Mak Lampir, tokoh legendaris yang menghiasi bioskop dan TV di Indonesia
Mak Lampir, tokoh legendaris yang menghiasi bioskop dan TV di Indonesia

RiauJOS.com, Editorial - Ketika Riau JOS melaporkan kondisi terakhir di Bumi Lancang Kuning, yaitu indeks kualitas udara di Dumai, Siak, Bengkalis dan Kepulauan Meranti tidak sehat, agaknya akan membahagiakan Mak Lampir.

Semua itu, bagi masyarakat tak jadi persoalan, asalkan Mak Lampir tidak lagi muncul di Sinetron seperti dulu lagi, ketika eksis di dunia televisi dan menakuti anak-anak di malam hari, Mak Lampir sudah insaf meng-asapi Provinsi Riau.

Padahal, ketika terjadi asap yang di produksi mak lampir secara berlebihan, bagi masyarakat, sudah tergambar betapa lingkungan di provinsi ini sudah mengindikasikan dalam kondisi yang tidak seimbang, atau dengan kata lain sudah terjadi kerusakan yang cukup serius.

Jika dicerna dan ditelan bulat-bulat seperti bakso, bahwa kawasan hutan dan lahan sudah bisa ditentukan titik-titik api dengan teknologi dan pemilik izin lahan yang terbakar pun sudah bisa ditentukan, tak lupa minta izin Mak Lampir di Gunung Merapi, dengan melakukan ritual bakar kemenyan lengkap dengan sesaji kesukaannya.

Hanya saja, persoalan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) ini tentu juga tergantung dari koordinasi dan Hubungan yang baik dengan Liaison Officer (LO) Mak Lampir yang tinggal tidak jauh dari lereng Gunung Merapi, perangkat peredam kemarahan Mak Lampir, yaitu perangkat video shooting, yang mampu dipimpin secara apik oleh Rumah Produksi yang berkualitas, terpusat dan terorganisasi dengan baik, dan tak boleh lupa memberikan sesaji secara rutin tiap bulan purnama tiba.

Apakah dengan minimnya reaksi masyarakat menyikapi kondisi Mak Lampir yang sekarang ini kurang eksis di sinetron televisi dengan jam tayang di malam hari, lantas membuat pemerintah tenang-tenang saja? Tentu tidaklah demikian. Hanya saja, sangat disayangkan kita tidak lagi mengidolakan Mak Lampir menjadi tontonan yang menghibur dan bikin ngeri,dan memperkenalkan ke-eksis-an Mak Lampir kepada anak-anak kita seperti dulu lagi.

Mungkin saja, kondisi politik dan pemerintahan sudah kehilangan kecintaan terhadap peran menakutkan Mak Lampir, untuk sama-sama menyadari dan bergerak, bahwa Mak Lampir harus diberikan kesempatan untuk tetap tampil dan eksis di televisi, lebih bagus lagi di angkat juga ke Layar Lebar secara kolosal, agar Mak Lampir Tidak lagi memproduksi asap berlebihan di Provinsi Riau yang kita cintai dan menakuti masyarakat yang bekerja dilahan. 

Sehingga, kejadian yang sudah mengkhawatirkan bagi kesehatan ini tetap tidak bisa direspon dengan baik.

Jika memang kondisinya seperti itu, ada baiknya kita berharap kembali kepada momentumkesuksesan Mak Lampir menghiasi layar kaca dan Gedung Bioskop di seluruh Provinsi Riau. 

Selain penyadaran ini penting, tanah Malayu saat ini secara beruntun akan menempatkanMak Lampir sebagai idola baru bagi remaja generasi penerus kita, pada Februari ini dan memilih Produser yang matang dalam mengelola Rumah Produksi Sinetron Mak Lampir dan mengangkat ke Layar Lebar di masa mendatang.

Paling tidak, kepada Gubernur Riau yang baru, disandarkan sebuah kebijakan untuk mengangkat Mak Lampir jadi sineas terbaik di Tahun 2014 nanti, yang mampu memberi respon cepat terhadap bencana asap yang terus di produksi Mak Lampri, kebijakan ini,mampu menjadi motor penggerak seluruh potensi di kabupaten kota untuk mengatasiproduksi Asap Berlebih yang terus dilakukan Mak Lampir, yang selalu terjadi saat bulan purnama.

Dan kepada masyarakat, meski sudah cenderung apatis terhadap bencana asap ini, tentu masih diharapakan untuk mau dan mampu memilih menetapkan Mak Lampir jadi Sineas terbaik, yang memiliki visi besar untuk menuntaskan semua masalah di Riau, terutama mengatasi masalah produktifitas Mak Lampir yang menghasilkan asap berlebih.

Kepada Produser Film televisi, Bioskop dan seluruh pemeran pembantu yang akan bertarung memperebutkan hati Mak Lampir, harus benar-benar menyadari bahwa asapyang diproduksi Mak Lampir sudah menjadi bencana akut yang harus dituntaskan.

Seminim-minim langkah kita, adalah mencintai Mak Lampir, menghindari kebiasaan suka menonton “sinetron murahan”, dan harus gemar menonton kembali aksi Mak Lampir yang ditayangkan setiap malam di Televisi milik sendiri. Semoga.

Meratapi Asap, Doakan Mak Lampir Eksis Lagi di TV

Mak Lampir, tokoh legendaris yang menghiasi bioskop dan TV di Indonesia
Mak Lampir, tokoh legendaris yang menghiasi bioskop dan TV di Indonesia

RiauJOS.com, Editorial - Ketika Riau JOS melaporkan kondisi terakhir di Bumi Lancang Kuning, yaitu indeks kualitas udara di Dumai, Siak, Bengkalis dan Kepulauan Meranti tidak sehat, agaknya akan membahagiakan Mak Lampir.

Semua itu, bagi masyarakat tak jadi persoalan, asalkan Mak Lampir tidak lagi muncul di Sinetron seperti dulu lagi, ketika eksis di dunia televisi dan menakuti anak-anak di malam hari, Mak Lampir sudah insaf meng-asapi Provinsi Riau.

Padahal, ketika terjadi asap yang di produksi mak lampir secara berlebihan, bagi masyarakat, sudah tergambar betapa lingkungan di provinsi ini sudah mengindikasikan dalam kondisi yang tidak seimbang, atau dengan kata lain sudah terjadi kerusakan yang cukup serius.

Jika dicerna dan ditelan bulat-bulat seperti bakso, bahwa kawasan hutan dan lahan sudah bisa ditentukan titik-titik api dengan teknologi dan pemilik izin lahan yang terbakar pun sudah bisa ditentukan, tak lupa minta izin Mak Lampir di Gunung Merapi, dengan melakukan ritual bakar kemenyan lengkap dengan sesaji kesukaannya.

Hanya saja, persoalan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) ini tentu juga tergantung dari koordinasi dan Hubungan yang baik dengan Liaison Officer (LO) Mak Lampir yang tinggal tidak jauh dari lereng Gunung Merapi, perangkat peredam kemarahan Mak Lampir, yaitu perangkat video shooting, yang mampu dipimpin secara apik oleh Rumah Produksi yang berkualitas, terpusat dan terorganisasi dengan baik, dan tak boleh lupa memberikan sesaji secara rutin tiap bulan purnama tiba.

Apakah dengan minimnya reaksi masyarakat menyikapi kondisi Mak Lampir yang sekarang ini kurang eksis di sinetron televisi dengan jam tayang di malam hari, lantas membuat pemerintah tenang-tenang saja? Tentu tidaklah demikian. Hanya saja, sangat disayangkan kita tidak lagi mengidolakan Mak Lampir menjadi tontonan yang menghibur dan bikin ngeri,dan memperkenalkan ke-eksis-an Mak Lampir kepada anak-anak kita seperti dulu lagi.

Mungkin saja, kondisi politik dan pemerintahan sudah kehilangan kecintaan terhadap peran menakutkan Mak Lampir, untuk sama-sama menyadari dan bergerak, bahwa Mak Lampir harus diberikan kesempatan untuk tetap tampil dan eksis di televisi, lebih bagus lagi di angkat juga ke Layar Lebar secara kolosal, agar Mak Lampir Tidak lagi memproduksi asap berlebihan di Provinsi Riau yang kita cintai dan menakuti masyarakat yang bekerja dilahan. 

Sehingga, kejadian yang sudah mengkhawatirkan bagi kesehatan ini tetap tidak bisa direspon dengan baik.

Jika memang kondisinya seperti itu, ada baiknya kita berharap kembali kepada momentumkesuksesan Mak Lampir menghiasi layar kaca dan Gedung Bioskop di seluruh Provinsi Riau. 

Selain penyadaran ini penting, tanah Malayu saat ini secara beruntun akan menempatkanMak Lampir sebagai idola baru bagi remaja generasi penerus kita, pada Februari ini dan memilih Produser yang matang dalam mengelola Rumah Produksi Sinetron Mak Lampir dan mengangkat ke Layar Lebar di masa mendatang.

Paling tidak, kepada Gubernur Riau yang baru, disandarkan sebuah kebijakan untuk mengangkat Mak Lampir jadi sineas terbaik di Tahun 2014 nanti, yang mampu memberi respon cepat terhadap bencana asap yang terus di produksi Mak Lampri, kebijakan ini,mampu menjadi motor penggerak seluruh potensi di kabupaten kota untuk mengatasiproduksi Asap Berlebih yang terus dilakukan Mak Lampir, yang selalu terjadi saat bulan purnama.

Dan kepada masyarakat, meski sudah cenderung apatis terhadap bencana asap ini, tentu masih diharapakan untuk mau dan mampu memilih menetapkan Mak Lampir jadi Sineas terbaik, yang memiliki visi besar untuk menuntaskan semua masalah di Riau, terutama mengatasi masalah produktifitas Mak Lampir yang menghasilkan asap berlebih.

Kepada Produser Film televisi, Bioskop dan seluruh pemeran pembantu yang akan bertarung memperebutkan hati Mak Lampir, harus benar-benar menyadari bahwa asapyang diproduksi Mak Lampir sudah menjadi bencana akut yang harus dituntaskan.

Seminim-minim langkah kita, adalah mencintai Mak Lampir, menghindari kebiasaan suka menonton “sinetron murahan”, dan harus gemar menonton kembali aksi Mak Lampir yang ditayangkan setiap malam di Televisi milik sendiri. Semoga.