RiauJOS!, Jakarta - Kehadiran sekitar delapan perempuan cantik dan seksi secara tiba-tiba dengan mengenakan ikat kepala "No Save KPK-Polri", membuat aksi demonstrasi LSM dan mahasiswa di depan gedung Pengadilan Jakarta Selatan, tambah "trenyuh" (red: Iba). Sebelumnya, sekitar seratusan massa aksi nampak bermalas-malasan, karena belum makan dan memilih duduk-duduk di pinggir pagar bagian dalam pengadilan memperhatikan lalu-lalang orang pembawa kotak snack namun tak dibagikan.

Tapi suasana tiba-tiba makin "trenyuh" melankoli drama India, massa kembali mendekat dan merapat, setelah para perempuan cantik ini masuk dan berdiri di hadapan mereka. Massa yang sebelumnya berhamburan kelaparan, kini merapat dan makin mendekat ke para perempuan ini, mereka mengira wanita-wanita cantik ini membawa kotak snack berisi roti untuk ganjal perut, mereka tak sempat sarapan pagi. 

Mereka berkali-kali berteriak, "Save KPK, jangan biarkan skripsi kami terbengkalai, benar kami tak punya printer, untuk itu kami datang kemari..!! meminta perhatian Bapak-Bapak, jangan perhatikan yang lain...perhatikan judul skripsi kami, Hubungan Antara Kecintaan pada instansi (Polri-KPK) dan Religiusitas Umat Beragama" Pinta mereka sambil berjalan meliuk-liuk beriringan bak peragawati turun dari Bus Trans Jakarta.

Seorang perwakilan wanita-wanita cantik yang tak mau disebutkan namanya, mengaku tak mendukung Polri. Diakuinya, kehadiran ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan setelah sebelumnya melakukan aksi Pinjam Printer Polri di Bundaran HI, tapi tak dikasih Pak Polisi, cuman dikasih kertas A4, itupun hanya setengah rim.

"Kita kenapa Save KPK, karena file sekripsi kita telah tersimpan di flasdisk dengan nama file KPK. Polri juga tak kita dukung. Sekarang keputusan pengadilan. Secara individu mau nggak pengadilan pinjamkan kami printer untuk print skripsi? Jangan mementingkan Polri dan KPK, mereka sudah punya printer. Kami harus segera kumpulkan skripsi sekarang, flashdisk kami ber-virus, tak bisa lama-lama dibiarkan, virus akan menyebar, harus diprint sekarang, kalau tidak, kami tidak jadi wisuda tahun ini" katanya.

Mereka juga mempertanyakan keputusan KPK yang membuka lagi masalah lama Komjen Pol Budi Gunawan, "Kapan Indonesia maju kalau Pendidikan di nomor dua kan? Yang penting dan perlu diprioritaskan sekarang, Pinjami kami Printer biar kami wisuda tahun ini" wanita-wanita cantik kesal sifat kekanan-kanakan dua instansi ini. Mereka berharap agar Pendidikan jadi prioritas utama, bukan sibuk memproduksi kebijakan namun tak pernah digunakan, malah main ular tangga dan teka-teki silang (TTS).

Akhirnya, 8 wanita cantik meminta Presiden Joko Widodo segera bertindak untuk meminjamkan printer yang berkualitas internasional, tinta berwarna dan mampu mencetak 8 skripsi dalam waktu 1 jam, karena sebentar lagi mereka harus menyerahkan hardcopy ke biro skripsi. Untuk mendamaikan kedua institusi penegak hukum ini, mereka membagi tugas penyelesaian skripsi agar kedua instansi tidak lagi fokus ke masa lalu mereka yang kelam, tapi fokus pada kemajuan pendidikan tinggi, khususnya penuntasan skripsi 8 wanita cantik ini. Tugasnya, KPK ditugaskan membuat daftar isi, sedangkan Polri bertugas mengedit dan mencetak skripsi sesuai panduan penyusunan skripsi sekaligus membantu biaya jilid cover timbul.

Wanita-wanita Cantik Tak Dukung KPK dan Porlri



RiauJOS!, Jakarta - Kehadiran sekitar delapan perempuan cantik dan seksi secara tiba-tiba dengan mengenakan ikat kepala "No Save KPK-Polri", membuat aksi demonstrasi LSM dan mahasiswa di depan gedung Pengadilan Jakarta Selatan, tambah "trenyuh" (red: Iba). Sebelumnya, sekitar seratusan massa aksi nampak bermalas-malasan, karena belum makan dan memilih duduk-duduk di pinggir pagar bagian dalam pengadilan memperhatikan lalu-lalang orang pembawa kotak snack namun tak dibagikan.

Tapi suasana tiba-tiba makin "trenyuh" melankoli drama India, massa kembali mendekat dan merapat, setelah para perempuan cantik ini masuk dan berdiri di hadapan mereka. Massa yang sebelumnya berhamburan kelaparan, kini merapat dan makin mendekat ke para perempuan ini, mereka mengira wanita-wanita cantik ini membawa kotak snack berisi roti untuk ganjal perut, mereka tak sempat sarapan pagi. 

Mereka berkali-kali berteriak, "Save KPK, jangan biarkan skripsi kami terbengkalai, benar kami tak punya printer, untuk itu kami datang kemari..!! meminta perhatian Bapak-Bapak, jangan perhatikan yang lain...perhatikan judul skripsi kami, Hubungan Antara Kecintaan pada instansi (Polri-KPK) dan Religiusitas Umat Beragama" Pinta mereka sambil berjalan meliuk-liuk beriringan bak peragawati turun dari Bus Trans Jakarta.

Seorang perwakilan wanita-wanita cantik yang tak mau disebutkan namanya, mengaku tak mendukung Polri. Diakuinya, kehadiran ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan setelah sebelumnya melakukan aksi Pinjam Printer Polri di Bundaran HI, tapi tak dikasih Pak Polisi, cuman dikasih kertas A4, itupun hanya setengah rim.

"Kita kenapa Save KPK, karena file sekripsi kita telah tersimpan di flasdisk dengan nama file KPK. Polri juga tak kita dukung. Sekarang keputusan pengadilan. Secara individu mau nggak pengadilan pinjamkan kami printer untuk print skripsi? Jangan mementingkan Polri dan KPK, mereka sudah punya printer. Kami harus segera kumpulkan skripsi sekarang, flashdisk kami ber-virus, tak bisa lama-lama dibiarkan, virus akan menyebar, harus diprint sekarang, kalau tidak, kami tidak jadi wisuda tahun ini" katanya.

Mereka juga mempertanyakan keputusan KPK yang membuka lagi masalah lama Komjen Pol Budi Gunawan, "Kapan Indonesia maju kalau Pendidikan di nomor dua kan? Yang penting dan perlu diprioritaskan sekarang, Pinjami kami Printer biar kami wisuda tahun ini" wanita-wanita cantik kesal sifat kekanan-kanakan dua instansi ini. Mereka berharap agar Pendidikan jadi prioritas utama, bukan sibuk memproduksi kebijakan namun tak pernah digunakan, malah main ular tangga dan teka-teki silang (TTS).

Akhirnya, 8 wanita cantik meminta Presiden Joko Widodo segera bertindak untuk meminjamkan printer yang berkualitas internasional, tinta berwarna dan mampu mencetak 8 skripsi dalam waktu 1 jam, karena sebentar lagi mereka harus menyerahkan hardcopy ke biro skripsi. Untuk mendamaikan kedua institusi penegak hukum ini, mereka membagi tugas penyelesaian skripsi agar kedua instansi tidak lagi fokus ke masa lalu mereka yang kelam, tapi fokus pada kemajuan pendidikan tinggi, khususnya penuntasan skripsi 8 wanita cantik ini. Tugasnya, KPK ditugaskan membuat daftar isi, sedangkan Polri bertugas mengedit dan mencetak skripsi sesuai panduan penyusunan skripsi sekaligus membantu biaya jilid cover timbul.
Comments
0 Comments