duka
Ilham turun tiada terkira
Kau jangan sombong pada kuasa
Memang sudah hukum dunia
Dari sejak Adam dan Hawa
Yang lemah dipijak sambil tertawa
Akhirnya...
Tiada tempat mengadu selain Allah Ta'ala...

Semoga aduan Abdul Somad mendapatkan sukses besar menyetuh kalbu siapapun yang bertanggungjawab mengatasi masalah asap dan para pelaku pembakaran hutan dan lahan serta biang keladinya dapat segera bertobat dan meminta maaf pada Allah SWT serta kepada korban tragedi asap. (Baca juga: Ternyata Perusahaan Ini Biang Keladi Kabut Asap di Riau)